
Oleh: Muhar
Sahabat Gudang Opini
Kesepakatan yang membuka jalan masuknya produk Amerika Serikat ke Indonesia tanpa kewajiban sertifikasi halal bukan sekadar soal perdagangan. Ini bukti keterkaitan sistem kapitalisme dengan negara imperialis yang terbiasa memaksakan kehendaknya.
Inilah wajah arogansi kekuatan global yang berulang kali dipertontonkan oleh Amerika Serikat, terutama pada era kepemimpinan Donald Trump.
AS: Negara Kafir Harbi Fi’lan
Dalam pandangan Islam, Amerika Serikat bukan sekadar negara nonmuslim, melainkan kekuatan kafir harbi fi’lan yang nyata-nyata memusuhi ideologi Islam dan memerangi umat Islam, baik melalui penjajahan ekonomi, intervensi politik, hingga dukungan terhadap penjajahan dan genosida di berbagai negeri Muslim.
Negara seperti ini tidak terlalu peduli dengan konsep halal dan haram, sebab standar kebijakannya bukan wahyu, melainkan kepentingan dan kepuasan semata.
Bagi penguasa negara sekuler, segala sesuatu diukur dengan untung-rugi politik dan ekonomi. Makanan, minuman, kosmetik, bahkan darah manusia semuanya bisa dianggap “halal” selama menguntungkan dan memuaskan arogansinya.
Maka wajar jika mereka menuntut pasar negeri Muslim dibuka selebar-lebarnya, tanpa peduli apakah produk itu sesuai syariat atau tidak.
Namun, masalahnya sesungguhnya bukan pada AS semata. Masalah utamanya adalah posisi Indonesia yang lemah.
Indonesia Terjajah oleh Sistem
Sebagai negeri berpenduduk Muslim terbesar di dunia, Indonesia seharusnya memiliki kedaulatan penuh untuk menegakkan hukum halal-haram di wilayahnya. Namun faktanya, Indonesia terikat pada sistem negara-bangsa sekuler yang tunduk pada perjanjian internasional, tekanan dagang, dan mekanisme kapitalisme global.
Selama Indonesia berdiri di atas sistem ini, maka kedaulatan syariat mustahil tegak.
Negara dipaksa menomorduakan hukum Allah demi “iklim investasi”, “kepercayaan pasar”, dan “hubungan bilateral”. Inilah bentuk penjajahan gaya baru tanpa senjata, tetapi efektif melumpuhkan kehormatan umat.
Khilafah: Satu-satunya Jawaban Ideologis
Islam tidak pernah mengajarkan umatnya menghadapi arogansi musuh dengan kompromi prinsip.
Sejarah Islam menunjukkan bahwa hanya Khilafah Islamiyah yang mampu berdiri sejajar, bahkan ditakuti oleh kekuatan imperialis dunia.
Khilafah bukan sekadar sistem pemerintahan, melainkan negara ideologis yang:
- Menjadikan akidah Islam sebagai asas politik dan ekonomi.
- Menutup rapat celah intervensi kafir harbi.
- Menegakkan hukum halal-haram tanpa tawar-menawar.
- Melindungi umat dari eksploitasi global.
Dalam Khilafah, tidak ada negara kafir yang bisa memaksa produk haram masuk ke pasar kaum Muslim. Tidak ada perjanjian yang melanggar syariat. Tidak ada arogansi imperialis yang dibiarkan hidup.
Tanpa Khilafah, Arogansi AS Akan Terus Berlanjut
Hari ini produk AS masuk tanpa sertifikasi halal. Besok bisa jadi hukum ekonomi Islam dihapus atas nama harmonisasi global. Lusa, mungkin hukum keluarga Islam dianggap “tidak kompatibel dengan HAM”.
Semua ini satu garis lurus: selama umat Islam tidak memiliki negara ideologisnya sendiri, mereka akan terus dipaksa tunduk.
Karena itu, seruan untuk menegakkan Khilafah bukan wacana utopis, melainkan kewajiban syar’i dan kebutuhan politik umat.
Khilafah adalah satu-satunya benteng yang mampu menghadapi arogansi Amerika Serikat dan seluruh kekuatan imperialis dunia.
Gejala Ketiadaan Kepemimpinan Islam
Arogansi Amerika Serikat hanyalah gejala. Penyakit utamanya adalah ketiadaan kepemimpinan Islam global. Selama umat Islam bertahan dalam sistem buatan penjajah, mereka akan terus dipermainkan. Maka tidak ada jalan lain kecuali kembali kepada Islam secara kaffah melalui tegaknya Khilafah Islamiyah agar umat ini berdiri terhormat, berdaulat, dan tidak lagi diinjak serta ditekan oleh kekuatan kaum kafir harbi mana pun.

0 Komentar