JERITAN MUSLIM SUDAN MEMANGGIL PERSATUAN UMAT


Oleh: Naira Imani
Santriwati PPTQ Darul Bayan Sumedang

Baru-baru ini, publik digemparkan dengan kabar yang sangat menyayat hati dan membuat sebagian orang sadar bahwa bukan Gaza saja yang sedang menderita, tetapi ada negara-negara lain juga yang sedang mengalami penderitaan, salah satunya adalah kabar dari benua Afrika, yakni negara Sudan. Saat ini, Sudan sedang mengalami perang saudara, yaitu konflik antara Jenderal Abdel Fattah Al-Burhan dari militer Sudan (SAF) dan Letjen Mohamed Hamdan Dagalo dari Pasukan Rapid Support Forces (RSF), yang menyebabkan perang besar di sejumlah wilayah dan ribuan masyarakatnya tewas dan luka-luka. Bahkan sebagian dari mereka juga tidak memiliki tempat tinggal yang layak.

Kejadian ini dimulai pada bulan April 2023, ketika pihak SAF dan RSF berseteru karena perebutan kekuasaan. Perang besar terjadi dan berubah menjadi pembantaian terhadap warga sipil. Namun di balik perang dan konflik yang sedang berkecamuk, saat ini ada peran asing (Barat) yang sangat berpengaruh, yaitu Amerika Serikat (AS). AS selalu berupaya mengadu domba rakyat Sudan, dengan tujuan untuk mempermudah menjalankan kepentingan mereka sambil menguras kekayaan alam Sudan.

Sudan adalah negara yang memiliki kekayaan alam luar biasa. Di antaranya, Sudan memiliki cadangan minyak dan emas. Di kawasan dengan minyaknya, Sudan memiliki lebih dari 3 miliar barel, sedangkan untuk cadangan emasnya mencapai 1.550 ton. Di samping itu, Sudan juga memproduksi getah arab (gum arabic), dan di Gunung Nuba, Sudan memiliki cadangan uranium.

Sudah sangat jelas bahwa Sudan adalah negara yang memiliki kekayaan sangat berlimpah. Dengan kekayaan yang dimilikinya, Sudan menjadi target Barat, karena Sudan bisa memenuhi rencana jahat AS, di antaranya:
  • Membersihkan sisa-sisa pengaruh Inggris di Sudan, baik secara politik maupun militer.
  • Membentuk kekuatan politik bersama Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), dan Mesir untuk mencegah masuknya pihak asing dalam menangani konflik Sudan.
  • Memecah belah Sudan serta memelihara konflik agar terus berlangsung supaya Sudan melemah dan mudah dikuasai.
  • AS mempunyai kepentingan politik di Sudan, yakni menghentikan kebangkitan Islam yang bisa menjadi ancaman atas penjajahan mereka di sana.

Dari berbagai tujuan AS dan rencana jahatnya untuk melangsungkan konflik, bisa kita simpulkan bahwa AS sangat berambisi untuk menjadi satu-satunya negara terkuat untuk menjalankan misinya ini. AS akan melakukan segala cara untuk mencapainya, dan AS juga ingin membuat negara-negara Muslim semakin terpecah belah, karena mereka takut ketika umat Muslim bersatu, maka akan muncul sebuah institusi Islam global (Khilafah) yang akan menjadi perisai umat Muslim dan menjadi sebuah ancaman besar bagi negara-negara kafir penjajah.

Maka dari itu, umat Muslim harus sadar dan membuka mata dengan apa yang terjadi di belahan dunia sana. Setelah Myanmar, Uyghur, India, dan Gaza, kini Sudan menyusul menjadi kawasan penderitaan umat. Di balik itu, AS sangat senang dengan apa yang terjadi saat ini, mereka menari-nari di atas darah kaum Muslim. Padahal, tidak ada nyawa yang paling mahal nilainya di sisi Allah ï·» selain nyawa seorang mukmin. Nabi Muhammad ï·º bersabda:

Ù„َزَÙˆَالُ الدُّÙ†ْÙŠَا Ø£َÙ‡ْÙˆَÙ†ُ عِÙ†ْدَ اللهِ Ù…ِÙ†ْ Ù‚َتْÙ„ِ رَجُÙ„ٍ Ù…ُسْÙ„ِÙ…ٍ
"Hancurnya dunia ini lebih ringan bagi Allah daripada pembunuhan seorang mukmin tanpa haq." (HR. an-Nasâ`i (VII/82), dari ‘Abdullah bin ‘Amr. Diriwayatkan juga oleh at-Tirmidzi)

Sedihnya, para pemimpin Muslim saat ini malah bekerja sama dengan negara-negara Barat penjajah untuk membunuh kaum Muslim. Ya, mereka malah mendukung tindakan jahat AS.

Di Sudan, sama seperti yang mereka lakukan terhadap Gaza. Padahal, seharusnya para pemimpin Muslim inilah yang harusnya menjadi pemimpin yang pertama mengulurkan tangan memberi bantuan kepada negeri-negeri Muslim yang sedang terjajah, bukan malah bekerja sama.

Semua penderitaan yang dialami umat Muslim saat ini dan bobroknya para pemimpin Muslim sejatinya tidak akan terjadi jika umat masih memiliki pelindung yang ditakuti oleh para penjajah, yakni Khilafah Islam. Oleh karena itu, ketiadaan Khilafah telah menyebabkan rangkaian penderitaan umat seolah tanpa akhir. Herannya, umat masih saja berharap kepada pihak asing yang sebenarnya menjadi penyebab penderitaan umat. Padahal, satu-satunya cara untuk menghentikan penderitaan ini adalah dengan membangun institusi Islam global, yakni Khilafah, dan mengangkat seorang Khalifah yang akan melindungi umat sedunia dari ancaman dan penderitaan. Maka dari itu, sadarlah wahai umat Muslim, sudah saatnya kita berkumpul dalam naungan Islam, karena dengan itu kehormatan agama dan umat ini dapat terjaga.

Wallahu a'lam bis-shawab.

Posting Komentar

0 Komentar