
Oleh: Nora Bunda Zubair
Aktivis Muslimah
Jiwa kritis hari ini begitu mahal. Ketika banyak orang memilih diam, sikap kritis ibarat berlian di antara lumpur. Sayangnya, bukannya mengambil berlian itu, penguasa negeri ini justru memperbanyak lumpur agar berlian tidak terlihat.
Kasus intimidasi pun masih kerap digencarkan. Salah satunya menimpa Ketua UGM, Tiyo Ardianto, terutama setelah ia mengirim surat kepada UNICEF terkait kematian anak usia 10 tahun di NTT akibat tidak mampu membeli alat tulis.
Tidak hanya itu, Tiyo juga menyadarkan sebagian besar masyarakat melalui kontennya yang menyoroti ketidaklayakan MBG bagi anak bangsa dalam pendidikan.
Berbagai teror terjadi akibat upayanya menasihati kebijakan yang ada. Mulai dari dibuntuti orang tak dikenal hingga ke rumah, dihubungi melalui chat dan diancam, sampai dicap sebagai seorang gay di Kampus UGM. (TV One News, 22/02/2026)
Ironisnya, respons negeri ini tampak tidak serius. Yang terdengar justru kecaman keras dari Amnesty International Indonesia, disusul bergeraknya sejumlah organisasi HAM untuk membela sivitas kampus. Terlebih, aksi teror disebut telah terjadi sejak 12 Januari 2026.
Organisasi HAM pun mendesak pihak kepolisian dan pemerintah agar bertindak cepat demi menjaga kebebasan berpendapat di negeri ini. Namun, jika melihat realitanya, langkah konkret tersebut belum tampak. (MetroTV News, 21/01/2026)
Sungguh ironi di negeri kapitalisme sekuler yang mendahulukan kepentingan diri dan komunitasnya. Kewarasan seakan memudar. Pelayan umat di negeri ini bukan melindungi rakyatnya, melainkan memilih diam. Tidak berupaya mengevaluasi diri, namun lebih banyak mengejar target bersama negara adidaya, sebuah sistem demokrasi sekuler yang meniadakan Tuhan dalam mengatur negeri.
Padahal, anak bangsa yang menjelaskan kesalahan kebijakan bukanlah musuh. Mereka menyayangi negeri dan juga para penguasanya. Mana mungkin ada niat buruk. Justru apa yang dilakukan pemuda hari ini lahir dari kepedulian, agar para pemimpin kelak dapat memimpin dengan lebih baik.
Syariah memandang intimidasi dan teror sebagai pelanggaran terhadap syariat. Menafikan jiwa amar ma'ruf nahi mungkar yang dicontohkan Rasulullah ï·º adalah kemaksiatan. Astaghfirullah. Seharusnya ucapan, diam, dan perbuatan Rasulullah ï·º menjadi rujukan hukum bagi umatnya. Allah ï·» pun menegaskan bahwa Muhammad ï·º adalah suri teladan yang tiada tandingannya.
Kritik bukanlah kebencian. Kritik adalah jalan menuju perbaikan. Di dalam kritik terdapat nasihat karena Allah mengamanahkannya kepada orang berilmu, yang lebih memahami penyelesaian berbagai persoalan kehidupan.

0 Komentar