MENYAMBUT TAMU AGUNG DENGAN AMAL MULIA


Oleh: Intan
Reporter

Bulan Ramadhan kembali hadir sebagai tamu agung yang penuh berkah. Hendaknya umat Islam mempersiapkan diri baik lahir maupun batin agar dapat meraih segenap keutamaan yang Allah ﷻ janjikan di dalamnya. Ramadhan adalah bulan penuh berkah dengan pahala yang berlipat-lipat. Hal tersebut disampaikan oleh Ustadzah Sri Sumarwasih sebagai ketua LKM di Kajian Ibu Sholihah (KAISHA) pada Ahad, 22 Februari 2026, yang bertempat di Probolinggo.

"Untuk itu, dalam menyambut Ramadhan, selayaknya kita seperti menyambut tamu agung, yang mana ada dua langkah utama:
  • Membersihkan dan membereskan rumah serta melakukan segala sesuatu yang membuat tamu merasa senang.
  • Bersihkan diri dengan taubat: menyesal, memohon ampun kepada Allah, berjanji tidak mengulangi, serta meminta maaf kepada sesama manusia dan menyelesaikan muamalah yang belum tuntas," tegasnya.

"Selain itu, ada beberapa amalan yang dianjurkan untuk diperbanyak selama Ramadhan:
  • Qiyamul Lail (shalat malam) sebagai penghapus dosa bagi yang mendirikannya dengan iman.
  • Membaca Al-Quran, setiap huruf bernilai sepuluh kebaikan; Al-Quran akan menjadi pemberi syafaat di hari kiamat.
  • Memperbanyak sedekah. Rasulullah ﷺ adalah orang yang paling dermawan, dan kedermawanan beliau semakin meningkat di bulan Ramadhan.
  • Memberikan hidangan berbuka, pahalanya sama dengan orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahala si puasa sedikit pun.
  • Memperbanyak i’tikaf. Nabi ﷺ beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadhan hingga wafatnya.
  • Melakukan umrah, nilainya setara dengan ibadah haji.
  • Memperbanyak thalabul ilmi (menuntut ilmu agama).
  • Menyebarkan dakwah, menunjukkan satu orang pada kebaikan lebih baik daripada memiliki unta merah.
  • Menebarkan perdamaian. Puasa melatih menahan lisan dari kata-kata kotor dan pertengkaran," jelas beliau.

Dijelaskan juga, sembari mengutip hadits, ada tiga doa yang tidak tertolak yang sebaiknya kita perbanyak. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa ada tiga doa yang tidak tertolak: doa pemimpin yang adil, doa orang yang berpuasa hingga ia berbuka, dan doa orang yang terzalimi (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah). Ini menjadi motivasi kuat untuk dilakukan, terang beliau.

"Pada Ramadhan saat ini, adalah tepat apabila kita gunakan sebagai Spirit Kebangkitan Islam. Di tengah ragam masalah umat seperti kemiskinan, utang negara, korupsi, kriminalitas, dan dekadensi moral, Ramadhan dihadirkan sebagai momentum kebangkitan. Solusi dari semua kerusakan adalah berhenti dari maksiat dan berjalan sesuai tuntunan syariah Islam secara menyeluruh," lanjut beliau.

"Umat Islam tidak boleh bersikap cuek (apatis) terhadap masalah sesama Muslim. Barang siapa yang tidak peduli dengan urusan kaum Muslimin, maka ia bukan bagian dari mereka. Seperti peristiwa di Gaza saat ini, yang seharusnya seluruh umat Islam bersatu melawan penjajahan. Banyak negara kaum Muslim yang dikeruk kekayaan alamnya," imbuhnya.

Di akhir pemaparan, beliau mengingatkan pada para peserta bahwa:

Ramadhan bukan sekadar bulan puasa untuk menahan lapar dan haus. Ia adalah tamu agung pembawa berkah, penghapus dosa, pelipat pahala, dan momentum kebangkitan umat. Manfaatkan setiap detiknya dengan amal shalih dari shalat malam, membaca Al-Quran, bersedekah, hingga yang terpenting dengan menyebarkan dakwah agar Ramadhan benar-benar menjadi titik balik menuju kehidupan yang lebih mulia dengan takwa dan berkah dengan syariah. Dan menuju tegaknya Daulah Islamiyah (Khilafah).

Posting Komentar

0 Komentar