
Oleh: Naila Ahmad Farah Adiba
Siswi MAN 1 Kota Batam
Di tengah derasnya arus dunia yang terkadang membawa kita pada kehampaan, muncul satu kalimat yang sering terlintas di benak sebagai pertanyaan:
Apakah kita benar-benar bisa berperan dalam upaya pembebasan Baitul Maqdis yang telah menjadi sebuah kepastian? Atau kita hanya mampu menjadi penonton di pinggir lapangan kehidupan?
Belum lagi ditambah dengan kejadian akhir-akhir ini yang begitu menyesakkan jiwa. Sebuah lembaga "perdamaian" dibentuk untuk sesuatu yang katanya "keamanan".
Namun pada faktanya, kita bisa melihat dengan sangat jelas melalui mata kepala kita sendiri. Bahwasanya tidak mungkin ada perdamaian jika yang mengusulkan adalah dalang di balik penjajahan itu sendiri.
Kita merasa dipecundangi dengan kejadian ini. Kita yang selama ini menyuarakan pembebasan dan kemerdekaan Baitul Maqdis, eh malah pemimpin negeri ini ikut serta menjadi bagian dari lembaga yang dibentuk oleh penjajah yang begitu sadis.
Terkadang rasanya ingin menyerah dan ingin menyudahi langkah. Tapi lagi-lagi kita disadarkan bahwa perjuangan memang melelahkan. Bahwa perjuangan memang membutuhkan pengorbanan.
Aku tahu begitu penatnya kita menghadapi dunia yang saat ini sedang tidak baik-baik saja. Kita dituntut untuk memikirkan urusan umat, di samping juga harus menyelesaikan urusan pribadi kita.
Hingga rasanya semuanya begitu menjemukan. Deadline tugas yang terus memenuhi kepala, problematika dunia yang seolah tak ada habisnya, hingga urusan pribadi yang menuntut untuk segera diselesaikan.
Dengan segala dinamika yang kita hadapi, mampukah kita untuk ikut berkontribusi dalam barisan perjuangan ini? Ataukah memang kita diharuskan mundur dari jalan mulia ini?
Teman, jika kita hanya berfokus pada urusan pribadi, itu tak akan pernah selesai. Namun, jika kita melihat pada skala yang lebih besar lagi, kita akan mendapati bahwasanya ada Allah yang senantiasa membersamai.
Terkadang kita lupa, terlalu fokus dengan masalah yang hadir menerpa, hingga akhirnya terlena dan menganggap tak ada yang menolong kita. Padahal sejatinya Allah senantiasa hadir dengan jarak yang sangat dekat dengan kita.
Pembebasan Baitul Maqdis adalah sebuah cita-cita mulia. Ia tak bisa hanya kita sandarkan pada manusia. Namun, sandarkanlah pada Penciptanya manusia yang senantiasa ada dan memberikan pertolongan terbaik-Nya.
Jika mengandalkan diri sendiri dalam jalan perjuangan ini, mungkin aku sudah lama memilih berhenti. Namun, aku kembali teringat dan memahami bahwasanya perjuangan ini ada Allah yang senantiasa membersamai.
Maka pertanyaannya bukan lagi apakah kita mampu untuk bertahan dalam barisan perjuangan ini, melainkan apakah kita mau untuk tetap istikamah bersama para pejuang pembebasan atau memilih menyerah di tengah jalan?
Sebab pada akhirnya, setiap kita akan senantiasa Allah berikan kemampuan untuk berperan, tinggal kita yang mau menggunakannya dengan sebaik-baiknya atau malah menyia-nyiakannya.
Wallahu a'lam bish shawab.

0 Komentar