
Oleh: Sutriono
Penulis Lepas
Takbir bergema di seluruh penjuru negeri. Masjid dan jalanan dipenuhi gema Allahu Akbar, menandai berakhirnya Ramadan dan datangnya Idulfitri. Umat Islam menyambutnya dengan sukacita, pakaian baru, hidangan melimpah, serta tradisi saling memaafkan. Namun, di balik euforia tersebut, muncul satu pertanyaan yang jarang diajukan, yaitu apakah kita benar-benar sedang merayakan kemenangan?
Di satu sisi, setiap individu Muslim memang layak berbahagia. Sebulan penuh berpuasa, menahan lapar dan dahaga, serta mengendalikan hawa nafsu merupakan capaian spiritual yang tidak ringan. Dalam konteks ini, Idulfitri dapat dipahami sebagai momentum kemenangan, yakni kemenangan atas diri sendiri. Akan tetapi, ketika pandangan diperluas pada kondisi umat secara keseluruhan, narasi kemenangan tersebut mulai terasa ganjil.
Realitas dunia Islam saat ini justru menunjukkan wajah yang berbeda. Konflik berkepanjangan, ketertinggalan ekonomi, ketergantungan politik, hingga krisis pemikiran masih menjadi potret umum. Di berbagai belahan dunia, umat Islam hidup dalam tekanan dan ketidakberdayaan. Bahkan dalam banyak kasus, mereka menjadi korban dari sistem global yang tidak berpihak. Kondisi ini memunculkan kegelisahan mengenai letak kemenangan yang sesungguhnya.
Pada titik inilah persoalan utama bermula, yaitu ketika Idulfitri direduksi menjadi sekadar perayaan teknis, bukan sebagai momentum peradaban. Makna kemenangan dipersempit hanya pada aspek individual, sedangkan dimensi sosial dan keumatan hampir diabaikan. Padahal, Islam tidak pernah memisahkan antara kesalehan pribadi dan tanggung jawab kolektif.
Ramadan sejatinya bukan sekadar ibadah ritual, melainkan sebuah madrasah yang membentuk manusia secara utuh. Ia melatih disiplin, pengendalian diri, serta ketaatan total kepada syariat. Tujuan akhirnya adalah takwa, yang seharusnya tidak berhenti pada ranah pribadi, tetapi meluas ke kehidupan sosial hingga peradaban.
Namun, yang terjadi saat ini menunjukkan bahwa takwa sering kali berhenti pada tingkat individual. Ia tidak berkembang menjadi kekuatan sosial yang mampu menjawab krisis umat. Akibatnya, muncul sebuah paradoks berupa individu-individu yang saleh, tetapi hidup dalam sistem yang rusak, serta umat yang taat secara ritual, tetapi lemah secara kolektif.
Lebih jauh lagi, krisis ini berkaitan erat dengan persoalan mendasar berupa cara pandang hidup (worldview) yang digunakan. Ketika umat Islam tidak lagi menjadikan Islam sebagai landasan utama dalam berpikir dan bertindak, arah kehidupan pun menjadi kabur. Nilai-nilai luar yang sering kali bertentangan dengan Islam justru mendominasi. Dari sinilah berbagai persoalan bermunculan, mulai dari kepemimpinan yang transaksional hingga melemahnya solidaritas umat.
Kondisi tersebut menyebabkan umat kehilangan apa yang dalam tradisi Islam dikenal sebagai perisai (Khilafah), yaitu kekuatan pelindung yang menjaga agama sekaligus mengatur kehidupan. Tanpa perisai ini, umat menjadi tercerai-berai, mudah ditekan, dan sulit bangkit. Bahkan jumlah yang besar tidak lagi menjadi kekuatan karena tidak adanya kesatuan arah dan tujuan.
Dalam situasi seperti ini, Idulfitri seharusnya tidak hanya menjadi penutup Ramadan, tetapi juga menjadi titik tolak perubahan. Kemenangan yang dirayakan tidak boleh berhenti pada keberhasilan menahan lapar, melainkan harus berlanjut pada keberanian memperbaiki kondisi umat.
Langkah awal yang perlu dilakukan adalah mengembalikan makna takwa pada posisi yang semestinya, yakni sebagai energi perubahan, bukan sekadar simbol kesalehan. Takwa harus mampu melahirkan keberanian untuk menjadikan Islam sebagai pedoman hidup secara menyeluruh, baik dalam aspek pribadi maupun sosial.
Selain itu, diperlukan kesadaran kolektif bahwa kebangkitan umat tidak mungkin terjadi tanpa perubahan cara berpikir. Umat perlu kembali pada visi besar Islam sebagai sistem kehidupan, bukan hanya sebagai agama ritual. Dari sinilah diharapkan lahir generasi yang tidak hanya saleh secara individu, tetapi juga mampu memimpin serta memperbaiki masyarakat.
Pada akhirnya, momentum Idulfitri perlu dimanfaatkan sebagai awal dari proses panjang kebangkitan. Hal ini bukan sekadar kembali ke “fitrah” dalam arti personal, melainkan kembali kepada cetak biru peradaban Islam yang pernah membawa umat menjadi rahmat bagi seluruh alam.
Jika kondisi ini tidak diubah, Idulfitri akan terus menjadi perayaan tahunan yang kehilangan makna, penuh gema takbir tetapi minim perubahan. Pada akhirnya, kita hanya akan terus mengulang satu ironi, yaitu merayakan kemenangan di tengah kenyataan bahwa umat belum benar-benar meraihnya.

0 Komentar