BENCANA ALAM SUMATRA: BUKTI GAGALNYA KEPEMIMPINAN


Oleh: Nurhayati
Penulis Lepas

Bencana alam banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra bagian utara (Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat) telah menewaskan ratusan hingga lebih dari seribu orang serta menyebabkan kerusakan besar pada infrastruktur dan permukiman. BNPB melaporkan korban tewas lebih dari 1.182 orang akibat banjir dan longsor sumatera, dengan ribuan lainnya luka-luka serta ratusan ribu warga mengungsi dari rumah mereka. Selain itu, pemerintah mempercepat upaya pemulihan dan relokasi bagi para korban. (Detik, 09/01/2026)

Bencana tersebut semakin menyingkap adanya krisis kepemimpinan di negeri ini. Alih-alih mengayomi rakyat, para pemimpin justru memperlihatkan sikap haus kekuasaan, arogansi, serta pelanggaran etika.

Pada awal musibah di Sumatra, muncul narasi dari sejumlah pejabat yang mengecilkan dampak bencana yang menimpa warga. Namun, kemudian para pejabat berlomba-lomba menyalurkan bantuan, menembus wilayah terisolasi, hingga menyalakan kembali listrik di sejumlah lokasi. Faktanya, banyak warga dan relawan justru melaporkan kondisi yang berbanding terbalik dengan narasi tersebut.

Krisis kepemimpinan di negeri ini sebenarnya telah lama disampaikan oleh berbagai pihak. Krisis tersebut ditandai dengan langkanya negarawan sejati, sementara yang melimpah justru politisi yang hanya mengejar kekuasaan.

Krisis kepemimpinan ini bukanlah sesuatu yang mengherankan, sebab kepemimpinan di negeri ini berdiri di atas asas sekularisme, yaitu pemisahan agama dari kehidupan dan kekuasaan.

Keadaan akan berbeda apabila suatu negeri melandaskan kehidupan bernegara pada iman dan takwa. Kendali para pemimpinnya adalah rasa takut kepada Allah ï·». Pemimpin yang beriman dan bertakwa akan menegakkan keadilan serta menghapus kezaliman yang merugikan rakyat yang mereka pimpin.

Dengan demikian, kepemimpinan yang baik mensyaratkan penerapan hukum-hukum Allah (syariat Islam) yang bersifat pasti dan jelas dalam batasan halal dan haram. Syariat juga memberikan keadilan kepada siapa pun, termasuk pejabat dan keluarganya; semuanya sama di hadapan Allah.

Oleh karena itu, krisis kepemimpinan di negeri ini akan menemukan jalan keluar ketika negeri ini menjadikan akidah Islam sebagai landasan kehidupan.

Wallahu a'lam bish-shawwab.

Posting Komentar

0 Komentar