IDULFITRI, TAKWA, DAN ILUSI PERSATUAN UMAT


Oleh: Abu Arslan
Penulis Lepas

Idulfitri selalu datang dengan wajah yang sama: gema takbir, pelukan maaf, dan harapan baru untuk menjadi manusia yang lebih baik. Setelah sebulan penuh menahan diri dalam Ramadan, setiap Muslim berharap keluar sebagai pribadi yang bertakwa, sebagaimana tujuan puasa yang ditegaskan dalam Al-Qur’an: la‘allakum tattaqun. Namun, pertanyaannya adalah: apakah takwa itu berhenti pada ritual individual, ataukah ia menuntut konsekuensi yang lebih besar dalam kehidupan umat?

Di sinilah persoalan mendasar sering diabaikan.

Takwa dalam Islam bukan sekadar urusan spiritual personal. Ia merupakan ketaatan total, menjalankan seluruh perintah Allah dan menjauhi seluruh larangan-Nya tanpa pengecualian. Artinya, takwa tidak berhenti pada shalat, puasa, dan zakat, tetapi juga mencakup bagaimana umat ini diatur, disatukan, dan diarahkan sesuai dengan syariat.

Salah satu buah nyata dari ketakwaan adalah persatuan. Al-Qur’an secara tegas mengaitkan kedua hal ini. Dalam Surah Ali Imran, setelah perintah untuk bertakwa dengan sebenar-benarnya takwa, Allah langsung memerintahkan untuk berpegang teguh pada tali-Nya serta melarang perpecahan. Hal ini bukanlah kebetulan, melainkan penegasan bahwa takwa sejati tidak mungkin berjalan berdampingan dengan perpecahan.

Persatuan bukan sekadar slogan ukhuwah yang diulang-ulang di mimbar-mimbar Idulfitri. Ia merupakan kondisi nyata: umat yang satu, tidak tercerai-berai, dan tidak saling melemahkan. Bahkan, Allah mengingatkan bahwa persatuan adalah nikmat besar yang mampu mengubah permusuhan menjadi persaudaraan.

Namun, realitas hari ini justru berkebalikan.

Umat Islam hidup dalam sekat-sekat nasionalisme, terpecah dalam puluhan negara dengan kepentingan politik masing-masing. Ketika satu bagian tubuh umat terluka, bagian lain hanya mampu menyaksikan, atau lebih buruk, memilih diam. Tragedi kemanusiaan yang menimpa kaum Muslim di berbagai belahan dunia, termasuk di Gaza, menjadi cerminan nyata dari lemahnya persatuan ini.

Ironisnya, kelemahan tersebut bukan disebabkan oleh kurangnya jumlah atau potensi, melainkan oleh tercerai-berainya kekuatan dan persatuan. Al-Qur’an telah mengingatkan bahwa perselisihan akan menghilangkan kekuatan. Dan itulah yang terjadi, umat yang besar, tetapi kehilangan daya tekan; banyak, tetapi tidak berpengaruh.

Pada titik ini, Idulfitri seharusnya tidak hanya menjadi perayaan kemenangan spiritual, tetapi juga momentum muhasabah kolektif. Jika benar kita mengklaim telah meraih takwa, maka di manakah wujudnya dalam kehidupan umat? Mengapa persatuan yang diperintahkan justru menjadi hal yang paling jauh dari realitas?

Lebih jauh lagi, Islam tidak hanya memerintahkan persatuan secara emosional, tetapi juga secara struktural. Sejarah Islam menunjukkan bahwa umat ini pernah hidup sebagai satu kesatuan politik di bawah satu kepemimpinan. Dalam kerangka inilah hukum-hukum Islam diterapkan secara menyeluruh, dan persatuan umat terjaga bukan hanya oleh perasaan, tetapi juga oleh sistem yang mengikat.

Tanpa itu, persatuan mudah berubah menjadi jargon, indah diucapkan, tetapi rapuh dalam kenyataan.

Di sinilah letak tantangan terbesar umat hari ini. Apakah kita akan terus merayakan Idulfitri sebagai ritual tahunan yang penuh simbol, tetapi kosong dari perubahan mendasar? Ataukah kita mulai memaknai takwa sebagai dorongan untuk mengembalikan kehidupan umat pada aturan Allah secara utuh, termasuk dalam hal persatuan?

Idulfitri seharusnya tidak berhenti pada ucapan taqabbalallahu minna wa minkum. Ia harus berlanjut menjadi komitmen bahwa ketaatan kepada Allah tidak dapat dipilih sebagian dan ditinggalkan sebagian yang lain.

Sebab, pada akhirnya, takwa bukan hanya soal hubungan seorang hamba dengan Tuhannya, tetapi juga tentang bagaimana sebuah umat berdiri, bersatu, kuat, dan tunduk sepenuhnya pada syariat-Nya.

Posting Komentar

0 Komentar