RAMADAN DAN GEMBIRA KEMBALINYA MANHAJ ISLAM


Oleh: Waode Arumaini Ali, S.E.
Kolumnis Publik di Sulawesi Selatan

Ramadan selalu datang memberi rasa gembira kepada kaum muslim. Kegembiraan semacam apa yang semestinya hadir di bulan suci ini? Apakah sekadar kegembiraan ritual yang meningkatkan ibadah personal dan suasana religius sesaat? Atau kegembiraan yang lebih mendasar? Kegembiraan ideologis karena kembali diingatkan pada tuntunan Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam mengatur seluruh bidang kehidupan melalui manhaj Islam yang sempurna?

Ramadan merupakan bulan ibadah sekaligus momentum turunnya Al-Qur'an sebagai petunjuk hidup. Kalamullah diturunkan untuk dibaca secara spiritual, juga sebagai pedoman dalam membangun tatanan individu, masyarakat, hingga negara. Karena itu, kegembiraan menyambut Ramadan sejatinya merupakan komitmen untuk menyambut kembali kehadiran Islam sebagai sistem kehidupan yang utuh dan mengikat.

Puasa diwajibkan untuk membentuk ketakwaan. Takwa bukan konsep individual yang terpisah dari kehidupan sosial. Takwa merupakan ketaatan menyeluruh, termasuk menjadikan hukum Allah ï·» sebagai rujukan tunggal. Ketika Al-Qur'an memosisikan diri sebagai petunjuk manusia, maka Islam hadir mengatur urusan ibadah, muamalah, akhlak, sekaligus tata publik dalam satu kesatuan manhaj yang padu.

Ramadan juga menjadi momen refleksi sosial. Lapar dan dahaga mengajarkan rasa empati terhadap kaum lemah. Islam membentuk moralitas individu, juga menawarkan solusi sistemik agar kemiskinan dan ketidakadilan tidak berulang. Syariah mengatur distribusi kekayaan yang adil, tanggung jawab negara, serta perlindungan masyarakat secara menyeluruh.

Pemahaman ini sejalan dengan pandangan Ibnu Taimiyah yang menegaskan tujuan kekuasaan dalam Islam untuk menegakkan keadilan dan mencegah kezaliman. Hanya dengan kekuasaan yang dipandu syariat, agama akan tegak secara utuh dalam kehidupan. Syariah merupakan norma moral, juga inti pengatur realitas dalam manhaj Islam sebagai sistem kehidupan.

Kenyataan hari ini menunjukkan persoalan umat tidak cukup diselesaikan dengan pendekatan moral personal. Amal kebaikan seperti zakat dan sedekah tetap penting, namun dampaknya akan terbatas jika tidak ditopang oleh sistem yang adil. Manhaj Islam sebagai sistem kehidupan diturunkan agar keadilan tidak bergantung pada kebaikan oknum individu, melainkan dijamin oleh aturan yang mengikat seluruh lapisan masyarakat.

Di sinilah perbedaan antara Islam sebagai wacana moral dengan Islam sebagai manhaj yang benar-benar diterapkan.

Sejarah membuktikan penerapan Islam secara kaffah mampu menghadirkan keamanan bagi seluruh warga, termasuk perlindungan terhadap hak-hak kaum zimmi. Inilah makna sejati rahmatan lil ‘alamin, rahmat yang lahir dari bekerjanya manhaj Islam secara nyata, bukan sekadar jargon normatif di atas mimbar.

Ramadan tidak layak dimaknai sempit sebagai bulan ritual yang terpisah dari persoalan bangsa. Justru ini momentum strategis untuk membangun kembali kesadaran umat agar menyatukan agama dengan kehidupan. Islam hadir bukan untuk diisolasi dalam ruang pribadi, tetapi mengatur urusan publik dengan tatanan yang adil dan bermartabat, sehingga dapat memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.

Gembira menyambut Ramadan berarti kesiapan untuk berubah. Lebih sekadar perubahan perilaku pribadi, tetapi sampai perubahan cara pandang terhadap dunia. Nilai-nilai kejujuran, disiplin, dan keadilan akan tumbuh kokoh bila ditopang oleh sistem yang selaras dengan wahyu. Maka, menghadirkan manhaj Islam secara utuh adalah bagian dari konsekuensi keimanan.

Pada titik inilah Ramadan menemukan maknanya yang paling hakiki. Ia bukan hanya bulan peningkatan ibadah, tetapi momentum pembentukan kesadaran bersama. Ketika manhaj Islam dijadikan pedoman secara utuh, nilai-nilai Ramadan menjadi tatanan masyarakat yang adil, beradab, dan menenteramkan. Inilah kegembiraan sejati. Kebangkitan manhaj Islam sebagai solusi kehidupan dan implementasi syariah-Nya sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta membangkitkan rasa syukur dan optimisme yang mendalam.

Posting Komentar

0 Komentar