BUNUH DIRI MARAK, ULAH SISTEM RUSAK


Oleh: Yuni Oktaviani
Aktivis Muslimah, Pekanbaru, Riau

Kasus pelajar bunuh diri kembali terjadi. Seorang siswa kelas IV SD mengakhiri hidup karena tidak mampu membeli buku dan pena. Sungguh memilukan. Lagi-lagi, ketidakberdayaan ekonomi membuat seorang anak terenggut masa depannya. Kejadian ini menjadi tamparan keras bagi penguasa dan elit politik di sana: betapa ketimpangan sosial dan ekonomi kian meruak dan merusak di tengah-tengah masyarakat. Harus ada upaya keras agar kasus bunuh diri ini tidak semakin berkelindan. Lalu, bagaimana Islam memandang permasalahan ini? Dan apa solusinya?

Sepucuk surat menjadi saksi bisu kepergian anak berinisial YRB (10), siswa kelas IV SD di Kabupaten Ngada, NTT, yang mengakhiri hidup, diduga karena tak mampu membeli buku dan pena. Merespons tragedi ini, KPAI menggelar case conference bersama Kemendikdasmen untuk mendalami faktor ekonomi, pola asuh, hingga dugaan perundungan di lingkungan sekolah. (Tirto, 04/02/2026)


Kapitalisme Biang Kerusakan

Tidak sekali dua kali kasus bunuh diri menimpa remaja atau pelajar. Penyebabnya bisa dipicu oleh beragam aspek sosial ekonomi, pendidikan, dan lainnya. Kasus ini seharusnya menjadi tamparan keras bagi pemerintah karena terbukti tidak mampu menyejahterakan rakyat.

Diperparah oleh sistem yang mengungkung masyarakat kala ini merupakan sistem yang tidak menjamin kebutuhan hidup dengan layak. Masyarakat terhimpit oleh kesulitan ekonomi dan serbamahalnya biaya hidup, mulai dari sulitnya mengakses fasilitas pendidikan, kesehatan, keamanan, dan lain-lain secara cuma-cuma.

Contohnya dapat dilihat dari aspek pendidikan. Masih banyak sekolah yang sulit dijangkau karena akses jalan rusak, tidak memadainya bangunan sekolah, mahalnya biaya pendidikan, hingga anak-anak yang terpaksa putus sekolah disebabkan kemiskinan dan lainnya.


Kesejahteraan Hanya Ada dalam Islam

Permasalahan bunuh diri yang semakin berkelindan ini sudah pasti terintegrasi dengan sistem kehidupan yang dianut sekarang. Oleh karena itu, perlu solusi yang mampu menyelesaikan permasalahan secara komprehensif. Solusi tersebut tidak lain hanyalah Islam.

Negara yang menerapkan sistem Islam akan menjamin kehidupan rakyat dengan adil. Hajat hidup orang banyak, seperti kebutuhan pangan, sandang, dan papan, akan dipenuhi oleh negara. Begitu juga fasilitas kesehatan, pendidikan, keamanan, dan lain-lain akan dinikmati secara cuma-cuma alias gratis oleh rakyat.

Kemandirian negara dengan sistem Islam pada tata kelola sumber daya alam inilah kuncinya. Negara yang berideologi Islam tidak akan memberi izin pengelolaan sumber daya alam kepada pihak pengusaha atau asing. Melainkan, negara sendirilah yang mengelola dan mendistribusikan hasil sumber daya alam tersebut kepada rakyat. Tidak hanya itu, sumber pemasukan negara juga mencakup kharaj, jizyah, wakaf, zakat, dan lainnya, yang pembagiannya sudah jelas dan akan diurus oleh pemimpin yang amanah.

Karena pemimpin dalam Islam adalah pengurus yang mengatur kehidupan rakyat yang dipimpinnya. Ia akan mempertanggungjawabkan kepemimpinannya di hadapan Allah kelak. Pemimpin dalam Islam akan mengontrol kehidupan rakyatnya dan memastikan semua sejahtera. Dengan demikian, tidak akan ditemukan rakyat kelaparan, putus sekolah, melakukan kemaksiatan, dan lain-lain.

Sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Khalifah Umar bin Khattab ra. pada masa kepemimpinannya. Ia selalu rutin berpatroli langsung untuk melihat kondisi rakyatnya secara berkala. Beginilah cerminan pemimpin dalam Islam.

Pemimpin amanah yang mencintai rakyatnya serta mampu menyejahterakan hidup rakyatnya hanya akan lahir dalam sistem yang menerapkan aturan Allah. Dengan demikian, sudah saatnya mengganti sistem sekuler-kapitalisme dengan sistem Islam agar kehidupan diberkahi Allah dan jauh dari kesengsaraan.

Wallahu a‘lam bis-sawab.

Posting Komentar

0 Komentar