SI MELARAT MAKIN SEKARAT DALAM JERAT KAPITALISME


Oleh: Desi
Penulis Lepas

Di dunia yang penuh kekacauan, kewarasan Anda adalah harta terbesar Anda.

Sebuah kutipan yang mengandung makna dan pesan bahwa kewarasan jiwa menjadi suatu hal penting yang harus diselamatkan di tengah gempuran kekacauan yang dipertontonkan oleh dunia. Mungkin kalimat seperti ini tidak begitu dibutuhkan oleh mereka yang bergelimang harta. Tapi bagi si melarat, ribuan kalimat motivasi mungkin tak selalu berhasil membuatnya bertahan dalam kondisi yang serba sulit. Tekanan ekonomi dalam skala besar seringkali menggiringnya pada depresi akut. Hingga berada pada puncak keputusasaan yang membuatnya nekat untuk mengakhiri hidup.

Seperti yang dialami oleh seorang ibu berinisial AA (44), warga Buayan, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, yang memutuskan untuk mengakhiri hidupnya pada Selasa, (6/1/2026) pukul 22.00 WIB, dengan cara gantung diri yang mengajak serta kedua anaknya, AT (5), AAW (8). Namun, AAW berhasil selamat karena berontak dan melarikan diri. Tindakan AA ini diduga dipicu masalah ekonomi.

Kapolsek Buayan Iptu Walali Saebani mengungkapkan bahwa AA sudah dua tahun ditinggal suami dan tidak diurus. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, AA bekerja serabutan sebagai buruh lepas. Sempat berjualan kecil-kecilan di depan rumahnya. Dan dikatakan yang bersangkutan mendapatkan bantuan dari pemerintah. Hanya saja tidak tahu jenisnya apa. (Republika, 10/1/2026)

Miskin, sebuah keadaan yang tidak ada seorang pun mau berada di sana. Yang tergambar adalah kesulitan, keterbatasan, kekurangan, kesengsaraan, kehinaan, dan segala hal yang tidak menyenangkan. Tapi pada faktanya, kemiskinan seperti mata rantai raksasa yang tidak pernah bisa diputus. Betapa sulit untuk lepas dari bayang-bayang kemiskinan.

Mungkin memang benar, kemalasan menjadi penyebab seseorang mengalami kemiskinan. Pandangan kuat tentang miskin sebagai takdir yang melahirkan kepasrahan menerima keadaan serba kekurangan juga bisa menjadi salah satu faktornya. Lantas ketika si malas dan si pasrah telah bangkit untuk terus bekerja keras memperbaiki keadaan, akankah serta-merta naik level menjadi kaya atau setidaknya agak kaya? Nyatanya, yang gigih terus berjuang banting tulang mencari nafkah, kepala jadi kaki dan kaki jadi kepala tanpa henti, kondisi mereka tetap saja pas-pasan.

Kesulitan materi yang dialami oleh rakyat Indonesia hari ini, tidak sesederhana disebabkan oleh kemalasan individu. Melainkan dampak dari sistem yang membawa rakyat jatuh pada jurang kemiskinan. Atau bisa disebut kemiskinan yang tersistem. Seringkali kebijakan yang tercipta bukan untuk menyelamatkan mereka yang rentan. Sistem yang ada justru melenggangkan segelintir manusia berdasi untuk memenuhi kepentingan si pemilik modal melalui kebijakan tersebut.

Atas nama investasi, pulau-pulau yang penuh dengan bahan tambang direlakan untuk dikuasai oleh pemilik modal dari asing dan aseng. Dari sektor kelautan, perkebunan, atau kehutanan pun dikuasai oleh perusahaan asing atau kelompok oligarki. Di mana keuntungannya jelas mengalir ke kantong-kantong mereka. Sementara rakyat yang punya hak atas hasil bumi sesuai amanat UUD 45 pasal 33 yang maknanya: sumber daya alam harus dalam penguasaan negara yang hasilnya dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Tapi nyatanya yang diperoleh rakyat adalah harapan kosong dan justru dampak buruk yang malah diterima oleh rakyat. Sungguh kondisi yang sangat menyayat hati.

Belum lagi bantuan dan akses kesehatan atau pendidikan yang tidak semua orang mampu menjangkaunya. Yang mendapatkan akses pun masih disulitkan dengan ribetnya persyaratan. Pun dengan program dari kedua lini tersebut yang katanya ditunjukkan sebagai bantuan kepada rakyat miskin, ternyata tidak merata dirasakan oleh mereka yang betul-betul membutuhkan. Karenanya, ada slogan orang miskin dilarang sakit. Mereka takut jatuh sakit bukan karena enggan dengan derita badan yang diuji sakit, tapi karena mahalnya biaya kesehatan yang tidak sanggup dibayar si miskin.

Dari aspek pendidikan juga, bagi mereka bangku kuliah terlalu mustahil untuk mereka duduki. Itulah sebabnya si miskin semakin tidak mungkin bisa bersaing di dunia kerja untuk meraih posisi dengan gaji yang mencukupi. Akhirnya, kerja seadanya bahkan serabutan. Mana mungkin bisa menyisihkan upah, mampu bertahan saja sudah beruntung.

Ditambah dengan sulitnya mencari pekerjaan. Walaupun sembilan belas juta lapangan pekerjaan pernah dijanjikan, tapi tetap saja pengangguran berjubel di mana-mana, pelamar kerja berdesak-desakan bersaing dengan ribuan pencari kerja lainnya.

Bagaimana rakyat akan dientaskan dari kemiskinan? Jika rakyat hanya dijadikan objek yang dibius oleh program-program memukau kemudian dilupakan setelah manfaat suaranya diambil di balik bilik suara. Itulah mengapa kemiskinan yang terjadi saat ini bukan murni karena individu yang kurang inisiatif dalam mencari penghasilan, tetapi ada sistem yang tidak mendukung kesejahteraan mereka.

Segala hajat menjadi tanggung jawab masing-masing keluarga. Kebutuhan perut jelas tiap hari harus ada budgetnya. Belum lagi tagihan air, listrik, internet, bahan bakar, dan lainnya yang juga mendesak untuk dipenuhi. Semua biaya dipikul oleh pundak mereka sendiri tanpa peran berarti dari penguasa.

Memang seperti itulah perangai dari negara yang bersistem kapitalisme. Harta beredar di kalangan atas saja. Modal besar dikuasai segelintir orang. Sementara kelas bawah dibuat pion atau pekerja untuk merebutkan recehan. Lalu, wakil-wakil rakyat yang katanya mewakili wong cilik justru berperan sebagai regulator pemulus bisnis kelas atas. Jangan harap perut rakyat menjadi prioritas.

Berbeda dengan Islam yang sangat bertanggung jawab atas kepentingan rakyat. Islam memiliki sistem ekonomi yang sempurna sebab datang dari Allah ﷻ. Yang Maha Pengatur.

اَلْمُسْلِمُوْنَ شُرَكَاءُ في ثلَاَثٍ فِي الْكَلَإِ وَالْماَءِ وَالنَّارِ
"Kaum Muslim berserikat dalam tiga hal: air, padang rumput, dan api; dan harganya adalah haram." (HR. Ibnu Majah)

Hadis di atas menyatakan bahwa negara berkewajiban mengelola sumber daya alam (SDA) milik umum. Seperti air, tambang, tanah, dan lainnya, di mana hasilnya dikembalikan untuk kesejahteraan rakyat. Baik berupa tunjangan kesehatan, jaminan pendidikan, infrastruktur, dan lainnya. Satu hadis ini saja jika diterapkan, sudah cukup membuat rakyat makmur. Karena dengan pengelolaan SDA oleh negara, juga akan membuka lapangan pekerjaan bagi ribuan kepala keluarga.

Islam juga memiliki prinsip keadilan ekonomi. Di mana distribusi harta pun diatur agar harta tidak menumpuk pada kalangan tertentu tapi merata pada semua orang. Terlebih mereka yang sangat membutuhkan. Allah berfirman:

كَيْ لَا يَكُوْنَ دُوْلَةً ۢ بَيْنَ الْاَغْنِيَاۤءِ مِنْكُمْۗ
....(Demikian) agar harta itu tidak hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu... (QS. Al-Hasyr:7)

Jika sistem Islam ini diterapkan kembali, niscaya kesejahteraan rakyat seperti pada masanya Khalifah Harun Ar-Rasyid akan terulang kembali. Di mana penguasa sampai kesulitan mendistribusikan dana dari baitul mal. Sebab, tidak ada orang yang mau menerima zakat. Bukan karena rakyat telah kaya semuanya, tetapi seluruh kebutuhan dasar per individu sudah terpenuhi oleh adilnya pemimpin yang berkuasa pada saat itu. Jadi, tidak mungkin akan dijumpai seseorang kesulitan ekonomi sampai kelaparan dan nekat bunuh diri.

Wallahu a'lam bishshawab.

Posting Komentar

0 Komentar