
Oleh: Alma Zayyana
Penulis Lepas
Pembangunan New Gaza (Gaza baru) menjadi buah bibir di kalangan dunia internasional. Pengumuman resmi Amerika Serikat mengenai rencana mereka membangun puluhan gedung pencakar langit di sepanjang pantai dan bekas perumahan di kawasan Rafah yang telah luluh lantak mengundang perhatian publik skala internasional. Secara resmi, Amerika Serikat mengundang 50 negara untuk ikut serta dalam "Dewan Perdamaian Gaza". Namun, sejumlah negara menolak untuk mengonfirmasi atau secara terang-terangan menolak untuk bergabung dengan dewan tersebut. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, selaku pihak terkait, mengaku telah diundang menjadi bagian dari dewan tersebut. (MetroTV News, 22/01/2026)
Upaya Amerika dalam proyek New Gaza ibarat ada udang di balik batu. Ambisi bengis negara adidaya ditutupi proyek miliaran dolar. Jared Kushner, selaku arsitek rekonstruksi Gaza sekaligus menantu dan penasihat Donald Trump, memaparkan pendekatan yang berbeda melalui proposalnya. Alih-alih menjalani jalan perdamaian dan diplomasi, ia memilih menjadikan tanah Palestina sebagai aset yang menghasilkan banyak keuntungan. Bagian sensasional dari proposalnya adalah dibangunnya 180 gedung tinggi yang berfungsi sebagai hunian, hotel, ruang usaha, dan fasilitas komersial.
Namun, dari banyaknya slide mengenai aset dan fasilitas bernilai triliunan, proposal hasil Jared Kushner hanya berasal dari materi konsep dan visualisasi perencanaan, yakni hanya ambisi seorang pebisnis, bukan rencana yang telah disetujui secara hukum atau politik. Banyak pengamat menilai bahwa pembangunan ekonomi tak lepas dari isu kedaulatan, keamanan, dan hak politik warga Palestina. Sehingga memicu perdebatan sengit yang memunculkan pertanyaan besar, yakni bukan kemampuan dibangunnya 180 gedung tinggi, melainkan untuk siapa dan bagaimana kerangka kekuasaannya kelak?
Terlepas dari pro dan kontra proyek, New Gaza merupakan realisasi dari solusi dua negara (national state) yang diberikan Perserikatan Bangsa-Bangsa dan sejumlah negara Barat untuk menghasilkan perdamaian di wilayah Gaza. Namun, bila kita amati, proyek New Gaza adalah usaha Amerika Serikat untuk menghilangkan jejak genosida di Gaza. Sekian lama, Israel telah membombardir Gaza dengan ribuan amunisi dan menjatuhkan ratusan bahkan ribuan bom nuklir. "Gaza telah dijatuhi 90.000 ton amunisi," imbuh Jared Kushner ketika mempresentasikan visinya di Davos. Dengan dibangunnya New Gaza, Amerika Serikat perlu membersihkan puing-puing pasca-perang. Dengan itu, hilang sudah bukti kebiadaban Israel atas persetujuan Amerika Serikat.
Terlebih, pembentukan Dewan Perdamaian Gaza (DPG) merupakan penambah bumbu Amerika Serikat sebagai upaya mereka mengokohkan tali kendali politik internasional. Bahkan, Amerika Serikat merangkul negara-negara Muslim untuk menstimulasi rencananya dalam menguasai Gaza secara total.
Siasat yang dilakukan negara-negara Barat, terkhusus Israel, dalam rangka mengambil alih tanah Palestina sudah seharusnya dihentikan dan dilawan. Palestina merupakan tanah yang telah dibebaskan Khalifah Umar, sejatinya milik kaum Muslim. Negara Muslim sudah seharusnya menolak secara tegas dan jelas terjadinya proyek New Gaza. Karena Allah melarang kaum Muslimin tunduk dan patuh kepada musuh, yakni negara kafir. Sebagaimana tertulis di Surat Al-Baqarah Ayat 193.
Namun, nyatanya negara Islam memberikan loyalitas mereka kepada negara kafir. Bergabungnya Indonesia pada Dewan Perdamaian Gaza merupakan bukti konkrit tunduknya negara pada musuhnya.
Dengan itu, sudah seharusnya mengganti negara yang tunduk pada musuh menjadi negara yang tunduk pada hukum Allah, yakni Khilafah. Sehingga mampu menggulingkan kekuasaan musuh hingga akar-akarnya dan mampu membebaskan Palestina secara hakiki, bukan hanya memberikan janji-janji manis semata. Namun, menjadikan jihad pembebasan Palestina sebagai prioritas membutuhkan suara masyarakat dan dukungan mereka. Untuk mencapai hal tersebut, dibutuhkan dakwah yang menggiring opini umum yang bersinergi dengan perjuangan jamaah bersama partai politik ideologis.
Wallahu a'lam bishawab.

0 Komentar