
Oleh: Nur Salamah
Sahabat Feature News
“Assalamualaikum,” suara salam terdengar ketika pintu ruang tamu terbuka.
“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,” jawabku sedikit terkejut, sambil tetap menyiapkan makanan untuk anak-anak.
“Kok pulang sekarang?” gumamku dalam hati ketika melihat suamiku pulang di jam istirahat. Lidahku terasa kelu, belum mampu mengucapkan apa pun.
“Ayah bisanya gate pass, Bun. Enggak bisa pulang cepat. Soalnya ada bos baru dari Korea. Ayah diajak meeting jam 13.00 nanti,” jelasnya, seolah paham apa yang sedang bergelayut di benakku.
“Astaghfirullahalazim. Lah terus piye, Yah? Anak-anak sama siapa? Ayah tahu sendiri kan, Alp itu enggak bisa dipegang siapa pun,” keluhku manja kepada sosok yang masih berdiri di sampingku.
Bagaimana tidak. Sesuatu yang telah direncanakan sepekan sebelumnya ternyata gagal.
Aku yang memiliki amanah untuk mengisi Majelis Taklim (MT) bulanan di beberapa tempat, ditambah statusku sebagai ibu yang dikaruniai lima anak, jelas bukan perkara ringan.
Biasanya, jika ada amanah mengisi MT, aku selalu meminta tolong ayahnya untuk meng-handle bocah-bocah. Bukan apa-apa, supaya majelis tidak merasa terganggu oleh rengekan dan keunikan anak-anak yang sedang berada di masa aktif-aktifnya.
Namun kali ini, benar-benar tidak bisa dikompromikan. Urusan pekerjaan ayahnya pun tidak lagi bisa ditawar.
“Ning, nanti enggak usah ikut Bunda ya, Nak. Ning di rumah sama adik, nonton laptop. Insyaallah nanti Ayah usahakan pulang cepat. Ayah belikan es krim,” suara lembut suamiku berusaha membujuk putri ketiga kami yang masih duduk di kelas dua SD.
“Iya. Aku di lumah aja sama Ning,” celoteh si bungsu yang baru berusia 3,5 tahun.
“Aku ikut Bunda pokoknya,” sahut bocah berusia 5,5 tahun itu. Biasa kami memanggilnya Mas Haris. Ia adalah putra pertama anak keempat kami.
“Mas Haris, janji, ya. Kalau ikut Bunda enggak pareng rewel. Harus salih. Kalau Bunda lagi ngomong, Mas enggak boleh merengek ataupun minta apa pun. Tunggu sampai Bunda selesai,” pintaku kepada anakku yang sejak kecil memang tak bisa jauh dari Bundanya.
“Iyaaa,” jawabnya, seolah benar-benar mengerti.
Namun hatiku belum juga tenang. Bagaimanapun, seorang ibu mengenal betul tabiat dan kebiasaan anak-anaknya.
Kalau hanya satu atau dua yang ikut, anak nomor tiga dan nomor empat insyaallah masih bisa dikondisikan. Tapi jika si bungsu ikut, apalagi berkumpul tiga bocah ini, ambyar sudah. Bukan hanya rengekan, tetapi “perang dunia” dan baku hantam pun bisa terjadi. Belum lagi tantrum yang sulit dikendalikan. Benar-benar amanah yang luar biasa.
Waktu terus bergulir. Jam telah menunjukkan pukul 13.15 WIB. Saatnya aku harus segera berangkat menuju lokasi Majelis Taklim di Kavling Flamboyan, tempat aku mendapatkan amanah untuk menyampaikan tausiah.
Dan apa yang aku khawatirkan benar-benar terjadi.
Gadis hitam manis, putri ketigaku, berteriak histeris.
“Aku mau ikut Bunda. Aku enggak mau di rumah,” pintanya sambil merengek.
“Kan tadi katanya enggak ikut. Waktunya sudah mepet, lo, Nduk. Bunda sudah ditunggu orang. Buk Erni dan Bunda Nurul sudah di depan Masjid Sultan,” ucapku, mencoba memberi pengertian kepada bocah yang belum mumayiz itu.
Masjid Sultan Mahmud Riayat Syah adalah masjid terbesar di Kota Batam, tempat kami janjian untuk berangkat bersama. Mereka berdua adalah timku dalam menjalin kerja sama dengan beberapa ketua MT.
Waktu terus berjalan. Majelis Taklim biasanya dimulai pukul 13.45 WIB. Seharusnya aku sudah berangkat dari rumah selambat-lambatnya pukul 13.30 WIB. Namun kenyataan berkata sebaliknya.
“Pokoknya aku ikut Bunda. Pokoknya aku enggak mau di rumah,” tangisan bocah itu makin kencang. Si bungsu yang semula cukup tenang pun ikut histeris karena melihat Ning-nya menangis.
Tanggal 17 Januari 2026 menjadi saksi betapa hancur berkeping-keping perasaan dan pikiranku saat itu.
“Astaghfirullahalazim, la haula wa la quwwata illa billah,” buliran bening yang sejak tadi menggenang akhirnya luruh tak tertahan.
“Atu nantuk, lo. Atu mau bobok,” celoteh bocah 3,5 tahun itu sambil menangis.
“Ayo, Dik! Pakai bajunya! Ayo, Ning, cepetan! Enggak usah nangis. Diam. Semua ikut. Tapi janji ya, Nak. Di sana enggak pareng rewel. Harus salih. Kalau Bunda sedang berbicara, kalian enggak boleh merengek,” ucapku kepada anak-anakku.
Dengan mata sembab dan waktu yang sudah jauh dari rencana, aku sigap memakaikan baju pada ketiga anakku.
Tidak ada lagi ruang untuk bernegosiasi. Tak ada pilihan selain pasrah dan meyakinkan diri bahwa bersama kesulitan pasti ada kemudahan. Aku yakinkan diriku yang sedang rapuh dan tak berdaya bahwa pertolongan Allah Subhanahu wa ta'ala sangat dekat. Allah tidak akan membiarkanku sendirian.
Aku menggendong si bungsu menuju tempat parkir motor. Aku dudukkan dia di depan menggunakan kursi khusus. Dua lainnya duduk di belakang. Aku ikat dengan kain panjang, khawatir tertidur di jalan karena memang jam tidur siang mereka.
Lima menit perjalanan, benar saja, si bungsu telah terlelap. Hingga tiba di Musala Baiturahman Kavling Flamboyan, Alp Arslan masih terlelap, bahkan sampai acara pengajian hampir selesai. Sepuluh menit menjelang tausiah berakhir, barulah ia terbangun. Agak rewel sedikit, tetapi tak jadi soal. Tinggal penutup.
Mas dan Ning-nya, alhamdulillah, tidak terlalu rewel. Teman-teman yang membersamaiku berusaha membujuk dan membawa mereka membeli jajanan.
Alhamdulillahil-ladzi bini‘matihi tatimmush shalihat.

0 Komentar