POTRET KERUH DUNIA PENDIDIKAN: BUAH BUSUK DICAMPAKKANNYA SISTEM ISLAM


Oleh: Fathin Azizah
Penulis Lepas

Belum lama ini, dunia maya digemparkan dengan video amatir yang merekam pengeroyokan seorang guru SMA berinisial A yang dilakukan oleh sejumlah siswanya. Disadur dari Detik (15/01/2026), insiden yang terjadi di SMKN 3 Tanjung Jabung Timur, Jambi, tersebut bermula dari peneguran dan penamparan refleks guru A kepada siswa yang melontarkan kata-kata yang tidak pantas kepadanya. Buntutnya, tindakan sang guru tersebut menyulut keributan dan adu jotos dengan sejumlah siswa.

Hal ini berbanding terbalik dengan pengakuan sejumlah siswa yang mengungkapkan bahwa guru A kerap kali melontarkan kata-kata kasar hingga hinaan kepada siswa, bahkan orang tua, dengan ungkapan yang menyinggung seperti "bodoh" dan "miskin". Proses mediasi yang mendudukkan para siswa dengan sang guru pun sudah diselenggarakan di bawah arahan jajaran yang tidak berwenang. Namun, tampaknya upaya ini belum menciptakan titik terang.

Kasus ini hanyalah secercah potret keruh yang mencerminkan bobroknya dunia pendidikan saat ini. Bagaimana tidak, pendidikan yang semestinya menggemban misi agung dan luhur sebagai wadah pencetakan generasi berkualitas dalam naungan shilah takrim wa uswah hasanah (relasi penghormatan dan keteladanan yang baik) pun justru menjelma menjadi panggung perseteruan yang bahkan menyeret pihak terkait kepada kekerasan.

Di era ini, tidak sedikit guru yang menodai kesucian tujuan pendidikan dengan mencampakkan uswah hasanah (keteladanan yang baik) dalam rangkaian prosesi belajar mengajar, bahkan mematikan semangat dan keinginan peserta didik untuk mengenyam pendidikan dengan melontarkan hinaan dan cacian kepada siswa, hingga orang tua. Di sisi lain, banyak murid yang, alih-alih menghiasi dunia pendidikan dengan ta'dzim dan takrim kepada guru, justru mendobrak batas-batas adab.

Semuanya merupakan buah busuk bercokolnya sistem kapitalisme-sekularisme yang merasuki dunia pendidikan saat ini. Pendidikan dijadikan ladang bisnis untuk memburu pundi-pundi uang oleh segelintir orang, sehingga tidak memfokuskan dan memprioritaskan kualitas peserta didik, bahkan mempersiapkan peserta didik untuk menggerakkan roda perekonomian.

Maka satu-satunya solusi tunggal adalah dengan menumpas habis sistem bobrok ini dengan pendidikan sistem Islam yang mengemban misi luhur, yakni mencetak generasi berkualitas dari berbagai sisi dengan melekatkan adab, kasih sayang, dan keteladanan dalam relasi antara guru dengan murid.

Kurikulum dan pendidikan Islam menjadikan aqidah Islam sebagai satu-satunya pion dalam mensukseskan terwujudnya tujuan luhur pendidikan Islam, yakni mencetak generasi yang beraqidah kokoh, bersyaksiyyah Islam, dan mampu memberikan sumbangsih kepada umat Islam, bahkan dunia, dengan tetap menjadikan adab dan akhlak yang luhur sebagai hal yang wajib melekat dengan setiap individu.

Wallahu A'lam.

Posting Komentar

0 Komentar