CHILD GROOMING, PERHATIAN TIDAK SELALU BERARTI KEPEDULIAN


Oleh: Amirah Desi
Penulis Lepas

Akhir-akhir ini publik kembali dikejutkan oleh maraknya kasus child grooming yang melibatkan figur publik hingga konten kreator di media sosial. Modusnya hampir serupa: pelaku mendekati anak atau remaja dengan iming-iming uang, hadiah, pujian, serta perhatian yang tampak tulus. Mereka membaca kebutuhan korban, baik kebutuhan materi maupun kebutuhan emosional, lalu masuk perlahan hingga membangun kedekatan yang membuat anak merasa istimewa dan dipahami. Padahal, perhatian itu hanyalah pintu masuk untuk mengendalikan dan mengeksploitasi.

Child grooming merupakan upaya manipulatif orang dewasa untuk membangun kepercayaan dan keterikatan emosional dengan anak atau remaja dengan tujuan mengontrol korban. Eksploitasi yang terjadi tidak selalu langsung berbentuk kekerasan seksual, tetapi bisa berupa tekanan emosional, ancaman, hingga pemaksaan agar korban menuruti keinginan pelaku. Prosesnya berjalan perlahan dan sistematis sehingga korban sering kali tidak menyadari bahwa dirinya sedang terjebak. Mulanya, pelaku biasanya tampil sebagai sosok yang paling peduli, paling memahami, dan selalu hadir saat korban merasa kesepian.

Tanda-tanda anak mengalami grooming sering kali terlihat dari perubahan sikap yang mendadak. Anak menjadi lebih tertutup, cemas, atau menyimpan rahasia tentang aktivitas daringnya. Mereka mungkin menerima hadiah tanpa penjelasan yang jelas atau menjalin kedekatan dengan orang dewasa yang sebelumnya tidak dikenal.

Namun sayangnya, banyak orang tua terlambat menyadari gejala ini karena menganggapnya sebagai fase remaja biasa. Padahal, di balik perubahan itu bisa jadi ada proses manipulasi yang sedang berlangsung.

Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) tahun 2025 mencatat 2.063 anak menjadi korban kekerasan sepanjang tahun tersebut. Mayoritas korban berada pada rentang usia 15–17 tahun. Angka ini menunjukkan bahwa remaja berada dalam posisi rentan, terutama di era digital ketika interaksi dapat terjadi tanpa batas ruang dan waktu. Media sosial, gim daring, dan percakapan pribadi menjadi ruang yang kerap dimanfaatkan pelaku untuk mendekati korban tanpa sepengetahuan keluarga.

Fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari kondisi keluarga. Kurangnya perhatian, komunikasi yang tidak hangat, serta hubungan yang renggang antara orang tua dan anak membuka celah bagi pihak lain untuk masuk. Anak yang merasa tidak didengar di rumah akan mencari tempat lain untuk bercerita. Ketika ada sosok yang hadir dengan empati semu, mereka merasa menemukan jawaban atas kebutuhan emosionalnya. Di sinilah pelaku memainkan perannya, memosisikan diri sebagai pahlawan. Padahal, sejatinya ia adalah penjahat yang menyamar.

Jika dikaji, dampak child grooming tidak hanya berhenti pada kekerasan seksual. Namun, trauma psikologis yang ditimbulkan bisa berlangsung panjang dan memengaruhi masa depan anak. Rasa bersalah, malu, takut, hingga hilangnya kepercayaan diri menjadi beban yang tidak ringan. Dalam kasus tertentu, kejahatan ini bahkan berujung pada kekerasan fisik yang membahayakan nyawa korban.

Oleh karena itu, penting ditegaskan bahwa kesalahan sepenuhnya berada pada pelaku, bukan pada anak yang menjadi korban. Maka, solusi atas persoalan ini menuntut peran semua pihak. Kehadiran orang tua harus menjadi benteng pertama perlindungan anak dengan menghadirkan komunikasi yang terbuka dan penuh kasih sayang. Anak juga harus merasa aman untuk bercerita tanpa takut dihakimi. Pendidikan agama dan pembentukan akhlak pun menjadi fondasi penting agar anak memiliki pegangan nilai yang kuat dalam menghadapi godaan dan tipu daya.

Dalam hal ini, literasi digital tidak kalah penting agar anak memahami risiko interaksi di dunia maya. Selain keluarga, negara memiliki tanggung jawab besar dalam melindungi anak dari kejahatan. Oleh sebab itu, regulasi yang tegas, pengawasan terhadap konten digital, serta penegakan hukum yang memberikan efek jera harus dijalankan secara konsisten. Masyarakat pun perlu meningkatkan kepedulian dan tidak menormalisasi kedekatan yang tidak wajar antara orang dewasa dan anak.

Pada akhirnya, anak tidak membutuhkan perhatian palsu dari orang asing yang menyamar sebagai penyelamat. Mereka hanya membutuhkan orang tua yang hadir sebagai pendengar setia, pembimbing, sekaligus pelindung. Keterbukaan, kasih sayang, dan ketegasan adalah kunci agar generasi muda terhindar dari kejahatan yang berkedok kepedulian.

Wallahu a’lam.

Posting Komentar

0 Komentar