
Oleh: Siti Janna
Penulis Lepas
Akhir-akhir ini cuaca menjadi tak menentu. Saat panas terik, tiba-tiba hujan turun. Begitu pula sebaliknya. Pergantian musim menjadi tidak jelas. Di pelajaran sekolah dulu, musim hujan terjadi di bulan Oktober sampai Maret, dan musim kemarau terjadi di bulan April sampai September. Realitanya, musim apapun tetap panas dan turun hujan. Hal ini tak lepas dari krisis iklim yang dialami di Indonesia maupun di mancanegara.
Dikutip dari laman Kompas pada 16 Oktober 2025, faktor utama penyebab krisis iklim yang terjadi adalah aktivitas manusia (antropogenik) di sektor energi, industri, transportasi, dan deforestasi yang melepaskan gas rumah kaca secara masif.
Yang pertama adalah sektor energi dan industri. Penggunaan batu bara, minyak bumi, dan gas alam dalam pembangkit listrik melepaskan sejumlah besar CO2 (karbondioksida) ke atmosfer.
Juga, produksi bahan baku bangunan seperti semen, besi, baja, dan lain-lain, menggunakan energi dari bahan bakar fosil yang menghasilkan gas CO2 (karbondioksida).
Yang kedua adalah sektor transportasi. Kendaraan bermotor (sepeda motor, mobil, truk, pesawat, dan lain-lain) menjadi salah satu kebutuhan penting dalam memberikan kemudahan bagi manusia. Selain manfaat yang didapat, ternyata bahan bakar yang digunakan berasal dari olahan minyak bumi (bensin, solar, dan sebagainya), menjadikannya salah satu penyumbang emisi karbon terbesar secara global.
Yang ketiga adalah deforestasi. Penebangan hutan, baik secara ilegal maupun legal, nyatanya memberikan dampak buruk bagi iklim di bumi. Hutan sebagai penyerap karbon alami kehilangan fungsinya. Bukan hanya manusia, binatang-binatang yang hidup di dalamnya pun terkena dampaknya.
Deforestasi ini menyumbang sekitar 3,1 milyar metrik ton gas rumah kaca. Tak hanya penebangan liar, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) juga memperparah efek gas rumah kaca. (Kompas, 15/10/2025)
Krisis iklim ini memberikan dampak buruk di setiap aspek kehidupan dengan konsekuensi yang semakin parah. Baik di Indonesia maupun luar negeri.
Yang pertama, dampak bagi lingkungan. Meningkatnya suhu bumi menyebabkan gelombang panas di berbagai wilayah seperti di Indonesia. BMKG mencatat suhu rata-rata di siang hari mencapai 34°C-37°C. (Kompas, 16/10/2025)
Menyebabkan bencana alam melanda di berbagai wilayah. Hilangnya hutan sebagai penyerap karbon dan penyimpan cadangan air memicu banjir, tanah longsor, serta abrasi di wilayah pantai. Kekeringan panjang dan curah hujan ekstrem mengakibatkan pasang-surut air laut yang tidak menentu. Serta, kerusakan ekosistem alami (hutan, laut, dan sebagainya) tak hanya berdampak bagi manusia tetapi juga binatang yang hidup di dalamnya. Mereka kehilangan tempat tinggal dan sumber makanannya.
Yang kedua, dampak bagi manusia. Krisis iklim berimbas pada krisis pangan (gagal panen) dan kelangkaan air bersih (akibat kekeringan).
Timbul berbagai macam penyakit seperti demam berdarah karena meningkatnya populasi nyamuk, badan meriang (panas-dingin), penyakit pernapasan akut (ISPA), dan lain sebagainya. Hal ini juga berdampak pada kegiatan ekonomi masyarakat, sehingga meningkatkan kemiskinan dan ekonomi memburuk. Bahwa erat hubungannya antara kemiskinan dan perubahan iklim. (Kompas, 20/10/2025)
Krisis iklim ini tak lepas dari kebijakan-kebijakan yang dibuat manusia. Di mana kebijakan tersebut hanya menguntungkan sebagian pihak dan merugikan yang lainnya.
Solusi yang ditawarkan: yang pertama adalah hemat energi. Kita dituntut untuk bijak dalam menggunakan energi. Slogan-slogan seperti hemat listrik, hemat air, seolah menjadi angin lalu yang hanya dilakukan segelintir masyarakat dan tidak memberikan dampak yang nyata.
Yang kedua, bijak dalam menggunakan transportasi. Saat ini transportasi berbahan bakar fosil dialihkan ke bahan bakar listrik. Seolah-olah listrik adalah bahan bakar yang ramah lingkungan. Nyatanya, setiap baterai yang digunakan dalam kendaraan listrik justru sangat merusak lingkungan karena harus mengorbankan berhektar-hektar hutan.
Yang ketiga, arahan untuk pola hidup berkelanjutan. Pola hidup berkelanjutan ialah bijak dalam memilah sampah yang dikenal dengan rumus 3R (Reuse, Reduce, and Recycle). Reuse berarti menggunakan kembali barang yang tidak terpakai, seperti menggunakan kaleng bekas biskuit untuk wadah kerupuk. Reduce berarti mengganti barang yang digunakan, seperti membawa botol minuman sendiri sebagai pengganti botol minuman kemasan. Recycle berarti daur ulang sampah plastik menjadi barang lain yang memiliki nilai guna dan jual, seperti bungkus kopi dibuat menjadi tas belanja.
Solusi-solusi tersebut bersifat pragmatis (tidak menyeluruh). Sehingga, krisis iklim ini terus terjadi dan semakin parah. Kebijakan-kebijakan yang dibuat tidak menyentuh akar permasalahan yang sebenarnya.
Di dalam Islam, salah satu tujuan diciptakannya manusia adalah sebagai khalifah di bumi. Seperti dalam firman-Nya:
وَإِذۡ قَالَ رَبُّكَ لِلۡمَلَـٰٓئِكَةِ إِنِّى جَاعِلٌ فِى ٱلۡأَرۡضِ خَلِيفَةًۖ قَالُوٓاْ أَتَجۡعَلُ فِيهَا مَن يُفۡسِدُ فِيهَا وَيَسۡفِكُ ٱلدِّمَآءَ وَنَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَۖ قَالَ إِنِّىٓ أَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُونَ
"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”" (QS. Al-Baqarah:30).
Manusia sebagai khalifah seharusnya menjaga dan memelihara segala sesuatu yang ada di bumi (sumber daya alam) dengan bijaksana dan sebaik-baiknya. Membuat kebijakan berdasarkan syariat bukan sekadar keuntungan materi semata. Di mana kebijakan itu mampu melindungi semua makhluk di bumi, bukan hanya manusia, tetapi tumbuhan dan binatang pun terjaga.
Sistem sekuler yang dianut sebagian besar negara yang ada, melahirkan kebijakan yang justru bukannya melindungi tapi merusak.
Allah ﷻ telah memperingatkan manusia dalam firman-Nya:
ظَهَرَ ٱلۡفَسَادُ فِى ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِ بِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِى ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعۡضَ ٱلَّذِى عَمِلُواْ لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُونَ
"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (QS. Ar-Rum:41).
Sebagai manusia yang diberikan keistimewaan akal, seharusnya kita bisa melaksanakan tugas sebagai khalifah di bumi dengan sebaik-baiknya. Memanfaatkan alam tanpa merusak keseimbangannya. Mengambil keuntungan tanpa merugikan yang lainnya.
Notes: Krisis iklim bisa diubah dengan kembali pada aturan yang sebenarnya, yaitu aturan Islam yang berasal dari Allah ﷻ. Maka pemangku jabatan tidak seharusnya membuat kebijakan berdasarkan hawa nafsu atau kepentingan semata, tapi berdasarkan syariat-Nya. Sehingga bisa mewujudkan tujuan manusia sebagai khalifah di bumi.
Wallahu a'lam bishshawab

0 Komentar