SUDAN MEMBARA, SDA MELIMPAH RAKYAT TERSINGKIR


Oleh: Elsa Nurraeni
Penulis Lepas

Sudan kembali menjadi sorotan dunia. Negeri Muslim di jantung Afrika itu kini dilanda konflik berdarah antara militer Sudan (SAF) dan Pasukan Dukungan Cepat (RSF) sejak tahun 2023. Pertempuran ini telah menewaskan puluhan ribu orang dan memaksa jutaan warga meninggalkan rumah mereka. Kota-kota besar seperti Khartoum hancur, ekonomi lumpuh, dan rakyat hidup dalam ketakutan serta kelaparan.

Dilansir dari Antara, Amerika Serikat (AS), Rabu (12/11), mendesak pihak-pihak yang bertikai di Sudan untuk segera menyepakati dan melaksanakan gencatan senjata kemanusiaan setelah jumlah korban sipil dinilai telah mencapai tingkat “malapetaka besar”. Seruan ini disampaikan di tengah peringatan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bahwa situasi kemanusiaan di Sudan terus memburuk, sementara lembaga-lembaga bantuan melaporkan akses ke wilayah terdampak masih sangat terbatas akibat pertempuran yang berkepanjangan.

Konflik antara militer Sudan dan RSF yang pecah sejak April 2023 telah menewaskan sedikitnya 40.000 orang dan membuat sekitar 12 juta lainnya kehilangan tempat tinggal. Bulan lalu, RSF merebut wilayah Darfur Utara, El-Fasher, dan dituduh melakukan pembantaian massal. Kelompok ini kini menguasai seluruh lima negara bagian di wilayah Darfur dari total 18 negara bagian Sudan, sementara militer masih memegang kendali atas 13 negara bagian lainnya, termasuk Khartoum.

Sedikit yang diketahui publik, Sudan sejatinya merupakan salah satu negara terkaya di Afrika. Negeri ini memiliki cadangan emas, minyak, gas alam, dan lahan pertanian yang sangat luas di sepanjang Sungai Nil. Letaknya yang strategis di pesisir Laut Merah menjadikan Sudan sebagai incaran banyak negara besar.

Di balik tragedi kemanusiaan tersebut, konflik Sudan bukan semata persoalan perebutan kekuasaan internal, melainkan juga sarat kepentingan global yang menargetkan kekayaan alamnya. Negara-negara Barat seperti Amerika Serikat dan Inggris datang membawa jargon bantuan kemanusiaan dan misi perdamaian, namun di balik itu tersimpan kepentingan ekonomi dan politik.

Mereka ingin memastikan siapa pun yang berkuasa di Sudan tetap sejalan dengan kepentingan mereka. Di sisi lain, Rusia dan Tiongkok pun tidak tinggal diam. Keduanya memanfaatkan celah konflik untuk memperoleh akses tambang dan pelabuhan strategis. Akhirnya, Sudan tidak lagi sepenuhnya berdaulat atas dirinya sendiri ia berubah menjadi papan catur bagi kekuatan dunia.

Lembaga-lembaga internasional pun tidak sepenuhnya netral. Aturan dan resolusi yang mereka buat kerap menjadi alat legitimasi bagi kepentingan Barat untuk melanggengkan hegemoni atas negeri-negeri Muslim. Dalam balutan narasi kemanusiaan, terselip motif ekonomi dan politik yang sarat kepentingan. Akibatnya, Sudan (seperti banyak negeri Muslim lainnya) terus menjadi objek eksploitasi dan kehilangan kedaulatan sejatinya.

Inilah realitas pahit dunia Islam hari ini. Kekayaan alam yang seharusnya menjadi sumber kemakmuran umat justru berubah menjadi alat penjajahan model baru. Sistem politik sekuler yang diterapkan di berbagai negeri Muslim telah memisahkan agama dari kehidupan, menjadikan para penguasa tunduk pada tekanan asing, serta membuka jalan bagi dominasi kepentingan Barat.

Tragedi Sudan seharusnya menjadi cermin bagi umat Islam di seluruh dunia. Sudah saatnya umat menaikkan level pemahamannya bukan sekadar melihat konflik ini sebagai persoalan kemanusiaan atau politik lokal, tetapi sebagai bagian dari perang ideologi antara Islam dan sekularisme Barat. Selama umat Islam terus memandang persoalan ini secara parsial, solusi sejati tidak akan pernah ditemukan.

Umat Islam perlu memahami bahwa hanya sistem Islam, yaitu Khilafah, yang mampu memberikan solusi menyeluruh bagi berbagai krisis dunia, termasuk tragedi di Sudan. Dalam sistem ini, kebijakan luar negeri dijalankan untuk menyebarkan nilai Islam serta menjaga umat melalui dakwah dan jihad, bukan demi keuntungan ekonomi atau perebutan kekuasaan. Sumber daya alam pun dikelola secara adil untuk kepentingan seluruh rakyat, bukan dikuasai segelintir elite atau pihak asing.

Rasulullah ﷺ bersabda:

اَلْمُسْلِمُوْنَ شُرَكَاءُ في ثلَاَثٍ فِي الْكَلَإِ وَالْماَءِ وَالنَّار
Kaum Muslim berserikat dalam tiga hal: air, padang rumput, dan api.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah)

Khilafah akan menyatukan negeri-negeri Muslim yang kini tercerai-berai. Persatuan umat di bawah satu kepemimpinan akan menjadi kekuatan besar untuk melawan hegemoni negara-negara Barat yang selama ini menindas dan mengeksploitasi dunia Islam.

Sudah saatnya umat Islam bangkit, menyadari hakikat konflik yang sesungguhnya, dan menempuh jalan perubahan hakiki dengan menegakkan kembali sistem Islam secara kaffah di bawah naungan Khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah. Hanya dengan itulah kekayaan alam Sudan dan negeri-negeri Muslim lainnya dapat menjadi sumber keberkahan, bukan sumber petaka.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Posting Komentar

0 Komentar