GURU DIKEROYOK SISWA: CERMIN PENDIDIKAN YANG KEHILANGAN NILAI ISLAM


Oleh: Ima Husnul Hotimah
Penulis Lepas

Viral di media sosial, seorang guru yang dikeroyok oleh murid di daerah Jambi. Beliau adalah guru di SMK 3 Tanjung Timur Jambi. Guru tersebut berinisial AS, yang melaporkan adu jotos kepada Polda Jambi sebagai penganiayaan. Kejadian ini bermula pada hari Selasa (13/1/2026) pagi, di mana saat itu proses kegiatan belajar mengajar berlangsung, dan Pak Guru AS sedang berjalan di depan kelas, mendengar dari salah satu siswa yang menegurnya dengan kata-kata yang tidak sopan dan tidak pantas.

Ketika mendengar ucapan dari siswa yang tidak sopan tersebut, Pak Guru AS masuk ke kelas dan meminta siswa di kelas untuk mengaku. Saat itu, pelaku dari siswa mengaku serta menantang Pak Guru AS, sehingga Pak Guru AS menamparnya. Dengan alasan tindakan tersebut sebagai bentuk pendidikan moral. Mengapa akhirnya menyulut amarah sejumlah siswa lain? Karena memang menurut sejumlah siswa, guru tersebut sering bicara kasar, menghina siswa dan orang tua, bilang bodoh dan miskin.

Walaupun menurut pernyataan Pak Guru AS tidak bermaksud mengejek, namun menceritakan secara umum yang intinya “Kalau kita tidak mampu, kalau bisa jangan bertingkah macam-macam!” Saksi mata dari pihak guru pun kemudian berusaha untuk melerai perkelahian tersebut dan membawa masuk Pak Guru AS ke dalam ruangan. (Detik, 15/01/2026)


Krisis Adab Akibat Sistem Pendidikan Sekuler Kapitalistik

Kasus guru dikeroyok oleh murid tidak hanya terjadi saat ini saja. Menurut Koordinator Nasional JPPI, Ubaid Matraji, mengatakan peristiwa penamparan murid tersebut merupakan pelanggaran hak asasi anak untuk mendapatkan perlindungan dan pendidikan yang aman, bebas dari rasa takut dan kekerasan, yang dijamin dalam konstitusi UU Perlindungan Anak.

Ubaid di akhir Desember 2024 (2 tahun lalu) menyebutkan bahwa kasus guru menjadi korban kekerasan mencapai 10,2%. Ada kasus guru diketapel oleh murid, dipukul oleh orang tua siswa, hingga menjadi korban kriminalisasi. Sebagai langkah penanganannya, Kemendikbud-Ristek telah membentuk satuan tugas (satgas) penanggulangan kekerasan di tingkat provinsi, kabupaten, kota, hingga sekolah. Namun, efektivitas satgas masih dipertanyakan (Media Indonesia, 27/12/2024).

Kasus guru dikeroyok murid ini bukan sekadar konflik personal atau emosi sesaat. Ini adalah problem serius dari dunia pendidikan yang sedang tidak baik-baik saja. Relasi guru-murid yang semestinya dibangun di atas penghormatan dan keteladanan justru berubah menjadi relasi penuh ketegangan, bahkan kekerasan. Dengan melihat fakta yang terjadi, kita tidak bisa membela salah satu dari keduanya. Di satu sisi, murid bertindak tidak sopan, kasar, dan kehilangan batas adab, namun di sisi yang lain, tak dapat dipungkiri, ada pula guru yang kerap menghina, merendahkan, atau melabeli murid dengan kata-kata yang melukai psikologis. Kedua pihak akhirnya terjebak dalam lingkaran konflik yang berujung pada kekerasan.

Hubungan yang tidak baik antara murid dan guru seperti ini terjadi, dikarenakan buah pendidikan sistem sekuler kapitalis yang menjauhkan Islam dalam metode pembelajarannya. Di mana sistem pendidikan hari ini dibangun di atas asas sekulerisme (pemisahan agama dari kehidupan) Sekolah difungsikan sebatas tempat menimba ilmu akademik dan keterampilan duniawi. Ketika lulus, targetnya adalah bisa bekerja dan mendapatkan materi/harta yang diinginkan serta duniawi.

Nilai moral, adab, dan pembentukan kepribadian dianggap pelengkap, bukan sebagai fondasi utama. Akibatnya, pendidikan kehilangan ruhnya sebagai sarana pembentukan manusia berkarakter dan berkepribadian Muslim, jika mereka seorang Muslim. Kesuksesan diukur dari pencapaian materi, bukan dari keutuhan kepribadian. Anak didik dituntut berprestasi, tetapi tanpa bimbingan nilai-nilai ketakwaan. Lalu seperti apa harmonisnya hubungan antara murid dan guru dalam sistem pendidikan Islam? Apakah ada interaksi yang tidak sopan dan tidak menghormati antar keduanya?


Hubungan Interaksi Murid dan Guru dalam Pendidikan Islam

Dalam pendidikan Islam, seorang guru dan murid sangat penting dalam hubungan pendidikan. Ada rambu-rambu yang harus diperhatikan dalam bentuk adab dalam interaksi antara keduanya. Menghormati dan memuliakan guru, menjaga sikap sopan dan penampilan, mendahului memberi salam, tidak banyak berbicara di depan guru, berdiri ketika guru berdiri, dan tidak menyanggah pendapat guru. Namun, tidak cukup hanya murid yang memiliki aturan dalam berakhlak mulia kepada guru.

Namun, guru pun harus memiliki adab yang mulia. Dalam kitab risalah Al-Ghazali disebutkan bahwa adab orang alim (guru), yakni: tidak berhenti menuntut ilmu, senantiasa bersikap tenang, tidak takabur dalam memerintah atau memanggil seseorang, bersikap lembut terhadap murid, tidak membanggakan diri, mengajukan pertanyaan yang bisa dipahami orang yang lamban berfikirnya, menghindari sikap yang tidak wajar, dan mendengarkan dan menerima argumentasi dari orang lain.

Islam memandang pendidikan bukan sekadar mencetak orang pintar, tetapi membentuk manusia beradab. Rasulullah ï·º bersabda bahwa tujuan utama diutusnya beliau adalah untuk menyempurnakan akhlak. Dalam sistem pendidikan Islam, adab didahulukan sebelum ilmu. Di mana murid dididik untuk memuliakan guru (ta'dzim), sementara guru diwajibkan mendidik dengan kasih sayang, bukan hinaan. Karena guru adalah figur teladan, bukan sekadar pengajar. Segala perilaku dan tingkah laku, ucapan dan tindakan apapun akan dilihat oleh murid.

Dalam Islam, pendidikan negara Khilafah atau sistem pendidikan negara Islam menitikberatkan pada kualitas peserta didik yang berkepribadian islami. Kualitas yang didapat melalui pembinaan, pengaturan, dan pengawasan di seluruh aspek pendidikan. Di sinilah pentingnya negara yang memastikan kurikulum berlandaskan akidah Islam.

Hal ini meliputi penyusunan kurikulum berbasis akidah Islam, pemilihan tenaga didik yang kompeten (kemampuan ajar yang disertai dengan keimanan), pemantauan prestasi peserta didik, berikut upaya peningkatannya. Setiap mata pelajaran diarahkan untuk membentuk kepribadian Islam, bukan sekadar kompetisi pasar. Agar ilmu yang didapat, menjadi ilmu yang bermanfaat dan mendapat keberkahan dari Allah ï·».

Wallahualam bishawab.

Posting Komentar

0 Komentar