RAMADAN DAN UJIAN KEJUJURAN IMAN


Oleh: Abu Ghazi
Penulis Lepas

Kita hidup di zaman ketika identitas keislaman begitu mudah diucapkan. Kalimat syahadat fasih di lisan, simbol-simbol agama menghiasi ruang publik, dan ritual dijalankan dengan tertib. Namun, ada satu pertanyaan yang jarang diajukan secara jujur: mengapa iman yang begitu ramai diucapkan justru sepi dari perubahan nyata ketika menghadapi kemungkaran?

Al-Qur’an menegaskan bahwa orang beriman bukan sekadar mereka yang berkata, “Kami beriman.” Dalam Surah Al-Hujurat ayat 14, Allah membedakan secara tegas antara “berislam” dan “beriman”. Ada orang-orang yang menyatakan telah beriman, tetapi Allah memerintahkan Nabi untuk mengatakan bahwa mereka baru berislam, karena iman belum masuk ke dalam hati mereka. Di sinilah letak persoalan mendasarnya: iman bukan sekadar status administratif, melainkan kondisi batin yang melahirkan tindakan.

Keimanan sejati selalu memiliki konsekuensi. Ia menuntut pembuktian. Orang yang benar-benar beriman kepada Allah dan Rasul-Nya tidak berhenti pada pengakuan, tetapi siap berkorban dengan harta dan jiwa. Al-Qur’an menyebut mereka sebagai siddiqun, orang-orang yang benar imannya. Artinya, iman memiliki standar objektif: ia harus tampak dalam keberanian, pengorbanan, dan komitmen terhadap kebenaran.

Masalahnya, hari ini kita menyaksikan spektrum keimanan yang kabur. Ada yang muslim secara lahir, tetapi hatinya kosong dari keyakinan mendalam. Ada yang rajin beramal, tetapi tanpa kesadaran dan ketundukan batin. Bahkan ada yang mengaku beriman, tetapi tak pernah merasa terusik ketika nilai-nilai Islam diabaikan dalam kehidupan sosial dan politik. Di sinilah iman berubah menjadi label, bukan pencerahan yang menjadi landasan menjalani hidup.

Ibnu Qayyim al-Jauziyah menjelaskan bahwa iman memiliki dua sisi yang tak terpisahkan: zahir dan batin. Zahir berupa pengakuan lisan dan amal nyata. Batin berupa keyakinan yang kokoh, kecintaan, dan ketundukan hati kepada Allah. Jika salah satu terlepas, bangunan iman menjadi pincang. Amal tanpa keyakinan hanyalah rutinitas kosong. Keyakinan tanpa amal hanyalah klaim yang tak terbukti.

Inilah kritik paling tajam bagi umat hari ini: iman kita mungkin ada, tetapi tidak cukup kuat untuk menggerakkan perubahan. Kita prihatin terhadap kemungkaran, tetapi enggan bertindak. Kita berbicara tentang keadilan, tetapi takut mengambil risiko. Kita menginginkan kebangkitan umat, tetapi tak siap berkorban untuk mewujudkannya. Jika iman tidak melahirkan keberanian dan aksi, patutkah ia disebut iman yang utuh?

Lebih problematis lagi, sebagian keimanan dibangun secara dogmatis, diterima tanpa pemahaman, diwarisi tanpa proses berpikir. Padahal, Islam tidak pernah melarang nalar. Justru, iman yang kokoh lahir dari kesadaran dan pemikiran yang mendalam. Keyakinan yang lahir dari pemahaman akan jauh lebih tahan terhadap godaan dan tekanan. Sebaliknya, iman yang hanya ikut-ikutan mudah goyah ketika diuji.

Karena itu, persoalan umat bukan sekadar kurangnya jumlah muslim, melainkan kualitas iman yang belum matang. Kita membutuhkan iman yang rasional sekaligus spiritual; iman yang diyakini dengan akal dan dihidupi dengan hati; iman yang tidak berhenti di sajadah, tetapi menjalar ke ruang sosial, ekonomi, dan politik.

Ramadan seharusnya menjadi momentum evaluasi. Bukan hanya menghitung berapa kali khatam Al-Qur’an atau berapa malam tarawih yang dijalani, tetapi menilai apakah iman kita benar-benar bertambah kuat. Apakah ia lebih menggerakkan? Apakah ia membuat kita lebih berani menegakkan kebenaran dan meninggalkan kemalasan?

Jika setelah Ramadan kita tetap sama (ritual bertambah, tetapi keberanian tidak; ibadah meningkat, tetapi kepedulian stagnan) maka ada yang perlu diperbaiki pada fondasi iman kita. Sebab, iman sejati tidak pernah diam. Ia selalu menggerakkan, mengubah, dan membentuk arah hidup.

Pada akhirnya, ukuran iman bukan seberapa sering ia diucapkan, tetapi seberapa jauh ia mengubah diri dan realitas. Iman yang benar bukan hanya diyakini dan dirayakan, melainkan diperjuangkan. Dan di sanalah perbedaan antara sekadar berislam dan benar-benar beriman menjadi sangat nyata.

Posting Komentar

0 Komentar