
Oleh: Imelda Inriani, S.P.
Penulis Lepas
Sudan adalah salah satu negara terbesar di Afrika yang berbatasan dengan tujuh negara, yaitu Afrika Tengah, Sudan Selatan, Chad, Mesir, Eritrea, Etiopia, dan Libya. Sudan juga merupakan produsen emas terbesar di dunia Arab. Penambangan emas terkonsentrasi di Sungai Nil, wilayah utara, dan Laut Merah, yang menjadi pusat utama produksi logam mulia di negara ini. Perdagangan emas di Sudan bernilai miliaran dolar setiap tahun dan melibatkan jaringan yang kompleks, termasuk kelompok bersenjata, pedagang, dan penyelundup.
Produksi emas Sudan mencapai 80 ton per tahun secara stabil sebelum perang. Ada penurunan selama perang berlangsung, namun laporan terakhir hingga pertengahan tahun 2025, produksi emas negara ini mencapai 37,3 ton, dan ini merupakan peningkatan yang luar biasa dari tahun-tahun sebelumnya.
Namun, di samping itu, negara ini juga dikenal dengan situasi keamanannya yang tidak stabil, yakni pertempuran di Khartoum (Sudan bagian utara) serta perang saudara terpanjang di Afrika yang berlangsung selama 22 tahun (1983–2005). Perang tersebut adalah perang kedua setelah tahun 1995 dan sekarang perang saudara di Sudan memasuki tahun ketiga yang melibatkan Tentara Sudan dan RSF (Rapid Support Forces).
Kondisi kemanusiaan di El-Fasher, ibu kota negara bagian Darfur Utara (Sudan bagian barat), semakin mengkhawatirkan setelah lebih dari 62.000 warga mengungsi dalam waktu empat hari terakhir, yakni pada 26–29 Oktober. Organization for Migration (IOM) menyebutkan bahwa sebanyak 62.263 warga meninggalkan El-Fasher dan wilayah sekitarnya setelah kota ini direbut oleh RSF.
Krisis ini disertai dengan kekurangan pangan, air bersih, dan tempat berteduh yang layak. Bahkan tidak sedikit para pengungsi yang tiba di pengungsian dalam kondisi sulit. Hal ini diperparah dengan banyaknya kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia. RSF diduga melakukan pembunuhan massal, penahanan sewenang-wenang, pemerkosaan, hingga serangan terhadap fasilitas medis di wilayah yang semula dikepung (Mina News, 13/11/2025).
Korban jiwa serangan kelompok milisi RSF di Sudan dilaporkan terus melonjak. Angka kematian dilaporkan mencapai 1.500 orang dalam tiga hari belakangan. Aljazirah melaporkan, puluhan orang tewas dalam serangan RSF ketika mereka baru-baru ini merebut kota El-Fasher di wilayah Darfur barat Sudan, menurut kelompok medis dan peneliti.
RSF, yang berperang melawan militer Sudan untuk menguasai negara itu, menewaskan sedikitnya 1.500 orang selama tiga hari terakhir ketika warga sipil mencoba melarikan diri dari kota yang terkepung, Jaringan Dokter Sudan mengatakan pada hari Rabu (Republika, 30/10/2025).
Krisis di Sudan telah menyeret beberapa nama negara yang diduga telah lama terlibat dalam berbagai konflik, di antaranya UEA, Saudi, Mesir, bahkan Zionis Israel. Misalnya, UEA yang menjadi negara tujuan utama penyelundupan emas oleh milisi yang kemudian disalurkan ke pasar global. Hal tersebutlah yang membuat Dubai terkenal sebagai pusat perdagangan emas terbesar di dunia. Lalu sebagai balasannya, UEA memasok senjata kepada RSF melalui Chad dan Libya.
Inggris, sebagai negara yang mendukung kapitalisme, sangat terlihat kerakusannya terhadap sumber daya alam Sudan yang melimpah, seperti minyak bumi, gas alam, dan emas. Selain itu, sektor pertanian Sudan juga sangat menguntungkan, dengan hasil seperti kapas, wijen, sorgum, dan milet. Tak heran jika banyak yang menyebut Sudan sebagai "Keranjang Makanan" Afrika.
Namun, setelah Perang Dunia II, PBB sepakat untuk mengakhiri penjajahan dan meminta Inggris memerdekakan semua wilayah yang dijajahnya. Akibatnya, penjajahan fisik berubah menjadi penjajahan dalam bentuk politik dan ekonomi, yang dilakukan melalui penguasa boneka yang dipasang oleh Inggris.
Ketika Sudan dimerdekakan pada tahun 1956, struktur pemerintahannya didominasi oleh elit dari Sudan Utara yang memang dinilai lebih siap daripada Sudan Selatan, sehingga kebijakan kolonial ini lah yang menciptakan ketegangan, yang sebenarnya merupakan skenario Inggris untuk melancarkan segala upaya penjajahan. Hal ini kemudian menciptakan perpecahan yang dinarasikan sebagai “Perang Saudara” di Sudan.
Belum lagi, Amerika Serikat (AS) juga ikut berperan dalam memperkuat pengaruh ekonomi dan politik di Sudan serta di kawasan Timur Tengah. Hal ini didorong oleh kepentingan nasional AS, seperti kebutuhan mereka akan minyak bumi dari Sudan Selatan, serta kepentingan lainnya.
AS sering kali melakukan intervensi dengan alasan mendukung transisi menuju demokrasi di Sudan dan berusaha membangun pemerintahan sipil sebagai simbol keberhasilan demokratisasi. Namun, kenyataannya, perang masih terus berlangsung di Sudan, yang membuktikan bahwa upaya AS tidak memberikan solusi atas masalah yang ada di negara itu.
Oleh sebab itu, sebagaimana skenario pemisahan Sudan Selatan dari utara, target konflik ini adalah memecah lagi wilayah Sudan yang tersisa dengan garis timur dan barat, sehingga wilayah Darfur (Sudan bagian barat) terpisah dari Khartoum (Sudan Utara). Dengan cara ini, tentu akan makin lemahlah persatuan umat Islam, makin mudah pula penjajahan, serta makin mudah mengeliminasi potensi Islam yang masih kuat di Sudan.
Sungguh, jika kita meneliti dengan mendalam bagaimana kondisi Sudan, sangat terlihat bagaimana permainan Barat dalam krisis ini. Sumber kekayaan alam serta darah kaum Muslimin seolah menjadi bahan santapan enak bagi para kafir penjajah dan antek-anteknya.
Umat Muslim harus lebih sadar dan waspada terhadap berbagai taktik yang dilakukan oleh penjajah Barat. Baik itu berupa upaya untuk merusak pemikiran umat Muslim atau melalui eksploitasi sumber daya alam yang melimpah di negara-negara Muslim. Kita tidak bisa membiarkan hal ini terus berlangsung tanpa ada perlawanan. Penjajahan dalam bentuk apapun (baik itu fisik, politik, maupun ekonomi) harus dihentikan dengan kesadaran kolektif umat Islam.
Umat Islam harus bangkit, bersatu, dan dengan semangat memperjuangkan keadilan serta menyuarakan kebusukan rencana penjajahan Barat. Kita perlu menerapkan sistem hidup yang berdasarkan Islam dalam segala aspek kehidupan, termasuk politik, ekonomi, dan pengelolaan sumber daya alam. Hanya dengan cara ini, umat Islam akan mampu melindungi negeri-negeri mereka dari kerakusan Barat yang terus berusaha menguasai segala sumber daya yang ada.
Kerakusan Barat ini pada akhirnya hanya akan mendatangkan kesengsaraan dan penderitaan bagi umat Islam, sebagaimana yang telah kita lihat dalam tragedi-tragedi seperti yang terjadi di Sudan. Sudah saatnya umat Islam kembali kepada sistem yang telah Allah syariatkan, yakni Islam Kaffah di bawah naungan Khilafah, untuk menjaga kemakmuran dan kesejahteraan umat di dunia dan akhirat. Dengan bersatu dan teguh dalam prinsip-prinsip Islam, kita bisa mencegah penjajahan lebih lanjut dan mewujudkan kehidupan yang adil dan berkeadilan bagi semua.
Wallahu a'lam bissawab.

0 Komentar