REFLEKSI IDUL FITRI DI TENGAH KRISIS UMAT


Oleh: Abu Sidiq
Pengamat Sosial Politik

Setiap tahun, takbir bergema. Umat Islam berbondong-bondong menuju masjid dan lapangan. Pakaian baru dikenakan. Hidangan khas Lebaran tersaji di meja makan. Salam dan senyum berseliweran di antara sanak saudara. Idul Fitri datang dengan narasi yang telah mapan: hari kemenangan.

Setelah sebulan berpuasa (menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu) umat Islam merasa berhak menyebut diri sebagai pemenang. Namun di balik gemerlap ketupat dan opor ayam, sebuah pertanyaan mengusik kesadaran: apakah kita benar-benar menang, atau sekadar merayakan tradisi yang perlahan kehilangan makna?

Pertanyaan ini bukan sekadar renungan personal. Ia menjadi penting ketika kita menyaksikan realitas umat Islam saat ini: Gaza yang terus dibombardir, Iran yang menjadi sasaran agresi, Rohingya yang masih terlunta, Uighur yang terbelenggu. Krisis multidimensi membelenggu dunia Islam di berbagai penjuru. Dalam kondisi seperti ini, kata "kemenangan" terasa pahit di lidah.


Ketika Makna Tergerus Tradisi

Masyarakat kita memandang Idul Fitri secara teknis. Ganti baju baru, makan besar, silaturahmi ke rumah kerabat. Semua itu baik. Namun makna yang lebih dalam perlahan terkikis oleh rutinitas.

Seharusnya, sebuah perayaan membawa kita pada empat tingkatan pemaknaan: filosofi, konsepsi, strategi, dan teknik. Selama ini, Idul Fitri hanya dipahami pada tingkat paling bawah: teknik. Kita sibuk mengatur menu Lebaran, menentukan jadwal bersilaturahmi, memilih baju terbaik. Sementara pertanyaan-pertanyaan fundamental tentang apa makna kemenangan setelah Ramadan, apa yang harus diperjuangkan setelah hari kemenangan itu tiba, jarang sekali mengemuka.

Padahal, di sinilah letak persoalan. Ketika makna sebuah perayaan hanya berhenti pada tataran teknis, ia kehilangan daya dorongnya untuk mengubah realitas. Idul Fitri pun menjadi sekadar momen tahunan yang berlalu tanpa membekas dalam kesadaran kolektif umat.


Krisis yang Tak Kunjung Usai

Jika kita jujur, perayaan kemenangan tahun ini terasa pahit. Umat Islam yang jumlahnya lebih dari dua miliar jiwa masih tercerai-berai. Gaza terus dibantai di depan mata dunia. Iran menghadapi ancaman perang dari kekuatan besar. Rohingya, Uighur, dan saudara-saudara kita di berbagai belahan dunia masih berada dalam belenggu penjajahan modern.

Pertanyaan yang muncul kemudian: mengapa dua miliar umat Islam tidak bisa berbuat apa-apa terhadap entitas zionis yang hanya berjumlah tujuh juta lebih?

Jawabannya sederhana sekaligus menyakitkan: karena kita tidak memiliki perisai. Dalam istilah yang diajarkan Nabi ﷺ, perisai itu disebut junah, kekuasaan yang melindungi umat. Imam Ghazali dalam kitab Al-Iqtishad fil I’tiqad menegaskan bahwa agama dan kekuasaan adalah saudara kembar. Agama adalah fondasi, kekuasaan adalah penjaga. Tanpa fondasi, bangunan runtuh. Tanpa penjaga, agama akan lenyap.

Hari ini, kita tidak memiliki penjaga. Yang ada hanyalah pemimpin-pemimpin yang sibuk dengan stabilitas jangka pendek, konsesi politik, dan menjadi "asisten rumah tangga" bagi penguasa global. Mereka tidak lagi menjadi perekat ideologis. Mereka menjadi pengelola transaksi.


Kapitalisme Membelenggu Umat

Jika ditelisik lebih dalam, akar krisis umat Islam adalah kapitalisme yang menjadi ideologi dunia saat ini. Kapitalisme bukan sekadar sistem ekonomi. Ia adalah akidah sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan. Ia mengajarkan bahwa dunia ini hanya untuk meraih manfaat, dan meraih manfaat itu boleh dengan cara apa pun, halal maupun haram.

Pandangan dunia ini melahirkan pemimpin-pemimpin transaksional. Mereka bertanya, "Saya dapat apa?" bukan "Apa yang bisa saya amanahkan?" Mereka memandang kekuasaan sebagai sarana keuntungan pribadi, bukan sebagai amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Lebih jauh, kapitalisme telah menguasai hampir seluruh sendi kehidupan. 3F telah menjadi tujuan hidup manusia, food, fun, fashion, yang membuat tindak tanduknya sekadar memuaskan hawa nafsu. Namun ada satu F lagi yang paling destruktif: fantasy. Ia mengeksploitasi perempuan, hubungan lawan jenis, dan naluri manusia hingga ke batas yang paling bawah. Inilah yang membuat pemimpin-pemimpin hari ini tidak mampu menjadi teladan. Bagaimana mungkin seorang pemimpin yang sekadar memiliki visi-misi dunia kapitalis bisa menjadi panutan? Pada faktanya mereka justru terus mengorbankan rakyatnya demi kepentingan sesaat.


Ramadan Tidak Berdampak

Ironisnya, solusi sebenarnya telah diberikan setiap tahun melalui madrasah Ramadan. Selama sebulan penuh, umat Islam dilatih disiplin. Mereka dikondisikan dalam kebersamaan. Mereka dididik untuk mengendalikan diri. Puncaknya adalah Idul Fitri, momentum yang seharusnya menjadi titik tolak kebangkitan.

Namun apa yang terjadi? Ramadan berlalu. Idul Fitri usai. Takwa yang seharusnya menjadi energi kolektif untuk perubahan, macet di level individual. Seolah ada kekuatan yang sengaja "memotong" spirit ketakwaan agar tidak melangkah ke ranah yang lebih luas: ranah negara, ranah kebijakan publik, ranah peradaban.

Sejarah mencatat, setiap kali ada kekuatan yang ingin membawa takwa ke dalam kerangka negara, ia segera "diamputasi." Contohnya adalah Front Keselamatan Islam (FIS) adalah partai politik Islamis di Aljazair yang didirikan tahun 1989 dan memenangkan pemilu lokal 1990 serta unggul di pemilu legislatif 1991. Setelah kudeta militer Januari 1992, partai ini dilarang, pemimpinnya ditangkap, dan memicu perang saudara (1994-2000) melalui sayap bersenjatanya, Tentara Keselamatan Islam (AIS).

Muhammad Mursi, presiden pertama Mesir yang terpilih secara demokratis, digulingkan melalui kudeta militer pada 3 Juli 2013, yang dipimpin oleh Jenderal Abdel Fattah el-Sisi setelah protes massa. Penggulingan ini dipicu oleh krisis ekonomi, polarisasi politik, dan tuduhan dominasi Ikhwanul Muslimin. Mursi kemudian dipenjara hingga wafat pada 2019.

Banyak sekali contoh dari tokoh-tokoh yang ingin menghidupkan syariat dalam bingkai kenegaraan selalu mendapat perlawanan sistematis dari kekuatan yang takut pada kebangkitan Islam.


Kembali ke Cetak Biru Rasulullah ﷺ

Lantas, apakah umat Islam hanya bisa pasrah? Tidak. Sejarah membuktikan bahwa Islam tidak pernah kehilangan energi. Energi itu datang dari dua hal: ajarannya yang hidup, dan generasinya yang terus muncul.

Rasulullah ﷺ mencontohkan metode yang sempurna. Di tengah kondisi Makkah yang berada pada titik terlemah ketika Rasulullah ﷺ dan Bani Hasyim-Bani Muthalib di embargo pada tahun ke-7 hingga ke-10 kenabian (selama 3 tahun) oleh kaum musyrik Quraisy beliau tidak menerima tawaran kompromi. Beliau memilih jalan dakwah. Dalam dakwah itu, beliau melibatkan anak muda.

Arqam bin Abi Arqam, pemuda 16 tahun, rumahnya menjadi pusat kaderisasi pertama Islam. Siapa yang mendakwahinya? Bukan Rasul langsung, tetapi Abu Bakar, yang sudah lebih dahulu masuk Islam. Dari situlah rantai kaderisasi terbentuk. Dari situlah peradaban dibangun.

Muhammad Al-Fatih, penakluk Konstantinopel, adalah anak dari kaderisasi yang panjang. Jarak dari Sulaiman Syah, moyangnya, kepada Muhammad Al-Fatih mencapai 230 tahun. Jika dihitung dari Nabi, jaraknya 825 tahun. Ia tidak lahir tiba-tiba. Ia adalah buah dari regenerasi yang disengaja, direncanakan, dan dijalankan dengan kesadaran bersama bahwa perubahan besar membutuhkan waktu dan proses.


Menjadikan Idul Fitri sebagai Titik Tolak

Inilah saatnya kita mengembalikan makna Idul Fitri pada posisi yang semestinya. Bukan sekadar perayaan tahunan, tetapi titik tolak perubahan. Perubahan dimulai dari kesadaran bersama bahwa situasi sudah genting. Kapitalisme sedang menuju kehancuran. Sudah saatnya umat Islam kembali ke cetak biru yang telah dicontohkan Rasulullah ﷺ.

Prasyarat kebangkitan adalah ketakwaan yang tidak berhenti di level individual. Ketakwaan yang melahirkan keberanian untuk membawa Islam ke ranah yang lebih luas: ke dalam keluarga, masyarakat, hingga negara. Ketakwaan yang menjadikan pemimpin sebagai perekat ideologis, bukan sekadar pengelola transaksi.

Semua itu harus dimulai dari regenerasi. Bukan sekadar estafet jabatan, tetapi estafet kesadaran. Kesadaran bahwa kita ini bersaudara karena iman, bukan karena suku atau bangsa. Kesadaran bahwa penderitaan saudara kita di Gaza adalah penderitaan kita. Kesadaran bahwa kehinaan umat Islam di mana pun adalah kehinaan kita semua.

Idul Fitri kali ini mungkin kita rayakan dengan suka cita di rumah masing-masing. Namun jangan biarkan tawa dan hidangan membuat kita lupa pada tangisan saudara-saudara yang masih tertindak. Jangan biarkan euforia "kemenangan" pribadi membutakan kita dari kekalahan kolektif yang kita alami sebagai umat Islam.

Kita memang menang, menang dalam melawan hawa nafsu selama Ramadan. Namun apakah kemenangan itu cukup? Atau ia hanya menjadi awal dari perjuangan yang lebih besar: membebaskan umat Islam dari belenggu kapitalisme sekuler, dan mengembalikan mereka pada jalan yang diridhai Allah?

كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ
"Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah." (QS. Ali 'Imran: 110)

Selamat Idul Fitri. Mohon maaf lahir dan batin. Semoga kita tidak hanya kembali ke fitrah, tetapi juga kembali ke peran kita sebagai khairu ummah, umat terbaik yang lahir untuk memberi manfaat bagi seluruh alam.

Posting Komentar

0 Komentar