PASCABENCANA SUMATRA, ANAK YATIM PIATU BUTUH NEGARA


Oleh: Ledy Ummu Zaid
Penulis Lepas

Bencana Sumatra menyisakan kesedihan tersendiri bagi anak-anak yatim piatu di wilayah terdampak. Tak sedikit dari mereka yang kehilangan bapak atau ibu tercinta, bahkan keduanya. Tak hanya kehilangan kasih sayang, anak-anak tersebut juga terancam kehilangan masa depannya. Besar harapan mereka agar kebutuhan dasarnya tetap terpenuhi, seperti pendidikan dan kesehatan.


Banyak Anak Yatim Piatu di Sumatra Kehilangan Harapan

Dilansir dari laman BBC (07/01/2026), Gio Farezky Ramadhan yang usianya belum genap tiga tahun telah kehilangan kedua orang tuanya. Usut punya usut, sang ibu, Chintya Rizkyka, belum ditemukan. Hal ini lantaran proses pencarian korban banjir di seluruh Aceh dihentikan pada 25 Desember 2025.

Tak tinggal diam, pihak keluarga tetap berusaha menemukan Chintya Rizkyka dan kakaknya. Kakek Gio pun menitipkan pesan kepada warga dan nelayan di kampungnya agar melaporkan jika ada penemuan jenazah baru. Adapun bencana banjir bandang dan longsor di Aceh ini telah merenggut 514 jiwa, dan 31 orang lainnya belum ditemukan.

Di sisi lain, Natasya (10) yang tinggal di Kecamatan Bebesen, Aceh Tengah, juga kehilangan sosok ibu. Tak hanya itu, dua adiknya juga menjadi korban bencana Sumatra ini. Hermansyah Putra, sang ayah, menceritakan kerinduan yang dirasakan anaknya. Akhirnya, mereka sering mengunjungi makam ibunda Natasya.

Ke depan, Natasya dan adiknya akan diasuh oleh adik almarhumah ibu Natasya. Bibi Natasya tersebut memang tampak masih muda, tetapi ia sangat menyayangi keponakan-keponakannya. Ia sudah menganggap mereka seperti anak sendiri karena sudah terbiasa memandikan, menidurkan, dan menyuapi mereka.

Terlepas dari itu, baik keluarga Gio maupun Natasya tetap berharap adanya bantuan pemerintah. Terkait pendidikan anak-anak yatim piatu tersebut, keluarga berharap ada uluran tangan pemerintah dalam menyediakan pendidikan bagi mereka yang kehilangan orang tua.

Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) menyampaikan kepada pemerintah agar menyediakan tempat khusus bagi anak-anak yatim piatu korban bencana Sumatra, seperti yang dilansir dari laman Antaran (08/01/2026). Kemudian, pemerintah juga diharapkan dapat bekerja sama dengan panti asuhan sembari menunggu tempat khusus tersebut tersedia. Adapun untuk pendampingan, LPAI menyarankan perguruan tinggi dapat mengirimkan mahasiswanya untuk menciptakan lingkungan yang ramah anak dan membantu memulihkan mereka dari trauma.

Di sisi lain, juru bicara posko penanggulangan bencana Aceh, Murthalamuddin, mengatakan belum ada data seluruh anak yatim piatu. Adapun pemerintah tampak masih fokus pada proses penanganan darurat dan pemulihan. Menurutnya, pemerintah masih repot mendata seluruh korban, hunian sementara, kebutuhan pokok, dan lain-lain. Oleh karenanya, anak-anak yatim piatu harus sabar menunggu di pengungsian.

Seperti yang kita ketahui, Pemerintah Aceh mengalokasikan anggaran beasiswa yatim sebesar Rp165 miliar pada tahun 2025. Sementara itu, jumlah tersebut ternyata lebih besar dibandingkan tahun ini. Dilansir dari laman BBC (07/01/2026), Menteri Sosial Saifullah Yusuf mengatakan pemerintah pusat harus memberi layanan perlindungan dan jaminan sosial kepada anak yatim piatu korban bencana Sumatra.

Mereka berharap dapat dibiayai sekolahnya oleh pemerintah hingga menjadi pribadi yang mandiri dan tangguh di masa depan. Meski langkah yang harus dilakukan adalah mendata seluruh anak yatim piatu ini, negara memang sudah semestinya berupaya memenuhi kebutuhan dasar rakyat.


Anak-anak Yatim Piatu Korban Bencana Terabaikan

Miris, hingga hari ini negara belum tuntas menyelesaikan persoalan penanggulangan bencana banjir bandang dan tanah longsor di Sumatra Utara (Sumut), Sumatra Barat (Sumbar), dan Aceh. Adapun rumah, sekolah, dan fasilitas umum lainnya masih sangat memprihatinkan. Banyak korban yang belum bisa kembali ke rumahnya karena kondisinya rusak parah.

Dalam sistem kapitalisme, negara senantiasa tidak mau ambil pusing mengurus rakyatnya dengan sungguh-sungguh. Sebagai contoh, pemulihan pascabencana Sumatra ini jelas tampak berbelit-belit dan berlangsung sangat lama. Korban yang tinggal di pengungsian tentu kurang mendapat perhatian dari pemerintah. Pada awal pascabencana, para pengungsi sering hanya makan mi instan. Kemudian, sekolah-sekolah darurat juga belum tersedia.

Negara acapkali memandang urusan rakyat dengan kacamata kapitalisme. Jika bisa menguntungkan bagi negara, barulah akan dilakukan, termasuk rencana memberikan lumpur sisa banjir bandang kepada swasta. Gubernur Aceh telah menyampaikan kepada Presiden RI Prabowo Subianto terkait hal ini. Kemudian, orang nomor satu tersebut mendukung niat baik swasta yang ingin membeli lumpur banjir tersebut.


Perlindungan Islam terhadap Anak Yatim Piatu

Pemandangan yang berbeda tentu dapat ditemui dalam sistem Islam. Islam memposisikan seorang khalifah atau pemimpin sebagai pelayan umat. Dengan kata lain, khalifah akan menerapkan syariat Islam kaffah (menyeluruh) untuk mengurus segala lini kehidupan umat. Tak tanggung-tanggung, ia akan berperan sebagai tameng yang melindungi setiap individu rakyat.

Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

الإمام جنة يقاتل من ورائه ويتقى به
Sesungguhnya seorang imam itu (laksana) perisai. Ia dijadikan perisai; manusia berperang di belakangnya dan berlindung dengannya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Dalam hal ini, negara atau yang biasa disebut Daulah Islamiyah akan menyediakan kebutuhan dasar rakyat, seperti pendidikan dan kesehatan, secara gratis. Kemudian, anak-anak yatim piatu tentu akan dipastikan bagaimana hadhanah atau perwalian yang dimiliki. Hadhanah sendiri adalah pengurusan anak yang belum mampu mengurus dirinya sendiri.

Adapun anak-anak yatim piatu yang sudah tidak memiliki keluarga maupun kerabat sama sekali, negara harus hadir dalam menyediakan tempat tinggal yang layak dan menjamin seluruh kebutuhannya. Seperti yang diketahui, Allah subhanahu wa ta’ala melindungi hak anak yatim piatu. Oleh karenanya, Daulah tentu akan serius memelihara mereka.

Daulah memiliki sistem ekonomi yang stabil karena pendapatan negara didapat dari sumber yang jelas, yakni pengelolaan sumber daya alam secara mandiri. Kemudian, Baitul Mal tentu mampu mencakup seluruh kebutuhan Daulah dalam memenuhi kebutuhan anak-anak yatim piatu yang sudah tidak memiliki keluarga. Adapun semuanya dijalankan berdasarkan tuntunan hukum syarak, yang meniadakan praktik ribawi guna mendapat keberkahan.


Khatimah

Tidak seperti hari ini, sistem ekonomi kapitalisme masih memimpin dunia, tak terkecuali pada ekonomi di negeri ini. Mulai dari penanganan hingga pemulihan pascabencana tampak lambat dan tak kunjung usai. Lantas, bagaimana nasib anak-anak yatim piatu korban bencana Sumatra ini? Tentu, berharap pada sistem kehidupan yang sahih menjadi sebuah cita-cita yang agung sebagai muslim. Hidup di bawah naungan Khilafah (kepemimpinan Islam) yang mampu menerapkan syariat Islam secara menyeluruh seharusnya menjadi perjuangan dan cita-cita bersama.


Referensi:
  • https://www.bbc.com/indonesia/articles/cq84q8lnw1lo
  • https://fh.untar.ac.id/2026/01/09/negara-tidak-boleh-absen-tanggung-jawab-hukum-atas-anak-yatim-piatu-korban-bencana-sumatra-2025/
  • https://sumbar.antaranews.com/berita/737441/lpai-usul-tempat-khusus-bagi-anak-yatim-piatu-korban-banjir-sumatra
  • https://mahadsyarafulharamain.sch.id/kalau-bukan-khilafah-siapa-yang-akan-melindungi-umat/
  • https://odysee.com/@MuslimahMediaCenter:0/Di-Balik-Banjir-Sumatra-Anak-Anak-Kehilangan-Orang-Tua-dan-Harapan:7

Posting Komentar

0 Komentar