SUARA RAKYAT DIBUNGKAM, WAJAH ASLI SISTEM DEMOKRASI OTORITER


Oleh: Tyas Ummu Amira
Penulis Lepas

Intimidasi terhadap konten kreator dan aktivis yang mengkritik pemerintah kembali meningkat. Kali ini, ancaman muncul setelah beberapa tokoh publik melontarkan kritik tajam terhadap penanganan bencana di Sumatra. Serangkaian teror ini memunculkan kekhawatiran di kalangan masyarakat mengenai kebebasan berekspresi dan kelangsungan demokrasi di Indonesia.

Bentuk teror yang dilaporkan beragam, mulai dari ancaman fisik, vandalisme, doxing, peretasan digital, hingga intimidasi yang menyasar keluarga korban (Media Indonesia, 31/12/25).

Suara rakyat kian tak sanggup dibendung setelah melihat penanganan bencana yang seakan hanya dibuat sebagai atraksi politik semata. Kondisi nyata yang diunggah di media sosial oleh beberapa relawan dan konten kreator sudah membuka mata dunia bahwa tampak tidak ada upaya secara sungguh-sungguh dalam pemulihan bencana.

Rakyat yang murni menceritakan keadaan nyata dan lantang dalam mengkritisi pemerintah tampak hendak dibungkam dengan berbagai teror dan intimidasi. Aktivitas ini membuat rakyat merasa takut dan tidak aman terhadap kebijakan pemerintah yang berkuasa. Rezim anti-kritik merupakan salah satu indikasi bukti bahwa sistem yang dibangun dan sedang berjalan adalah demokrasi otoriter.

Di tengah kemunduran demokrasi global, muncul pola baru bagaimana kekuasaan otoriter dijalankan, bukan lagi melalui senjata, tetapi melalui konstitusi. Demokrasi bisa berubah arah secara diam-diam melalui manipulasi hukum dan prosedur yang sah secara formal, tetapi bertentangan secara substansi. Indonesia pun tak luput dari potensi ancaman tersebut (Hukum Online, 17/04/25).

Dari sini dapat dilihat bahwa suara kebenaran akan kalah dengan suara kebatilan karena sistemnya menihilkan peran agama dalam kehidupan, yakni ide sekuler. Maka, butuh perubahan sistem yang sahih dari Sang Maha Pencipta, yakni Allah ï·», berupa sistem Islam.

Dalam paradigma sistem Islam yang berbasis akidah Islam, bahwa penguasa atau pemimpin adalah ra'in, junnah yang melindungi rakyat, memberi rasa aman, bukan meneror atau mengancam rakyatnya. Hal ini lahir dari sistem yang sahih, yakni sistem Islam yang terbukti telah melahirkan para pemimpin amanah. Sebab, setiap aktivitas sebagai pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban kelak di hadapan Allah ï·».

Rasulullah ï·º bersabda yang artinya: “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Kemudian, hubungan penguasa dan rakyat diatur oleh hukum syarak. Penguasa wajib menjalankan peran ra'in dan junnahnya. Di lain sisi, rakyat juga wajib dalam mihadan lil hukam atau muhasabah terhadap penguasa. Wadah bagi perwakilan umat, yakni majelis umat, di mana setiap anggota majelis umat itu memiliki hak berbicara dan menyampaikan pendapat, tanpa mengalami pencekalan apa pun, sebatas apa yang telah dihalalkan oleh syarak. Anggota majelis umat merupakan wakil dari kaum muslimin dalam menyampaikan pendapat dalam melakukan muhasabah (Kitab Nidhamul Hukmi Fil Islam hal 291, karangan Syekh Abdul Qadim Zallum).

Salah satu teladan pemimpin pada masa kekhalifahan yakni tentang Amirul Mukminin Umar bin Khattab ketika menghadapi kritik rakyat sebagaimana dimuat dalam kitab Fiqhul Islamy Wa Adillatuhu karya Prof. Wahbah Zuhaily. Beliau dikritik oleh seorang pemuda.

“Seorang laki-laki berkata pada Umar ra.: “Bertakwalah! Wahai Umar.” Lalu pemuda lain menyahut: “Layakkah ungkapan itu ditujukan pada seorang Amirul Mukminin (Pemerintah)?”. Dengan bijak Umar menjawab: “Tidak ada kebaikan pada diri kalian apabila kalian tidak mengatakannya (kalimat takwa) dan tidak pula ada kebaikan dalam diriku apabila aku tidak mau mendengarnya (dari kalian).

Melihat penggalan cerita Umar bin Khattab ra. di atas, pejabat pemerintah hendaknya harus dengan lapang dada mendengarkan kritik rakyat. Pemimpin jangan hanya mau didengar, tetapi juga harus mau mendengar. Pemimpin jangan hanya mau dijadikan cerminan bagi rakyatnya, tetapi juga harus memberikan teladan yang baik.

Seorang pemimpin seharusnya bisa menerima kritikan dengan bijak dan ikhlas, karena tiada manusia yang luput dari kesalahan. Inilah gambaran kepemimpinan dalam Islam yang menjadikan akidah sebagai landasan dalam memimpin umat.

Waalahualam bishowab.

Posting Komentar

0 Komentar