
Oleh: Abu Siddiq
Subscribers Raymond Chin
Dalam Escape Episode 4 di kanal Raymond Chin, satu pernyataan membuka diskusi dengan keras, yakni ancaman terbesar dunia dalam 2–5 tahun ke depan bukan perang fisik, melainkan misinformasi. Bukan peluru, melainkan narasi. Bukan bom, melainkan algoritma.
Kita hidup di zaman ketika informasi bergerak lebih cepat daripada akal sehat. Yang berbahaya bukan hanya berita palsu yang terang-terangan menipu, tetapi juga informasi yang setengah benar, dipotong konteksnya, atau dibungkus opini tanpa tanggung jawab. Pada titik ini, influencer bukan lagi sekadar pembuat konten. Mereka adalah aktor sosial dengan daya membentuk opini yang nyata.
Pertanyaannya, sudahkah kita sadar bahwa setiap unggahan adalah amanah?
Perang Pikiran yang Tidak Terasa
Misinformasi bukan sekadar gosip ataupun kabar hoax. Ia bisa menjadi alat propaganda, membentuk preferensi politik, bahkan memicu kekerasan. Yang paling mengerikan adalah ketika orang yang terpengaruh justru merasa dirinya benar. Dalam kondisi itu, kontrol terjadi tanpa disadari. Seseorang merasa bebas, padahal sedang diarahkan.
Media sosial memperhalus proses ini karena algoritma membuat kita nyaman dalam lingkaran informasi kita sendiri. Kita disuguhkan konten yang sesuai selera, bukan yang menantang cara berpikir. Lama-kelamaan, kita bukan hanya sulit dikritik, tetapi juga alergi terhadap sudut pandang berbeda.
Di sinilah influencer memainkan peran sentral. Mereka bisa menjadi penjernih, tetapi juga bisa menjadi penguat bias.
Giveaway dan Mentalitas Instan
Salah satu kritik tajam dalam diskusi tersebut adalah fenomena giveaway. Secara kasatmata, hal itu terlihat baik karena berbagi rezeki dan membantu pengikut. Namun, jika dilakukan terus-menerus tanpa edukasi, praktik ini berpotensi membentuk mental instan. Orang terbiasa menunggu bantuan, bukan membangun kapasitas.
Budaya instan ini berbahaya karena mengikis kemandirian berpikir. Ketika seseorang lebih sibuk menunggu hadiah daripada meningkatkan kompetensi, ia sedang dilatih menjadi pasif. Dalam jangka panjang, ini bukan lagi sekadar strategi pemasaran, melainkan pembentukan karakter kolektif.
Muhasabahnya sederhana, apakah konten yang kita buat atau konsumsi membuat orang bertumbuh, atau justru membuat mereka bergantung?
Niat Tidak Cukup, Dampak Tetap Ada
Dalam Islam, niat memang fondasi. Namun dalam ranah publik, niat tidak pernah berdiri sendiri karena selalu ada dampak. Seseorang bisa saja tidak berniat menyesatkan, tetapi jika kelalaiannya membuat orang lain salah paham dan merugikan diri sendiri, tanggung jawab moral tetap melekat.
Semakin besar pengaruh, semakin besar pula beban pertanggungjawaban. Konsep ini selaras dengan prinsip kepemimpinan. Seorang pemimpin yang baik mendapat pahala dari kebaikan yang ia inspirasikan, tetapi juga menanggung konsekuensi dari kerusakan yang ia biarkan.
Seorang influencer dengan jutaan pengikut tidak lagi berbicara sebagai individu biasa. Ia sedang memengaruhi pola pikir ribuan, bahkan jutaan orang. Jika ia meromantisasi kemalasan, ia mungkin sedang menormalisasi sikap pasif. Jika ia membahas isu sensitif tanpa data dan konteks, ia mungkin sedang membuka pintu salah tafsir massal.
Popularitas adalah ujian, bukan sekadar pencapaian.
Potongan Video dan Fitnah Digital
Fenomena lain yang tak kalah berbahaya adalah budaya memotong konten tanpa konteks (Clipper). Klip pendek yang viral sering kali tidak mewakili keseluruhan pesan. Satu kalimat bisa dibelokkan maknanya hanya karena dipisahkan dari penjelasan utuh.
Hal ini memperparah misinformasi. Bukan hanya pembuat konten yang harus berhati-hati, tetapi juga penyebar ulang/Clipper. Dalam etika Islam, menyampaikan berita tanpa tabayun atau klarifikasi adalah bentuk kelalaian. Di era digital, tombol bagikan bisa menjadi sumber pahala jariah, atau sebaliknya menjadi dosa jariah.
Masalahnya, banyak orang lebih tertarik pada sensasi daripada verifikasi.
Edukasi sebagai Satu-Satunya Jalan
Diskusi tersebut menegaskan bahwa solusi utama bukan sensor berlebihan, melainkan edukasi. Tanpa kemampuan berpikir kritis, masyarakat akan selalu menjadi korban narasi yang lebih emosional daripada rasional.
Edukasi bukan hanya soal akademik, tetapi juga literasi digital dan literasi moral. Orang tua punya peran besar dalam mengawasi konsumsi media anak-anak. Guru punya peran membangun kerangka berpikir yang sehat. Influencer pun punya peran memberi contoh tanggung jawab.
Tanpa edukasi, kita hanya memindahkan masalah dari satu platform ke platform lain.
Moral dan Agama, Kerangka dan Arah
Menariknya, diskusi juga membedakan antara moral dan agama. Moral bisa ada tanpa agama, tetapi agama yang dijalankan dengan benar akan melahirkan moral. Artinya, religiusitas tidak otomatis menjamin etika dalam bermedia sosial.
Seseorang bisa rajin beribadah, tetapi tetap ceroboh menyebarkan informasi. Sebaliknya, seseorang yang tidak menampilkan simbol religius bisa saja sangat berhati-hati dan jujur dalam menyampaikan konten.
Di sinilah muhasabah pribadi menjadi penting. Apakah kita menggunakan agama sebagai kompas moral, atau sekadar identitas sosial?
Influencer, Amanah, dan Akhirat
Pada akhirnya, menjadi influencer bukan hanya soal engagement dan monetisasi. Ia adalah amanah. Setiap konten adalah jejak, dan setiap opini membawa kemungkinan pengaruh.
Bayangkan jika satu unggahan menginspirasi ribuan orang untuk belajar, memperbaiki diri, atau mendekat kepada Allah ï·». Itu pahala yang terus mengalir. Namun, bayangkan pula jika satu konten sembrono membuat orang menormalisasi keburukan atau menyebarkan kebencian. Dampaknya bisa berantai.
Muhasabah ini bukan hanya untuk para influencer besar. Setiap kita, dengan akun media sosial masing-masing, adalah influencer dalam lingkup kecil karena kita memengaruhi keluarga, teman, dan jaringan kita.
Maka sebelum mengunggah, ada tiga pertanyaan yang layak kita ajukan pada diri sendiri.
Apakah ini benar?
Apakah ini bermanfaat?
Apakah ini akan membentuk orang menjadi lebih baik?
Jika jawabannya ragu, mungkin yang perlu diubah bukan algoritma, melainkan niat dan kesadaran kita.
Di era misinformasi, kejujuran adalah keberanian. Dan tanggung jawab adalah bentuk ibadah.

0 Komentar