
Oleh: Ummu Khadeejah
Muslimah Peduli Umat
Dunia internasional terus disuguhi narasi “gencatan senjata” dan Board of Peace (BoP) sebagai jalan keluar bagi tragedi kemanusiaan di Gaza. Namun, di balik meja perundingan yang megah dan retorika perdamaian yang ditiupkan Amerika Serikat (AS), realitas di lapangan berbicara sebaliknya: bom tetap jatuh, nyawa tetap melayang, dan Zionis Israel berulang kali mengangkangi perjanjian yang mereka tandatangani sendiri.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa setiap kali kesepakatan gencatan senjata dicapai, Zionis Israel dengan sengaja mencari celah untuk melanggarnya. Alih-alih menghentikan agresi, jeda tersebut sering kali digunakan untuk mengatur ulang strategi militer atau melakukan provokasi baru di wilayah permukiman. Gencatan senjata bukanlah akhir dari perang, melainkan alat kontrol agar perlawanan melemah sementara penjajahan tetap berjalan.
Sangat naif bagi masyarakat dunia, terutama pemimpin negeri Muslim, untuk terus menaruh kepercayaan pada inisiatif damai yang diprakarsai AS. Ada beberapa poin krusial yang harus dipahami:
- Gencatan senjata dan BoP hanyalah instrumen AS untuk memberikan citra sebagai “penengah”, padahal mereka adalah pemasok utama senjata bagi Zionis. Ini merupakan taktik untuk melanggengkan pendudukan secara halus.
- Penguasa negeri-negeri Muslim seolah lumpuh. Dengan dalih menjaga stabilitas kawasan dan mencegah perluasan perang, mereka justru terjebak dalam narasi penjajah. Bergabungnya mereka dalam skema BoP merupakan bukti nyata ketidakberdayaan politik di hadapan hegemoni Barat.
Allah ﷻ telah memperingatkan tentang karakter pengkhianatan ini dalam Al-Qur’an:
وَاِنْ نَّكَثُوْٓا اَيْمَانَهُمْ مِّنْۢ بَعْدِ عَهْدِهِمْ وَطَعَنُوْا فِيْ دِيْنِكُمْ فَقَاتِلُوْٓا اَىِٕمَّةَ الْكُفْرِۙ اِنَّهُمْ لَآ اَيْمَانَ لَهُمْ
“Dan jika mereka melanggar sumpah setelah mereka berjanji, dan mereka mencerca agamamu, maka perangilah pemimpin-pemimpin kafir itu, karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang tidak dapat memegang janji…” (QS. At-Taubah: 12).
Islam menawarkan solusi riil dalam menghadapi penjajahan, yaitu umat Islam harus keluar dari kotak “perdamaian semu” dan kembali pada tuntunan ideologis yang tegas.
Umat harus sadar bahwa kemerdekaan Palestina tidak akan pernah lahir dari tangan mereka yang menyuplai bom. Sikap tegas harus diambil: menolak segala bentuk kompromi yang membiarkan Zionis tetap bercokol di tanah kharaji Palestina. Rasulullah ﷺ bersabda:
لاَ يُلْدَغُ الْمُؤْمِنُ مِنْ جُحْرٍ وَاحِدٍ مَرَّتَيْنِ
“Tidak selayaknya seorang mukmin dipatuk ular dari lubang yang sama sebanyak dua kali.” (HR Bukhari dan Muslim).
Percaya pada janji AS–Israel untuk kesekian kalinya merupakan bentuk “jatuh ke lubang yang sama”.
Harus ada kesatuan politik dan kepemimpinan (Khilafah) untuk melawan hegemoni global seperti AS, dan hal tersebut tidak dapat dilakukan oleh negara kecil yang terpecah belah. Dibutuhkan kesatuan politik umat di bawah satu kepemimpinan. Tanpa perisai (junnah), umat akan terus menjadi santapan politik penjajah. Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّمَا الإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ
“Sesungguhnya al-imam (kepala negara) itu laksana perisai, tempat orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya.” (HR Muslim).
Solusi hakiki bagi penjajahan di Palestina bukanlah diplomasi meja makan, melainkan mobilisasi militer (jihad) untuk mengusir penjajah. Para penguasa Muslim harus didorong untuk mengirimkan tentara guna membebaskan Masjidil Aqsa, bukan sekadar mengirimkan bantuan logistik. Allah ﷻ berfirman:
قَاتِلُوْهُمْ يُعَذِّبْهُمُ اللّٰهُ بِاَيْدِيْكُمْ وَيُخْزِهِمْ وَيَنْصُرْكُمْ عَلَيْهِمْ
“Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka serta menolong kamu terhadap mereka…” (QS At-Taubah: 14).
Gencatan senjata ala AS–Israel adalah racun yang dibungkus madu. Perdamaian sejati hanya akan terwujud saat tanah Palestina kembali ke pangkuan umat Islam seutuhnya di bawah naungan Khilafah yang menerapkan hukum Allah secara kaffah.
Wallahu a‘lam bish-shawab.

0 Komentar