
Oleh: Desi
Penulis Lepas
Jumlah korban jiwa banjir bandang dan tanah longsor di tiga provinsi di Sumatera kembali bertambah. Berdasarkan pendataan per Jum'at, 9 Januari 2026, total korban jiwa bencana di Sumatera mencapai 1.182 orang.
“Untuk korban hilang ini sudah kita terus validasi dan sesuaikan per hari ini menjadi 145 jiwa,” kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari seperti dikutip Kompas pada Jum'at, 9 Januari 2026. “Dan korban mengungsi saudara kita yang masih mengungsi itu 238.627 jiwa,” ungkap Abdul.
Jumlah korban yang terus bertambah bukan sekadar angka, tetapi nyawa berharga yang menghilang dari keluarga terkasih. Bukan sekadar ditinggal, status pun berubah menjadi janda, duda, yatim, piatu, atau bahkan sebatang kara karena seluruh keluarganya ikut menjadi korban. Begitulah ketika bencana datang menyapu daratan, ia akan menerjang siapa saja tanpa pandang bulu.
Setelah air surut, setelah panik mereda, semuanya belum berakhir. Duka masih menyelimuti mereka. Teriakan tolong mungkin sudah tidak lagi terdengar, tetapi jeritan derita dalam hati mereka memekakkan telinga siapa pun yang memiliki empati. Rumah sudah rata dengan tanah. Harta benda hanyut entah ke mana. Yang ada di hadapan mereka adalah gelondongan-gelondongan kayu yang katanya sudah rapuh, kemudian tumbang sendiri. Namun, potongannya rapi, bekas kerja gergaji; ada angkanya pula. Belum lagi lumpur tebal menutup rumah yang masih berdiri dan fasilitas-fasilitas umum.
Kondisi ini terlalu sederhana jika disebut bencana alam. Rasanya tidak bisa lagi dipahami sebagai fenomena cuaca semata. Sudah menjadi rahasia umum pula jika bencana ini merupakan dampak dari pembukaan hutan, pertambangan, dan kegiatan ekstraktif lainnya. Bencana yang datang merupakan konsekuensi dari tangan-tangan rakus yang memberi izin usaha pertambangan. Kawasan hutan dilepas, diekspansi perkebunan kelapa sawit secara besar-besaran.
Bukan dengan gergaji saja, pohon-pohon dipaksa roboh dengan rantai raksasa yang ditarik alat berat. Akar-akar dilepaskan dari tanah tempat mereka menyerap air. Hewan-hewan kehilangan hutan sebagai tempat tinggal mereka. Bukan alat berat yang jahat, tetapi otak rakus yang bejat. Pulau ini telah menjadi korban ambisi rezim yang tidak peduli dengan dampak kerusakan alam. Risiko terbesar yang paling mungkin akan dialami oleh manusia saja tidak menjadi pertimbangan, apalagi dampaknya terhadap hewan dan tumbuhan.
Banjir dan longsor yang melanda Sumatera adalah bukti bahwa alam sudah berada pada puncak ketidakmampuannya menahan eksploitasi. Peristiwa yang terjadi adalah akumulasi kerusakan lingkungan akibat keputusan politik dan kepentingan serakah otak kapitalis serta tata kelola sumber daya yang salah kaprah.
Begitulah ciri khas sistem kapitalis yang mengedepankan cuan untuk kantong pribadi dan kroni-kroninya. Keuntungan menjadi orientasi utama, sementara alam, manusia, dan makhluk bumi lainnya hanyalah korban sampingan yang mustahil diprioritaskan. Itulah mengapa izin tambang dan pembukaan lahan mudah keluar. Sekalipun tumpukan “teken” ibarat bom waktu yang pasti akan meledak menjadi bencana, mereka tidak peduli. Betapa cacat sistem kapitalisme ini.
Di sisi lain, ada sistem yang memiliki konsep menjaga alam dengan sempurna, yaitu Islam, yang aturannya datang dari sumber terpercaya, berdasarkan wahyu dari Allah ﷻ. Semua yang tercipta di bumi ini sudah memiliki takaran dan tujuan. Allah memperingatkan dalam firman-Nya:
وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَا
“Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (Allah) mengaturnya dengan baik...” (QS. Al-A‘raf: 56)
Allah ﷻ juga berfirman dalam QS. Ar-Rum ayat 41:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِ
“Telah tampak kerusakan di darat dan laut akibat perbuatan tangan manusia...”
Islam bukan hanya memperingatkan, tetapi menawarkan pengelolaan lingkungan dan pemanfaatan sumber daya alam yang tidak akan memberi dampak mengerikan bagi rakyat. Justru mewujudkan kesejahteraan karena hasilnya akan dikembalikan untuk kebutuhan rakyat dan perbaikan fasilitas umum.
Ketika alam dikelola dengan benar maka bencana dapat dicegah. Seandainya terjadi bencana, seorang penguasa dalam Islam tidak akan membiarkan rakyat terdampak berjuang sendirian. Kepentingan umat dan kebutuhan rakyat akan menjadi prioritas utama. Seperti yang dilakukan oleh Khalifah Umar bin Khattab ra. saat paceklik melanda Jazirah Arab, ia tidak tidur sebelum memastikan seluruh rakyatnya cukup makan. Semua itu lahir dari iman, bukan kepentingan uang atau nafsu kekuasaan. Karakter mulia seperti itu terbentuk atas didikan ilmu Islam, bukan yang lain.
Sistem yang mengatur sebuah negeri akan menjadi penentu baik buruknya seorang pemimpin sekaligus rakyatnya. Jadi, bukan karena individu sang pemimpin, tetapi sistem apa yang menyetir sebuah negara tersebut. Seperti kerusakan alam yang menyebabkan banjir dan tanah longsor hari ini, bukan sekadar musibah, tetapi cermin dari sistem yang menindas dan abai dari solusi hakiki.
فَاذْكُرُوْٓا اٰلَاۤءَ اللّٰهِ وَلَا تَعْثَوْا فِى الْاَرْضِ مُفْسِدِيْنَ
“Maka ingatlah nikmat Allah dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi.” (QS. Al-A‘raf: 74)
Betapa banyak ayat yang memberi peringatan kepada manusia agar jangan berbuat kerusakan di muka bumi. Karena penjagaan atas alam ini telah dipasrahkan di pundak manusia sebagai khalifatul fil ardh. Maka, jangan diam ketika ada tangan jahat yang berniat merampas keseimbangan alam. Bisa jadi diamnya kita menjadi penyumbang terbesar kerusakan alam itu sendiri.
Wallahu a‘lam bishshawab.

0 Komentar