HIDUP SULIT AKIBAT SISTEM RUSAK YANG MEMBELIT


Oleh: Uni Ummu Kahfa
Penulis Lepas

Di rumah itu...
Tempat yang dulu hangat dengan senda gurau dan celotehan.
Tempat melepas penat dan siraman kasih sayang.
Di mana sebuah asa dipanjatkan dalam doa setiap harinya.
Namun sekarang...
Rumah itu berubah kelabu, tak ada ceria, tak ada tawa, tak ada hangat pelukan dari orang tercinta.
Yang ada sebuah tragedi menyayat hati, menyayat angan, menyayat masa depan seorang anak berusia 8 tahun. Bagaimana tidak, ibu dan adiknya tewas mengenaskan di dalam rumahnya.

Hari itu...
Seorang ibu rumah tangga di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, mengakhiri hidup dengan cara gantung diri. Tragisnya, ia membawa serta anak kandungnya yang masih berusia lima tahun. Aksi nekat ini diduga kuat dilatarbelakangi depresi akibat himpitan ekonomi dan ditinggalkan suami yang menikah lagi.

Peristiwa menyedihkan ini terjadi di Desa Banyumudal, Kecamatan Buayan, pada Selasa, 6 Januari 2026, sekitar pukul 22.00 WIB. Korban berinisial AA (44) dan anaknya, ATW (5) ditemukan tewas menggantung. Kejadian baru diketahui setelah anak pertama korban yang berusia 8 tahun berlari keluar rumah meminta pertolongan tetangga.

Kapolsek Buayan, Iptu Walali Saebani, menjelaskan, latar belakang kejadian adalah depresi yang dialami korban. Faktor utamanya adalah tekanan ekonomi dan ditinggal suami yang dilaporkan telah menikah lagi.

"Hasil olah TKP dan visum yang dilaksanakan oleh tim Inafis Polres Kebumen dan dokter dari RSUD Kebumen cenderung ke ekonomi, mungkin karena ditinggal suaminya," ujar Iptu Walali Saebani, Sabtu, 10 Januari 2026. (MetroTV News, 10/01/2026)


Benang Kusut Sistem Sekuler Kapitalis

Rumah seharusnya menjadi tempat pulang, namun faktanya banyak kasus kekerasan, konflik antar anggota keluarga, hingga kasus kehilangan nyawa terjadi di dalam rumah. Saat rumah tidak memberikan rasa aman dan nyaman untuk penghuninya, di saat itulah terlihat wajah sistem sekuler kapitalis. Sistem ini dengan jelas menampakkan kegagalannya di setiap lini kehidupan. Bagaimana tidak, problematika yang kompleks menyasar ke seluruh lapisan masyarakat. Sekularisme memisahkan agama dari aturan kehidupan, sehingga nilai-nilai keluarga tidak lagi berbasis ibadah.

Sistem ini menjadikan individu jauh dari agama, sehingga setiap tindakannya tidak mempertimbangkan baik-buruk sesuai syariat. Perceraian sebenarnya bukan hal yang dilarang agama, namun dalam kasus ini, terlihat jelas si suami yang seharusnya menjadi penopang hidup keluarga, lepas tanggung jawab terhadap kebutuhan anak-anaknya. Sehingga sang istri mau tidak mau harus menanggung beban yang bukan tanggung jawabnya.

Di tengah sistem yang rusak ini pula, tidak ada rasa solidaritas dari lingkungan. Fenomena individualis ini memang sudah menjadi budaya masyarakat hari ini. Masyarakat hanya sibuk dalam pemenuhan kebutuhan pribadi saja, tanpa menghiraukan kondisi orang lain seperti tetangga terdekatnya. Sehingga saat orang dekat mengalami sebuah kesusahan atau bahkan sampai sesuatu yang membahayakan, minim yang mengetahuinya.

Puncak dari dampak sistem yang dijalankan hari ini adalah sistem pemerintahan kita. Negara berfokus pada ekonomi elit yang menguntungkan kantong pribadi para penguasa. Negara abai akan pemenuhan kehidupan layak bagi warganya. Sumber daya alam yang seharusnya adalah milik umum, secara terang-terangan diprivatisasi oleh swasta. Dampaknya ketimpangan ekonomi terjadi secara berkelanjutan. Rakyat semakin menjerit dengan kebutuhan yang semakin sulit, sedangkan swasta asing semakin melejit meraup pundi-pundi. Kesenjangan inilah yang menyebabkan begitu banyak kasus yang terjadi di tengah masyarakat.

Dengan keadaan pribadi yang jauh dari agama, sosialisasi masyarakat kurang, ditambah dengan masalah ekonomi yang membelit, menyebabkan banyak individu yang mudah stres hingga menjadi sosok manusia yang keji, seperti kasus di atas.


Negara yang Hebat Berawal dari Keluarga yang Sehat

Akidah adalah pondasi utama dalam hidup seseorang. Jika akidahnya kuat, maka apapun ujian yang menimpa hidupnya akan terlewati dengan baik. Maka benar, sistem sekuler tidak akan menjadikan seseorang bermental baja saat menghadapi masalah. Ibarat tanaman dengan akar yang kuat, jika angin besar menerpa, maka akar itu akan tetap menjaga pohon agar tidak tumbang. Sebaliknya, jika akarnya rapuh, sedikit saja angin menerpa, maka pohon itu akan roboh.

Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur'an surah Al-Baqarah ayat 256:

لَآ إِكْرَاهَ فِى ٱلدِّينِ ۖ قَد تَّبَيَّنَ ٱلرُّشْدُ مِنَ ٱلْغَىِّ ۚ فَمَن يَكْفُرْ بِٱلطَّٰغُوتِ وَيُؤْمِنۢ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱسْتَمْسَكَ بِٱلْعُرْوَةِ ٱلْوُثْقَىٰ لَا ٱنفِصَامَ لَهَا ۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
"Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."

Islam juga menjaga keutuhan keluarga dengan memberikan kewajiban kepada setiap peran dalam keluarga. Ayah sebagai kepala keluarga akan bertanggung jawab penuh dalam pendidikan, kebutuhan seluruh anggota keluarga. Ibu sebagai pengurus rumah dan madrasatul ula. Dan anak sebagai perpanjangan ilmu orang tua.

Allah ﷻ sudah memberikan arahan peran sesuai dengan fitrah yang diberikan kepada manusia. Maka, jika manusia patuh dengan aturan Allah ﷻ, maka tidak akan ada kerancuan peran yang berimbas dengan adanya kerusakan keluarga. Akan tercipta sistem dukungan dalam keluarga yang akan berbuah kehangatan, kenyamanan, dan keamanan di dalam rumah.

Di luar lingkungan rumah, Islam juga mengatur hubungan dengan sesama. Allah ﷻ mewajibkan beramar ma'ruf nahi munkar, maka setiap muslim wajib bersosialisasi dengan kerabatnya, tetangganya. Kita wajib memastikan kondisi orang-orang di sekitar kita itu baik. Jika ada yang sakit kita wajib menjenguk, jika ada yang kesusahan kita wajib membantu. Dan itulah indahnya Islam, setiap individu tidak diajarkan untuk mementingkan diri sendiri.

Firman Allah ﷻ dalam Al-Qur'an surah An-Nisa ayat 36:

وَاعْبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـًٔا وَّبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا وَّبِذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَالْجَارِ ذِى الْقُرْبٰى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْۢبِ وَابْنِ السَّبِيْلِۙ وَمَا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُوْرًاۙ ۝
"Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil, serta hamba sahaya yang kamu miliki. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri."

Dalam menjaga keutuhan keluarga harus ada peran negara. Negara bertugas sebagai raa'in (pengurus), maka negara wajib memastikan pemenuhan kebutuhan masyarakat. Dari segi ekonomi, kesehatan, pendidikan, sosial, hukum. Sehingga masyarakat akan lebih maksimal dalam menjalankan perannya. Seorang ayah akan menjadi pencari nafkah yang lapangan kerjanya terjamin. Ibunya akan maksimal dalam mendidik anaknya tanpa embel-embel harus ikut membantu mencari nafkah. Dan anak akan menjaga perannya sebagai tombak generasi penerus bangsa.

Kemaslahatan umat dalam sistem Islam bukan hanya dongeng semata, namun nyata adanya. Sesuai firman Allah ﷻ dalam Al-Qur'an surah Al-Anbiya ayat 107:

وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ
"Kami tidak mengutus engkau (Nabi Muhammad), kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam."

Sebuah urgensi penegakan syariat Islam di tengah pola kehidupan yang sudah porak-poranda akibat sistem yang rusak. Maka saatnya umat sadar, bahwa kita tidak baik-baik saja, saudara kita tidak baik-baik saja. Waktunya kita bergegas membenahi pola pikir, pola hidup agar tercipta sistem yang akan membawa kita pada keberkahan dunia akhirat.

Wallahu a'lam bishawab.

Posting Komentar

0 Komentar