
Oleh: Sunartono
Penulis Lepas
Ramadan selalu datang setiap tahun. Ia mengetuk pintu hati, menghadirkan suasana yang berbeda, seperti masjid yang lebih ramai, tilawah yang lebih sering terdengar, dan doa-doa yang lebih khusyuk dipanjatkan. Namun, pertanyaan yang patut kita renungkan adalah apakah Ramadan benar-benar mengubah kita, ataukah ia hanya menjadi rutinitas tahunan yang berlalu tanpa bekas?
Allah mewajibkan puasa bukan hanya agar kita merasakan lapar dan dahaga. Dalam Al-Qur’an, khususnya Surah Al-Baqarah ayat 183, dijelaskan bahwa tujuan puasa adalah agar kita menjadi orang-orang yang bertakwa. Inilah inti dari seluruh ibadah Ramadan, yaitu ketakwaan.
Ketakwaan bukan hanya identitas religius, tetapi kesadaran mendalam bahwa Allah selalu melihat, mendengar, dan mengetahui. Ketakwaan melahirkan rasa takut yang membuahkan kehati-hatian, sekaligus cinta yang menghasilkan ketaatan. Seseorang yang bertakwa bukan hanya rajin beribadah, tetapi juga menjaga lisannya, hartanya, pandangannya, dan setiap keputusan yang diambilnya, karena ia sadar bahwa semua itu akan dipertanggungjawabkan.
Puasa menjadi latihan paling jujur dalam membangun ketakwaan. Tidak ada manusia yang benar-benar tahu apakah kita berpuasa dengan sungguh-sungguh atau tidak. Kita bisa saja makan diam-diam saat sendirian, tetapi jika kita tetap menahan diri, itu bukan karena takut kepada manusia, melainkan karena yakin Allah mengawasi kita. Inilah yang menjadikan puasa sebagai madrasah keikhlasan.
Namun, kenyataannya, tidak sedikit orang yang telah berpuasa bertahun-tahun, namun perubahan akhlaknya nyaris tak terlihat. Mengapa? Bisa jadi karena puasa hanya berhenti sebagai ritual dan tidak menjadi kesadaran hidup. Ramadan dijalani, tetapi nilai ketakwaannya tidak dibawa hingga Syawal dan bulan-bulan berikutnya.
Ketakwaan seharusnya tidak berakhir saat takbir Idulfitri berkumandang. Sebaliknya, ia justru diuji setelah Ramadan berlalu. Apakah kita tetap jujur ketika tidak ada suasana religius yang menguatkan? Apakah kita tetap menjauhi riba, korupsi, kedzaliman, dan maksiat ketika tidak ada dorongan kolektif seperti di bulan suci?
Keimanan adalah akar dari semua ini. Tanpa iman yang kokoh kepada Allah, surga, dan neraka, ketakwaan hanya akan menjadi slogan. Namun, jika iman tertanam kuat, ia akan melahirkan amal saleh secara alami. Seseorang yang benar-benar yakin akan hari hisab tidak akan ringan mengambil hak orang lain.
Lebih jauh lagi, ketakwaan bukan hanya urusan pribadi, tetapi juga memiliki dampak sosial dan peradaban. Perubahan dunia tidak dimulai dari sistem besar, tetapi dari hati yang tunduk kepada Allah. Rasulullah dan para sahabat memulai perubahan dari pembenahan akidah dan akhlak, yang akhirnya membentuk masyarakat yang berkeadilan.
Individu yang bertakwa akan membentuk keluarga yang kokoh. Keluarga yang bertakwa akan melahirkan masyarakat yang kuat. Masyarakat yang bertakwa akan melahirkan kepemimpinan yang adil. Dan dari sanalah peradaban yang bermartabat tumbuh.
Sebaliknya, krisis moral, sosial, dan kepemimpinan sering kali berakar pada krisis ketakwaan. Ketika rasa takut kepada Allah melemah, hukum bisa dimanipulasi, amanah bisa dikhianati, dan kepentingan pribadi mengalahkan kemaslahatan umat.
Karena itu, Ramadan seharusnya menjadi titik balik. Ia bukan sekadar momentum emosional, tetapi momentum transformasi. Ramadan mengajarkan bahwa menahan diri itu mungkin, bahwa kita mampu meninggalkan yang halal demi Allah, apalagi meninggalkan yang haram.
Refleksi akhirnya kembali kepada diri masing-masing. Apakah Ramadan tahun ini benar-benar mendekatkan kita kepada derajat muttaqin? Apakah rasa diawasi Allah semakin hidup dalam keseharian kita? Apakah keputusan-keputusan kita (di rumah, di tempat kerja, dalam bermasyarakat) lebih dilandasi ketakwaan daripada kepentingan duniawi?
Jika jawabannya mulai condong pada perubahan, sekecil apa pun itu, maka Ramadan telah bekerja dalam diri kita. Dan dari perubahan kecil itulah, gelombang besar perubahan umat dan dunia bisa dimulai. Pada akhirnya, kebangkitan peradaban bukan dimulai dari kekuasaan, melainkan dari hati yang bertakwa.

0 Komentar