USTAZ FELIX SIAUW: UANG BUKAN TUJUAN, MELAINKAN ALAT UNTUK DAKWAH


Oleh: Darul Iaz
Jurnalis

Ustaz Felix Siauw menegaskan bahwa uang bukanlah tujuan hidup, melainkan perantara yang dapat digunakan untuk menguatkan ibadah dan dakwah. Ia menyampaikan perubahan cara pandangnya terhadap harta setelah memeluk Islam: dari yang semula memandang uang sebagai “segala-galanya” menjadi sesuatu yang hanya “pelayan” bagi tujuan akhirat.

Kalau sebelum Islam, ada harta bahagia, enggak ada harta sengsara. Kalau dalam Islam, ada harta bisa menuju akhirat, enggak ada harta juga bisa menuju akhirat,” ujar Ustaz Felix dalam penyampaiannya.

Ustaz Felix menjelaskan, perubahan tersebut muncul karena keyakinan tentang kehidupan setelah mati, yang menurutnya membuat dunia dipahami sebagai sesuatu yang pasti ditinggalkan. Ia menilai dunia menjadi bernilai ketika terhubung dengan tujuan akhirat, dan sebaliknya menjadi tidak bermakna apabila lepas dari orientasi itu.

Ia juga menekankan pentingnya karakter dan metodologi dalam menuntut ilmu. Menurutnya, bukan hanya isi ilmu yang penting, tetapi juga bagaimana seseorang membangun ilmu itu, termasuk integritas dan cara hidup guru yang menjadi teladan.

Ketika kita mengumpulkan ilmu, bukan hanya lihat emasnya, tapi lihat juga gimana cara ngumpulin emas itu. Itulah karakter,” katanya.

Dalam kisah pribadinya, Ustaz Felix mengungkap bahwa pada masa awal memeluk Islam ia menjalani fase kesulitan ekonomi, termasuk menjual mas kawin istrinya untuk kebutuhan pulang kampung. Namun, ia menilai kondisi tersebut tidak mengubah prinsipnya, karena harta baginya hanyalah sarana yang bisa berganti bentuk, bila tidak ada uang, masih ada tenaga, akal, dan waktu yang dapat diupayakan.

Ia juga mengkritisi kebiasaan sebagian pihak yang bertanya soal “bisyarah” atau kompensasi sebelum membicarakan substansi dakwah. Menurut Ustaz Felix, pertanyaan yang lebih tepat adalah kontribusi apa yang bisa diberikan untuk memperkuat program dakwah, bukan menempatkan pendakwah seperti “talent” yang sekadar dipekerjakan.

Kenapa yang kamu harus omongin adalah uang duluan? Karena bagiku itu enggak berharga. Yang berharga adalah ketika Allah mengamanahkan beban dakwah,” ujarnya.

Selain itu, Ustaz Felix menyebut ia kerap menolak banyak undangan kajian karena mempertimbangkan efektivitas dan jangkauan dakwah, termasuk kesesuaian target audiens dan dampak yang dapat dihasilkan. Karena alasan itu, ia lebih banyak memilih kanal digital seperti media sosial dan podcast yang dinilai mampu menjangkau segmen usia tertentu secara lebih luas.

Pada bagian lain, ia menceritakan keterlibatan dukungan pihak swasta dalam pembiayaan tim dan produksi konten dakwah, yang menurutnya dapat memperluas dampak program. Ia menegaskan, dukungan dana semestinya ditempatkan sebagai alat untuk memperkuat kerja dakwah, bukan untuk kemewahan pribadi.

Uang itu cuma babu supaya dia bisa disuruh-suruh … untuk mempermudah dakwah,” katanya.

Ustaz Felix menutup pesannya dengan mengajak publik memandang seluruh capaian dunia (baik uang, popularitas, ilmu, maupun posisi) sebagai sarana yang harus diarahkan untuk bekal perjumpaan dengan Allah ﷻ.

Posting Komentar

0 Komentar