
Oleh: Abu Siddiq
Subscribers Raymond Chin
Di layar YouTube, dalam program Escape Episode 3 pada channel Raymond Chin, kita tidak hanya disuguhi kisah pilu seorang anak yang tumbuh di lingkungan prostitusi dan menjadi korban kekerasan. Lebih dari itu, kita diajak untuk melihat sebuah cermin besar yang memantulkan kenyataan lebih jauh dan mempertontonkan bagaimana luka dalam keluarga bisa menular menjadi luka sosial, yang kemudian menjadi persoalan politik yang tak terhindarkan.
Mas Eky Priyagung, tokoh yang menjadi narasumber dalam episode tersebut, bukan sekadar seorang pembicara dengan cerita tragis. Ia adalah potret nyata anak bangsa yang lahir dari lingkungan penuh stigma, kekerasan, dan ketidakpastian. Dari pernikahan yang tidak stabil, kemiskinan, bullying, hingga pelecehan, hidup Mas Eky adalah gambaran yang seringkali tersembunyi dari mata publik. Namun, lebih dari sekadar kisah dramatis, pesan yang disampaikannya sangat kuat, yaitu toxic parents seringkali bukan monster, melainkan korban dari trauma yang diwariskan dan sistem yang gagal memberikan perlindungan. Di sinilah muhasabah politik harus dimulai.
Ketika Negara Absen, Trauma Jadi Warisan
Kita sering kali menyalahkan orang tua yang kasar, manipulatif, atau yang gagal mendidik anak-anak mereka. Namun, kita jarang bertanya, "Siapa yang mendidik mereka?" Di mana negara ketika mereka tumbuh tanpa akses pendidikan yang layak, tanpa layanan kesehatan mental yang memadai, dan tanpa perlindungan sosial yang memadai?
Kisah Mas Eky mengungkapkan sebuah pola klasik yang sudah terulang berulang kali dalam masyarakat kita, dimana trauma yang tidak disembuhkan akan turun ke generasi berikutnya. Dari keluarga yang awalnya mungkin terhormat, namun dalam waktu dua generasi saja, mereka terjerumus ke dalam kemiskinan dan keterasingan sosial. Ini bukan hanya soal moral yang runtuh, tetapi kombinasi dari kemiskinan, ketidaksetiaan, kurangnya pendidikan, dan lingkungan yang rusak. Semua ini menjadi saling terkait dan saling mempengaruhi. Dan ini bukan hanya isu keluarga. Ini adalah isu kebijakan publik.
Negara yang gagal menyediakan pendidikan berkualitas, layanan psikologis murah atau gratis, sedang membiarkan bom waktu sosial berdetak. Anak-anak yang tumbuh tanpa perlindungan akan menjadi orang tua yang mengulang pola yang sama. Maka, toxic parents bukan sekadar masalah moral pribadi, ini adalah indikator dari kegagalan sistem yang lebih besar, yang seharusnya melindungi, bukan justru membiarkan penderitaan berlanjut.
Narasi “Anak Durhaka” dan Bias Kekuasaan
Dalam diskusi di acara itu, ada satu fenomena sosial yang jarang mendapat kritik: ceramah dan narasi publik seringkali lebih banyak membahas anak durhaka daripada orang tua durhaka. Seolah-olah kesalahan selalu datang dari yang lebih lemah. Dalam banyak struktur sosial, yang kuat selalu lebih dilindungi oleh narasi yang ada. Orang tua memiliki otoritas yang besar, sementara anak berada dalam posisi yang subordinat. Akibatnya, dalil agama, norma budaya, dan tekanan sosial sering digunakan untuk menekan yang lebih lemah agar patuh, bukan untuk mengoreksi yang lebih kuat agar berlaku adil.
Padahal, dalam Islam, tanggung jawab melekat pada setiap individu. Orang tua akan dimintai pertanggungjawaban atas amanah yang diberikan Allah untuk anak-anak mereka. Otoritas orang tua bukanlah tameng yang dapat melindungi dari evaluasi atau koreksi. Jika dalam keluarga saja kita terbiasa membenarkan yang kuat dan menyalahkan yang lemah, mengapa kita terkejut ketika hal yang sama terjadi dalam politik?
Jika dalam keluarga keadilan tidak ditegakkan, bagaimana kita bisa berharap negara akan berjalan dengan adil?
Pendidikan, Senjata Sunyi yang Mengubah Arah
Salah satu bagian paling penting dalam kisah Mas Eky adalah peran pendidikan dan figur ayah angkat yang memberinya ruang aman untuk tumbuh. Meskipun ayahnya hanya lulusan SD, ia tetap mampu menumbuhkan rasa ingin tahu lewat pertanyaan-pertanyaan sederhana yang mendorong Mas Eky untuk terus berpikir. Ibunya, yang sebelumnya penuh luka, perlahan berubah setelah mengenal agama dan melalui proses belajar yang mendalam.
Ini adalah pelajaran besar. Transformasi tidak selalu datang dari fasilitas mewah atau kemudahan hidup, tetapi lebih sering datang dari keberanian berpikir dan lingkungan yang memberi ruang bagi pertumbuhan. Namun, kita tidak bisa menggantungkan harapan pada keberuntungan menemukan mentor atau ustaz yang baik. Itu harus menjadi desain sistem pendidikan kita, bukan kebetulan belaka. Pendidikan yang membangun daya kritis, yang tidak hanya mengandalkan hafalan. Pendidikan agama yang kontekstual, yang bukan sekadar alat legitimasi kekuasaan dalam keluarga.
Karena ketika dalil dipakai tanpa konteks, ia bisa berubah menjadi alat manipulasi. Ketika agama hanya menekankan ketaatan tanpa membahas tanggung jawab, ia bisa menjadi pembenaran untuk kekerasan simbolik maupun fisik.
Muhasabahnya jelas: kita perlu ekosistem pendidikan yang memanusiakan, yang tidak hanya mendisiplinkan.
Keberanian Speak Up dan Budaya Hukum
Mas Eky juga berbicara tentang keberaniannya melaporkan pelecehan seksual yang dilakukan oleh figur agama. Ini adalah langkah yang sangat berat, karena banyak korban yang memilih diam karena takut stigma, takut dianggap aib keluarga, atau bahkan takut disalahkan.
Dalam konteks politik, ini berbicara tentang budaya hukum. Apakah negara benar-benar aman bagi korban untuk berbicara? Apakah sistem hukum kita berdiri untuk melindungi yang lemah, atau justru membuat mereka semakin sulit untuk mendapatkan keadilan? Jika korban harus berjuang sendirian melawan opini publik dan tekanan sosial, itu berarti ada yang tidak beres dalam struktur kita.
Keberanian individu memang penting, tetapi keberanian tidak boleh menjadi satu-satunya benteng bagi keadilan. Sistemlah yang seharusnya mempermudah agar kebenaran bisa menang.
Toxic Parents dan Politik Generasi
Salah satu gagasan penting dalam diskusi itu adalah bahwa iman dan nilai tidak boleh hanya diwariskan begitu saja, tetapi harus dipahami secara sadar dan rasional. Keyakinan yang tidak dipahami akan menjadi rapuh. Hal yang sama berlaku dalam politik. Agama yang hanya diwariskan sebagai slogan, tanpa dipahami nilai dan mekanismenya, akan mudah dibajak. Anak-anak yang dibesarkan tanpa ruang untuk bertanya akan tumbuh menjadi warga yang takut mengkritik.
Keluarga yang sehat adalah tempat untuk berdialog, bukan tempat untuk ketakutan. Negara yang sehat pun demikian. Jika kita ingin generasi yang kuat secara mental dan spiritual, pola asuh harus berubah. Dan jika kita ingin bangsa yang dewasa secara politik, maka budaya dialog harus dimulai dari rumah.
Harapan: Memutus Rantai, Bukan Mengutuk Masa Lalu
Yang paling menggugah dalam kisah Mas Eky bukan hanya luka-lukanya, tetapi keberaniannya memutus rantai penderitaan yang diwariskan. Ia tidak menyangkal masa lalunya, tetapi ia tidak membiarkan masa lalu itu menjadi alasan untuk mengulang kesalahan. Hubungannya dengan ibunya membaik melalui proses panjang, penuh dengan jarak, komunikasi, dan kesadaran.
Pesan yang kita ambil adalah bahwa perubahan itu mungkin terjadi, meskipun lambat dan penuh rasa sakit. Dalam skala negara, ini berarti kita tidak boleh hanya mengutuk generasi sebelumnya atau menyalahkan sistem secara abstrak. Muhasabah politik bukan sekadar ajang untuk menyalahkan, tetapi juga tentang keberanian untuk memperbaiki.
Kita perlu mengakui bahwa banyak masalah sosial (kekerasan dalam keluarga, rendahnya literasi, manipulasi agama, dan budaya bungkam) tidak lahir begitu saja. Masalah ini tumbuh dari kebijakan yang lemah, pendidikan yang timpang, dan budaya yang tidak kritis. Namun, seperti keluarga yang bisa pulih, bangsa pun bisa bangkit jika kita jujur menghadapi luka-luka kita.
Penutup: Politik yang Dimulai dari Rumah
Kisah dalam Escape Episode 3 bukan sekadar cerita tentang toxic parents. Ia adalah refleksi tentang kekuasaan, tanggung jawab, dan keberanian untuk berubah. Tentang bagaimana trauma bisa diwariskan, tetapi juga bisa dihentikan.
Muhasabahnya sederhana namun tajam:
- Jika kita ingin negara yang adil, mulai dari keluarga yang adil.
- Jika kita ingin pemimpin yang bertanggung jawab, latih anak-anak untuk berpikir dan bertanya.
- Jika kita ingin masyarakat berani melawan kezaliman, biasakan budaya speak up tanpa stigma.
Karena pada akhirnya, politik bukan hanya soal kursi dan kebijakan. Politik adalah tentang bagaimana manusia diperlakukan, dimulai dari rumahnya sendiri.

0 Komentar