
Oleh: Rida Asnuryah
Ibu Rumah Tangga
Masyarakat di berbagai wilayah di Pulau Sumatera yang beberapa waktu lalu terkena banjir bandang sudah mulai beraktivitas. Tak hanya para orang tua, semangat para pelajar di Aceh untuk mengenyam kembali pendidikan pun luar biasa besarnya. Namun, nampaknya masyarakat setempat masih belum bisa bernapas lega, sebab meski telah banyak sekolah terdampak bencana Sumatera mulai aktif kembali, tetapi masih ada ratusan sekolah yang masih berlumpur.
Tercatat, sebanyak 747 sekolah berbagai jenjang pendidikan masih berlumpur di Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh, hingga Senin (12 Januari 2026). Rinciannya, Sekolah Menengah Atas (SMA) sederajat dan Sekolah Luar Biasa di bawah kewenangan Pemerintah Provinsi Aceh dan Kementerian Agama sebanyak 132 unit.
Data seluruh sekolah untuk pembersihan telah diserahkan ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Proses pembersihan dibantu TNI/Polri, pemerintah, dan seluruh relawan. (Kompas, 12/01/2026)
Pun, Dinas Pendidikan Dayah Kabupaten Aceh Timur menyatakan seratusan pesantren atau dayah (lembaga pendidikan tradisional Aceh) dan balai pengajian mengalami kerusakan akibat banjir bandang pada akhir November 2025. Kepala Dinas Pendidikan Dayah Kabupaten Aceh Timur, Saiful Nahar, mengatakan berdasarkan hasil pendataan sementara tercatat sebanyak 120 unit pesantren atau dayah rusak akibat banjir. Akibat kerusakan tersebut, aktivitas belajar mengajar di sejumlah dayah dan balai pengajian terganggu. Beberapa di antaranya menghentikan sementara kegiatan pengajian dan yang lain tetap melaksanakan pembelajaran dengan kondisi darurat dan keterbatasan fasilitas. (CNN Indonesia, 16/01/2026)
Merayapnya Pemulihan
Berdasarkan fakta di atas, dapat kita saksikan bahwa proses pemulihan terkesan merayap, walhasil banyak pelajar menuntut ilmu di dalam bangunan yang masih berlumpur. Perlu ditekankan bahwa pemulihan ratusan fasilitas pendidikan yang rusak akibat bencana adalah tanggung jawab negara, tidak boleh dibebankan pada masyarakat. Pun, nasib pendidikan anak-anak sekolah terdampak bencana harus dijamin negara, tak hanya fasilitas fisik, tetapi juga recovery mental dan membangun kepribadian Islam yang kokoh. Peran lembaga pendidikan dan pesantren sangat penting untuk menanamkan akidah yang kokoh, menyadarkan peran manusia sebagai Khalifah di muka bumi sebagaimana firman-Nya:
وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ ِانِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةً
"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: 'Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.'" (QS. Al-Baqarah: 30)
Solusi Mumpuni
Berbicara solusi mumpuni, artinya berbicara Islam, sebab Islam hadir bukan sekadar agama ritual, tetapi juga problem solving. Beberapa solusi yang Islam tawarkan terkait recovery sekolah dan pendidikan pasca bencana adalah sebagai berikut:
- Islam mewajibkan negara untuk menjamin pendidikan gratis bagi seluruh warga negara. Ini berlaku mutlak sepanjang masa, bukan ditakar berdasarkan ada atau tidaknya bencana.
- Sistem pendidikan Islam berbasis akidah Islam dan bertujuan membentuk siswa memiliki kepribadian Islam. Peran ini menjadi perhatian negara, sekolah dan pesantren harus segera dipulihkan agar proses pendidikan tidak tertunda. Karena sekali lagi, peran lembaga pendidikan amatlah krusial.
- Peran utama Muslim adalah menjadi Khalifah di bumi, yaitu mengelola sumber daya alam untuk kesejahteraan dan kebaikan bagi kehidupan manusia, bukan merusaknya. Tidak boleh pengelolaan SDA strategis diserahkan kepada pihak swasta baik dalam negeri maupun asing. Dengan begini, tiada lagi banjir bandang akibat penggundulan hutan dan eksploitasi pohon hutan demi keuntungan materi semata.
Untuk mewujudkan ini semua, perlu adanya pembangunan kesadaran umat di seluruh dunia dan berbagai elemen, agar terlibat aktif dalam melahirkan generasi khoiru ummah yang siap menegakkan syariat Islam. Mari kita syiarkan bersama.
Wallahu A'lam.

0 Komentar