ADAB YANG TERKIKIS DI ERA DIGITAL: ANTARA MEDIA SOSIAL, PENDIDIKAN KARAKTER, DAN AMANAH PERADABAN


Oleh: Diaz
Jurnalis dan Pengamat Sosial

Suatu sore di ruang kelas, seorang guru mencoba menegur muridnya yang sibuk menatap layar gawai. Teguran itu tidak dibalas dengan permintaan maaf, melainkan dengan raut wajah datar dan gumaman singkat tanpa menatap lawan bicara. Adegan seperti ini kian jamak ditemui, bukan sebagai pengecualian, melainkan sebagai gejala sosial yang berulang. Di sinilah pertanyaan tentang adab, kesantunan, dan arah peradaban generasi muda menemukan urgensinya.

Fenomena merosotnya tata krama di kalangan generasi muda menjadi perhatian serius Dr. Nurul Zuriah, M.Si., dosen Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Universitas Muhammadiyah Malang. Menurutnya, degradasi etika tidak lahir dari satu sebab tunggal, melainkan dari akumulasi faktor struktural dan kultural yang saling berkelindan. Media sosial dengan arus informasinya yang masif menjadi salah satu pemicu utama, diperparah oleh lemahnya kontrol orang tua, minimnya pendidikan etika yang sistematis, menguatnya budaya konsumtif, kelangkaan figur teladan, serta percepatan perubahan teknologi dan gaya hidup.


Media Sosial sebagai Agen Sosialisasi Baru

Dalam kehidupan remaja hari ini, media sosial tidak lagi sekadar sarana hiburan, tetapi telah menjelma sebagai ruang pembelajaran sosial. Platform seperti TikTok dan Instagram membentuk cara berkomunikasi, mengekspresikan pendapat, bahkan menentukan batas-batas kepantasan. Berbagai kajian mutakhir menunjukkan adanya keterkaitan antara intensitas paparan konten daring dengan perubahan sikap sopan santun dan adab remaja. Bahasa kasar, kritik berlebihan, dan provokasi mudah dinormalisasi ketika tidak disertai pembatasan etika dan dialog reflektif.

Namun demikian, hubungan antara media sosial dan degradasi adab bersifat multidimensional. Media bukan penyebab tunggal, melainkan katalis yang mempercepat pembentukan perilaku (baik positif maupun negatif) tergantung pada ekosistem nilai yang melingkupinya. Lingkungan keluarga, sekolah, dan budaya setempat menjadi variabel penentu apakah media sosial akan menjadi sarana pembelajaran etis atau justru ruang reproduksi ketidaksantunan.


Pendidikan dan Keluarga: Dua Pilar yang Tak Terpisahkan

Dr. Nurul menegaskan bahwa keluarga dan institusi pendidikan memegang peran strategis dalam pembentukan karakter generasi muda. Keduanya tidak dapat berjalan sendiri-sendiri. Sekolah dapat merancang pengajaran etika dan nilai sosial secara terintegrasi ke dalam kurikulum melalui mata pelajaran, seminar, maupun forum berbagi pengalaman positif. Pendidikan karakter yang memuat nilai kesopanan, empati, kerja sama, dan integritas perlu dirancang secara sistematis, bukan sekadar slogan normatif.

Lebih jauh, pembahasan isu-isu moral kontemporer dapat dijadikan wahana melatih berpikir kritis, khususnya dalam menghadapi dilema etika di ruang digital. Pelatihan keterampilan sosial (seperti komunikasi efektif, manajemen konflik, dan kerja sama) menjadi bekal penting agar peserta didik mampu berinteraksi secara dewasa di dunia nyata maupun maya.

Di sisi lain, keluarga tetap menjadi madrasah pertama. Orang tua dituntut tampil sebagai teladan utama dalam bertutur dan bersikap. Keteladanan tidak dapat digantikan oleh nasihat verbal semata. Komunikasi yang terbuka perlu dibangun agar anak memiliki ruang berdialog tentang persoalan moral dan etika yang mereka temui, termasuk dari media digital. Pengawasan terhadap konten dan durasi penggunaan gawai bukanlah bentuk pengekangan, melainkan upaya perlindungan nilai.


Adab dalam Perspektif Islam: Fondasi Kepribadian dan Peradaban

Dalam Islam, persoalan adab bukan sekadar norma sosial, melainkan bagian dari hukum syarak dan akhlak yang menentukan kemuliaan manusia. Doa yang kerap dipanjatkan orang tua “Ya Rabbana, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami) dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa” mencerminkan harapan agar anak tumbuh sebagai pribadi yang menenteramkan, bukan hanya cerdas secara intelektual.

Rasulullah ï·º menegaskan:

عن ابن عباس عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال Ø£َÙƒْرِÙ…ُÙˆْا Ø£َÙˆْÙ„َادَÙƒُÙ…ْ ÙˆَØ£َØ­ْسِÙ†ُÙˆْا آدَابَÙ‡ُÙ…ْ رواه ابن ماجه
Dari sahabat Abdullah bin Abbas ra, dari Rasulullah ï·º bersabda, ‘Muliakanlah anak-anakmu, perbaikilah adab mereka,’” (HR Ibnu Majah)

K.H. Hasyim Asy’ari dalam Adabul ‘Alim wal Muta’allim mengingatkan bahwa hak anak atas orang tuanya mencakup adab yang baik, selain nama dan pengasuhan. Pesan ini menegaskan bahwa adab bukan pelengkap, melainkan fondasi utama pembentukan kepribadian.

Islam memandang fase kanak-kanak sebagai masa paling strategis untuk menanamkan akidah, akhlak, dan adab. Fitrah yang masih lentur memungkinkan nilai-nilai itu tertanam kuat jika diarahkan dengan benar. Penanaman akidah yang kokoh, kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya, serta pembiasaan perilaku santun menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan.


Integrasi Literasi Digital dan Pendidikan Karakter

Dalam konteks kekinian, penguatan adab tidak cukup dilakukan melalui pendekatan moral konvensional. Literasi digital harus diintegrasikan dengan pendidikan karakter. Remaja perlu dibekali kemampuan memilah informasi, menghormati perbedaan pendapat, serta mengelola konflik secara sehat di ruang daring. Sekolah dapat memasukkan indikator evaluasi adab digital dalam kurikulum, sementara keluarga memperkuatnya melalui keteladanan dan dialog rutin.

Berbagai penelitian yang menggunakan survei, wawancara, hingga analisis konten komentar daring menunjukkan bahwa pendidikan karakter dan literasi digital berfungsi sebagai faktor moderasi yang signifikan (cek referensi di bawah). Dengan pendekatan terpadu, dampak negatif media sosial dapat diredam, sementara potensi positifnya dimaksimalkan.


Menjaga Adab sebagai Amanah Zaman

Pada akhirnya, persoalan adab generasi muda adalah persoalan peradaban. Tanpa adab, ilmu kehilangan cahaya; dengan adab, ilmu yang sedikit pun mampu memuliakan pemiliknya. Penguatan adab menuntut sinergi antara keluarga, sekolah, komunitas, dan kebijakan institusional. Ia bukan kerja instan, melainkan proses panjang yang menuntut konsistensi dan keteladanan.

Di tengah derasnya arus digital, menjaga adab berarti menjaga arah. Bukan dengan menolak teknologi, melainkan dengan menundukkannya pada nilai. Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang dimuliakan melalui ilmu dan adab, serta dianugerahi generasi yang bukan hanya cakap menghadapi zaman, tetapi juga mampu menjaga martabatnya. Aamiin~


Referensi:
  • https://suryamalang.tribunnews.com/2023/09/04/medsos-jadi-penyebab-hilangnya-kesopanan-dan-etika-pada-anak-anak
  • https://muslimahnews.net/2024/06/22/30409/
  • https://jerkin.org/index.php/jerkin/article/view/1662
  • https://arl.ridwaninstitute.co.id/index.php/arl/article/view/2984
  • https://diksima.pubmedia.id/index.php/diksima/article/view/19
  • https://jurnal.dharmawangsa.ac.id/index.php/junetmedia/article/view/667
  • https://journal.unusia.ac.id/mozaic/article/download/133/89/335

Posting Komentar

0 Komentar