
Oleh: Muhar
Penulis Lepas
Cendekiawan Muslim Ustadz Muhammad Ismail Yusanto (UIY) menyoroti arah penggunaan energi umat dalam refleksi akhir tahun 2025. Menurutnya, selama ini energi umat justru banyak dihabiskan untuk hal-hal yang bersifat reaktif, teknis, dan solusi tambal sulam, padahal sistem yang dijalankan sudah rusak.
“Kemana selama ini energi kita dialokasikan? Kita harus mengakui bahwa sangat banyak energi kita habis untuk hal-hal reaktif, teknis, dan tambal sulam. Kita sibuk mengakali sistem, padahal sistemnya sendiri sudah rusak,” ujarnya dalam video bertajuk “Refleksi Akhir Tahun 2025: Energi, Akar Masalah” di kanal YouTube UIY Official, Rabu (31/12/2025).
UIY menyampaikan bahwa akhir tahun selalu datang membawa dua hal: pertama, angka baru di kalender, kedua, harapan baru di kepala.
Namun demikian, ia mengingatkan agar masyarakat bersikap jujur terhadap kondisi yang ada.
“Kerusakan yang disaksikan hari ini dalam ekonomi, politik, sosial, budaya, bahkan kemanusiaan, tidak mungkin tiba-tiba menjadi baik hanya karena kita mengganti tahun,” katanya.
Terkait kondisi tersebut, UIY menegaskan bahwa Al-Qur’an telah lama mengingatkan manusia, sebagaimana disebutkan dalam Surah Ar-Ra’d ayat 11.
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri,” kutipnya.
UIY menjelaskan bahwa yang dimaksud dalam ayat tersebut tidak lain adalah perubahan pada cara berpikir atau perspektif manusia.
“Nah, perubahan dari rusak menuju keberkahan harus dimulai dari cara berpikir. Karenanya, dari kemampuan akal untuk melihat fakta darinya, lalu menemukan solusi yang benar. Bukan solusi yang seolah-olah benar, alias solusi semu,” terangnya.
Ia juga menekankan pentingnya ketakwaan sebagai fondasi utama perubahan.
“Dari situlah takwa menjadi sangat penting, karena takwa inilah yang semestinya menjadi basis dari semua hal,” ujarnya.
Lebih lanjut, UIY menyampaikan bahwa perubahan sejati menuntut adanya cara pandang yang mendasar.
“Yang dibutuhkan adalah perspektif filosofis fundamental, yaitu cara pandang yang mampu meneropong persoalan sampai ke dasar tentang hidup, tujuan, nilai, dan arah yang mesti kita tuju,” ungkapnya.
Menjelang berakhirnya tahun 2025 dan memasuki 2026, UIY menegaskan bahwa perspektif fundamental tersebut seharusnya benar-benar dijadikan bekal dalam melangkah ke depan.
“Karena faktanya, semua melihat, berapa kali pun tahun berganti, selama umat tak menggunakan perspektif ini, keterpurukan tak akan berhenti bahkan cenderung semakin buruk,” bebernya.
“Mengapa? Logikanya sederhana saja, janganlah atau tak mungkinlah kita berharap hasil yang berbeda kalau cara yang ditempuh itu sama,” pungkasnya.

0 Komentar