
Oleh: Diaz
Penulis Lepas
Ruang podcast itu terasa hangat, bukan hanya karena lampu sorot yang menyala, tetapi karena tema yang dibicarakan menyentuh jantung setiap orang tua. Dalam episode bertajuk “Bagaimana Cara Mengajarkan Tauhid ke Anak?”, Sabrina Anggraini duduk berhadapan dengan Felix Siauw. Percakapan mereka bukan sekadar obrolan ringan, melainkan sebuah kegelisahan yang mungkin diam-diam juga kita rasakan.
Bagaimana cara menanamkan tauhid kepada anak di tengah dunia yang semakin riuh, cepat, dan penuh distraksi?
Ustadz Felix memulai dengan satu fondasi mendasar. Tauhid bukanlah materi hafalan. Ia bukan sekadar daftar sifat wajib bagi Allah yang diulang menjelang ujian. Tauhid adalah cara pandang. Cara anak memaknai hidup, memahami peristiwa, dan merespons kenyataan. Jika tauhid hanya berhenti di kepala, ia akan mudah runtuh ketika berhadapan dengan ujian. Tetapi jika tauhid hidup di hati, ia akan menjadi kompas yang menuntun hingga dewasa.
Di sinilah letak tantangannya. Banyak orang tua ingin anaknya mengenal Allah, tetapi sering kali pendekatan yang digunakan masih sebatas instruksi. “Jangan begini, nanti dosa.” “Harus begitu, supaya masuk surga.” Kalimat-kalimat itu mungkin benar, namun jika tidak diiringi pemahaman tentang siapa Allah, anak bisa tumbuh dengan rasa takut yang kosong, bukan cinta yang kokoh.
Dalam perbincangan tersebut, ditegaskan bahwa tauhid harus dikenalkan melalui keseharian. Ketika anak bertanya tentang hujan, tentang rezeki, tentang keberhasilan, jawaban orang tua seharusnya selalu mengaitkan kembali kepada Allah. Bukan dengan ceramah panjang, melainkan dengan bahasa sederhana yang sesuai usianya. Tauhid tidak diturunkan dalam bentuk teori berat, melainkan melalui dialog yang membumi.
Ada satu poin yang menggelitik. Anak belajar bukan hanya dari apa yang didengar, tetapi dari apa yang dilihat. Jika orang tua menyuruh anak salat tetapi ia sendiri sering menunda, pesan tauhid akan retak sebelum sempat berakar. Ketika orang tua mengaku bergantung pada Allah namun terlihat panik berlebihan dalam urusan dunia, anak menangkap kontradiksi itu. Pendidikan tauhid sejatinya dimulai dari keteladanan.
Pembahasan kemudian menyentuh realitas zaman. Anak-anak hari ini hidup dalam dunia digital yang membentuk cara berpikir instan. Mereka terbiasa mendapatkan jawaban cepat dari gawai. Dalam situasi seperti ini, tauhid justru menjadi semakin penting. Ia mengajarkan kesabaran, keikhlasan, dan kesadaran bahwa hidup tidak selalu tunduk pada logika algoritma. Ada takdir, ada ujian, ada hikmah yang tidak selalu langsung terlihat.
Yang menarik, tauhid juga berkaitan dengan identitas. Anak yang sejak kecil memahami bahwa dirinya adalah hamba Allah akan lebih kokoh menghadapi tekanan sosial. Ia tidak mudah larut dalam tren yang menyimpang, tidak mudah silau oleh popularitas, dan tidak mudah minder oleh standar dunia. Tauhid membentuk keberanian moral.
Namun tentu saja, perjalanan ini tidak instan. Tidak ada orang tua yang sempurna. Tidak ada keluarga yang steril dari kesalahan. Di sinilah pentingnya konsistensi. Tauhid tidak ditanam sekali lalu selesai. Ia perlu diulang, diperkuat, dan dihidupkan kembali setiap hari.
Percakapan itu seolah mengajak kita bercermin. Selama ini, apakah kita lebih sibuk menyiapkan anak agar sukses secara akademik, tetapi lupa menyiapkan fondasi akidahnya? Apakah kita lebih panik ketika nilai matematika turun dibanding ketika salatnya mulai bolong?
Tauhid bukan sekadar pelajaran tambahan di sela kesibukan. Ia adalah fondasi dari seluruh pendidikan. Dari tauhid lahir akhlak, lahir keberanian, lahir keteguhan. Tanpa tauhid, ilmu bisa menjadi kesombongan. Tanpa tauhid, prestasi bisa melahirkan kehampaan.
Pada akhirnya, mengajarkan tauhid kepada anak bukan hanya tentang masa depan mereka. Ini tentang pertanggungjawaban kita sebagai orang tua di hadapan Allah. Tentang apa yang akan kita jawab ketika ditanya bagaimana kita menjaga amanah itu.
Mungkin pertanyaan terbesar bukanlah bagaimana cara mengajarkan tauhid kepada anak, melainkan sudahkah tauhid benar-benar hidup dalam diri kita sendiri. Karena anak-anak tidak hanya mendengar apa yang kita ucapkan. Mereka menyerap siapa diri kita sebenarnya.

0 Komentar