
Oleh: Siami Nur Rahmah
Penulis Lepas
Serangan Israel kembali terjadi di Gaza pada Selasa (24/2/2026), menewaskan dua orang dan melukai beberapa lainnya. Meskipun gencatan senjata telah disepakati sejak Oktober 2025, serangan dan penangkapan terhadap warga Palestina, terutama di Tepi Barat, terus berlanjut. (Kompas, 25/02/2026)
Indonesia sebelumnya telah bergabung dengan Dewan Perdamaian (Board of Peace/BoP) inisiatif yang diprakarsai oleh Donald Trump. Keputusan ini menuai kontroversi karena BoP mendukung pelucutan senjata Hamas, yang dianggap memperkuat pengaruh Israel.
Meski sudah ada BoP, rencana pemulihan Gaza terhambat karena Israel mengancam perang jika pelucutan senjata Hamas tidak segera dilakukan. Meski Indonesia dan negara lain menawarkan pasukan untuk stabilisasi internasional, mandat pasukan tersebut belum disepakati karena mereka khawatir dengan adanya tugas merebut senjata Hamas. (Republika, 26/02/2026).
Ironis rasanya ketika dunia masih berharap adanya itikad baik dari Israel dan Amerika. Pengalaman adalah guru terbaik. Dunia telah berkali-kali menyaksikan bagaimana kaum Zionis melanggar perjanjian. Berulang kali kesepakatan dibuat, berulang kali pula dilanggar. Termasuk saat ini, ketika serangan terhadap warga sipil Palestina tetap berlangsung meskipun gencatan senjata telah disepakati.
Pertanyaannya, tidakkah semua ini cukup menyadarkan? Ketika Trump menginisiasi BoP, masih ada pihak yang tertarik bergabung, bahkan dengan biaya keanggotaan yang disebut mencapai 16,9 triliun rupiah. Bukankah dunia mengetahui bahwa Amerika selama ini menjadi pendukung utama Israel? Dukungan politik, militer, dan finansial diberikan secara terbuka. Lalu mengapa kepercayaan tetap diberikan kepada mereka?
Lebih jauh lagi, forum yang diklaim bertujuan untuk perdamaian Palestina justru tidak melibatkan Palestina sebagai pihak utama. Seolah-olah nasib mereka dapat ditentukan oleh pihak lain tanpa kehadiran dan persetujuan mereka.
Gencatan senjata dan BoP dipandang sebagai instrumen yang berpotensi memperkuat pengaruh Israel dan Amerika atas Palestina. Salah satu agenda lanjutan yang mengemuka adalah pelucutan senjata pejuang Palestina. Secara logika, jika pelucutan senjata dilakukan, posisi Palestina akan semakin lemah. Jika ada pihak yang seharusnya dilucuti, bukankah penjajah yang semestinya menjadi target? Mereka yang memulai dan melanggengkan konflik.
Kerja sama antarnegara besar untuk mengamankan kepentingan mereka mungkin dianggap wajar dalam politik global. Namun, menjadi persoalan ketika negeri-negeri Muslim terlibat dalam forum yang dinilai tidak berpihak pada kepentingan umat. Dalih menjaga stabilitas kawasan dan mencegah meluasnya konflik sering dikemukakan. Namun dalam forum tersebut, hak veto berada di tangan pihak-pihak besar, sehingga suara lain berpotensi tidak diperhitungkan.
Menurut penulis, sikap kaum Muslimin seharusnya tegas dan jelas dalam menghadapi penjajahan. Tidak ada tempat bagi kompromi terhadap pihak yang jelas-jelas melakukan agresi. Kepercayaan terhadap gencatan senjata dan forum perdamaian yang diprakarsai oleh pihak yang mendukung penjajahan perlu dipertanyakan dan dikaji ulang.
Allah ﷻ berfirman dalam Surah Ali Imran ayat 118:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّخِذُوْا بِطَانَةً مِّنْ دُوْنِكُمْ لَا يَأْلُوْنَكُمْ خَبَالًاۗ وَدُّوْا مَا عَنِتُّمْۚ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاۤءُ مِنْ اَفْوَاهِهِمْۖ وَمَا تُخْفِيْ صُدُوْرُهُمْ اَكْبَرُ ۗ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْاٰيٰتِ اِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُوْنَ
"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang di luar kalanganmu sebagai teman kepercayaanmu. Mereka tidak henti-hentinya menimbulkan kemudaratan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkanmu. Sungguh telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya."
Sebagai solusi, persatuan kaum Muslimin menjadi langkah utama yang tak bisa ditawar. Persatuan dalam politik dan kepemimpinan diyakini akan menciptakan kekuatan yang dihormati, yang mampu melawan dan menghentikan penjajahan.
Sejarah mencatat dengan jelas bagaimana Khalifah Umar bin Khattab dan kaum Muslimin berhasil membebaskan Palestina. Harapan akan kebangkitan persatuan umat dan tegaknya kepemimpinan yang kokoh terus bergema sebagai cita-cita yang harus diwujudkan.
Wallahu a'lam bish-shawab.

0 Komentar