SUARA PALESTINA UNTUK KAUM MUSLIMIN "SUDAH SAATNYA KEMBALI KEPADA ISLAM"


Oleh: Alraiah
Penulis adalah anggota Kantor Media Hizb ut-Tahrir di tanah yang diberkati (Palestina) dan diterjemahkan oleh Gudang Opini

Keputusan yang diambil oleh sahabat Nabi, Al-Bara' bin Malik, saat perang Yamamah untuk terjun ke barisan musuh dengan melompat ke dalam benteng yang dilindungi oleh Musailamah Al-Kadzab dan pengikutnya, adalah keputusan yang sulit, bahkan tak terbayangkan oleh siapa pun untuk berani melakukannya.

Tindakan yang luar biasa itu menjadi kunci bagi pasukan Muslim untuk masuk ke benteng, yang memungkinkan mereka mengalahkan para murtadin dan menghancurkan ancaman yang hampir saja menggoyahkan keberadaan umat Islam. Kisah ini kemudian diabadikan dengan pepatah, 'ردة وليس لها أبو بكر' setiap kali umat Islam menghadapi fitnah besar.

Saat ini, kita berada dalam situasi yang mirip dengan masa tersebut. Kita membutuhkan orang-orang pemberani seperti Al-Bara' bin Malik, yang bertindak berani dan menjaga kepentingan umat Islam serta melindungi agama sebagaimana Abu Bakar.

Hari ini, Gaza telah mengambil keputusan yang sulit dan berani. Gaza menghantam entitas Yahudi, melukai wajahnya, dan menghancurkan mitos bahwa entitas tersebut tak terkalahkan, yang selama ini digunakan sebagai alasan oleh rezim-rezim untuk membenarkan pengkhianatan mereka dan ketidakmampuan mereka dalam menjalankan tugas membebaskan Palestina. Mitos ini juga dipromosikan oleh media yang mendukung rezim-rezim tersebut.

Peristiwa yang terjadi sejak 7 Oktober 2023 membuktikan bahwa entitas Yahudi adalah entitas yang lemah, rapuh, dan tidak mampu bertahan dalam pertempuran nyata. Jika bukan karena perlindungan dari rezim-rezim di sekitarnya dan dukungan tanpa batas dari Barat, serta berbagai faktor yang membuatnya tetap bertahan, entitas Yahudi tidak akan mampu bertahan selama 76 tahun di tanah yang diberkati ini (Palestina).

Untuk memahami masalah ini dengan benar, dan meskipun saya meyakini hal ini sudah jelas bagi mayoritas umat Islam, baik yang awam maupun yang paham, penting untuk mengingatkan agar kita bisa menata kembali prioritas kita dan menghapus kabut yang menghalangi pandangan kita.

Sebagaimana sahabat Al-Bara' bin Malik menjadi kunci untuk memasuki benteng Musailamah, menjadi palu yang menghancurkan gerbang benteng itu, sehingga pasukan Muslim dapat masuk dan membersihkan para murtadin, begitu pula Gaza hari ini menjadi kunci untuk memasuki entitas Yahudi, sebagai palu yang menghancurkan gerbang mereka.

Namun, ada perbedaan besar antara kedua situasi; Al-Bara' bin Malik yang memiliki pemimpin yang hanya menginginkan keridhaan Allah, tanpa memikirkan yang lain, dan di belakangnya ada pasukan yang hati mereka terpaut kepada Allah, serta kematian lebih mereka cintai daripada kehidupan dengan situasi Gaza hari ini.

Saat ini, Gaza berada dalam kondisi yang sangat rentan. Tanpa perlindungan, Gaza dihujani pengkhianatan yang menikam dari segala arah. Tidak ada pasukan yang membantu dan ikut berjuang membersamai keberanian para pahlawan Gaza, dan tidak ada pemimpin politik yang ikhlas dan bertakwa, yang menjadikan Al-Quran sebagai panduan hidup.

Sudah bukan rahasia lagi bagi kaum Muslimin tentang apa yang dilakukan oleh rezim-rezim yang memerintah di negeri-negeri Muslim, yang tidak hanya sekadar menjadi penonton atas genosida dan pembantaian yang dilakukan oleh Yahudi di Gaza selama bertahun-tahun, tetapi mereka bahkan tidak merasa malu akan hal itu. Mereka benar-benar membuktikan sabda Rasulullah ﷺ: 

عَنْ أَبيْ مَسْعُوْدٍ عُقْبَةَ بْنِ عَمْرٍو الأَنْصَارِيِّ البَدْرِيِّ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ: صلى الله عليه وسلّم (إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِ النُّبُوَّةِ الأُولَى إِذا لَم تَستَحْيِ فاصْنَعْ مَا شِئْتَ) رَوَاهُ اْلبُخَارِيّ
Dari Abu Mas’ud ‘Uqbah bin ‘Amr Al Anshari Al Badri radhiyallahu ‘anhu dia berkata: ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya termasuk perkara yang didapati oleh manusia dari perkataan nubuwwah (kenabian) yang pertama adalah jika engkau tidak malu maka berbuatlah sesukamu.” (HR. Al Bukhari No. 6120)

Rezim Mesir, misalnya, dengan bangga memperketat blokade Gaza, membangun tembok elektronik di atas dan di bawah tanah di perbatasan dengan Gaza. Setiap kali ada tindakan solidaritas dari militer atau masyarakat Mesir terhadap Gaza, rezim ini melakukan aksi penangkapan besar-besaran untuk menumpas setiap pergerakan sejak dini.

Bahkan, dengan cara yang sangat rendah dan memalukan, mereka memanfaatkan penderitaan rakyat Gaza untuk memeras uang jutaan maupun miliaran dolar, sebagai pajak tidak resmi bagi mereka yang ingin keluar dari Gaza melalui perbatasan Rafah. Bantuan kemanusiaan juga mereka tahan, menumpuk di perbatasan sampai rusak, atau sebagian isinya diambil, dipermainkan dan bahkan dijual.

Tentara Yahudi pun telah menginjak harga diri rezim Mesir ketika mereka menyerbu perbatasan di Rafah, menghancurkan pos perbatasan, dan menduduki jalur Salahuddin (Philadelphia). Namun, Mesir masih setia pada perjanjian Camp David yang penuh pengkhianatan!

Sementara itu, rezim Yordania yang menjaga perbatasan terpanjang dengan Palestina, dengan gigih menindas setiap manusia yang mencoba mendekati perbatasan tersebut, dan membuka wilayahnya untuk pangkalan militer Amerika yang melindungi entitas Yahudi yang menggunakan dalih serangan Iran pada April lalu.

Rezim Uni Emirat Arab tak kalah memalukan, baru-baru ini mereka menyediakan program hiburan bagi tentara Yahudi yang sedang berperang melawan Gaza!

Adapun rezim Arab Saudi, mereka bersiap-siap untuk memberikan hadiah berupa normalisasi hubungan dengan entitas Yahudi sebagai penghargaan atas kehancuran Gaza dan pembantaian rakyatnya!

Sedangkan rezim Iran, kita tidak berharap banyak dari mereka. Para pemimpin mereka telah menyatakan bahwa respons balasan mereka atas serangan kaum Yahudi akan datang pada waktu yang tepat, tetapi kita sudah paham dengan sandiwara mereka sebelumnya!

Gaza selama ini telah menjadi wadah dari hujah (argumen) bagi seluruh umat Islam. Karena itu, tidak ada lagi alasan untuk berdiam diri. Umat Islam harus sadar bahwa pembebasan Palestina hanya akan terwujud jika negeri-negeri muslim terbebas dari penguasa-penguasa zalim mereka.

Pelajaran berharga dapat kita ambil dari surat Al-Baqarah Ayat 246 yang menceritakan:

اَلَمْ تَرَ اِلَى الْمَلَاِ مِنْۢ بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ مِنْۢ بَعْدِ مُوْسٰىۘ اِذْ قَالُوْا لِنَبِيٍّ لَّهُمُ ابْعَثْ لَنَا مَلِكًا نُّقَاتِلْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۗ قَالَ هَلْ عَسَيْتُمْ اِنْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ اَلَّا تُقَاتِلُوْا ۗ قَالُوْا وَمَا لَنَآ اَلَّا نُقَاتِلَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَقَدْاُخْرِجْنَا مِنْ دِيَارِنَا وَاَبْنَاۤىِٕنَا ۗ فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقِتَالُ تَوَلَّوْا اِلَّا قَلِيْلًا مِّنْهُمْ ۗوَاللّٰهُ عَلِيْمٌ ۢبِالظّٰلِمِيْنَ
246. Tidakkah kamu perhatikan para pemuka Bani Israil setelah Musa wafat, ketika mereka berkata kepada seorang nabi mereka, “Angkatlah seorang raja untuk kami, niscaya kami berperang di jalan Allah.” Nabi mereka menjawab, “Jangan-jangan jika diwajibkan atasmu berperang, kamu tidak akan berperang juga?” Mereka menjawab, “Mengapa kami tidak akan berperang di jalan Allah, sedangkan kami telah diusir dari kampung halaman kami dan (dipisahkan dari) anak-anak kami?” Tetapi ketika perang itu diwajibkan atas mereka, mereka berpaling, kecuali sebagian kecil dari mereka. Dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang zalim.

Dari sini jelas terlihat jalan menuju pembebasan Palestina adalah melalui kepemimpinan politik yang membangun hubungan dengan rakyatnya berdasarkan aturan Islam dan menjadikan pembebasan Palestina sebagai prioritas utama, tidak ada jalan yang lain selain Islam.

Posting Komentar

0 Komentar