MENYAMBUT IDULFITRI, ANTARA RIUH PERAYAAN DAN SUNYI KEHILANGAN


Oleh: Diaz
Jurnalis Lepas

Langit belum sepenuhnya terang ketika gema takbir mulai terdengar dari kejauhan. Suaranya berlapis-lapis, datang dari masjid, musala, hingga pengeras suara rumah-rumah warga. “Allāhu akbar, Allāhu akbar…” mengalun panjang, seolah menyapu sisa-sisa malam terakhir Ramadan yang perlahan berlalu.

Di sudut-sudut rumah, orang-orang mulai bersiap. Ada yang sibuk merapikan pakaian terbaiknya, ada yang menata hidangan di meja, ada pula yang sekadar duduk diam, menatap kosong, seakan belum sepenuhnya sadar bahwa sesuatu yang besar baru saja berlalu.

Ramadan telah pergi.

Dan Idulfitri, seperti biasa, datang membawa dua wajah sekaligus, riuh dan sunyi.

Di satu sisi, ia hadir sebagai perayaan. Jalanan akan segera dipenuhi kendaraan para pemudik yang pulang membawa rindu. Rumah-rumah akan ramai oleh tawa dan pelukan yang lama tertunda. Anak-anak berlarian dengan pakaian baru, sementara orang dewasa sibuk menyusun agenda silaturahmi yang seakan tak ada habisnya.

Namun, di sisi lain, ada ruang hening yang sering luput kita dengarkan. Sebuah ruang yang menyimpan pertanyaan sederhana, tetapi jarang kita beri waktu untuk menjawabnya:

Apa sebenarnya yang sedang kita rayakan?

Dalam sebuah perbincangan di kanal YouTube yang dipandu oleh Pandji Pragiwaksono bersama Felix Siauw, pertanyaan itu muncul dengan jujur dan tanpa basa-basi. Mereka membicarakan Idulfitri bukan dari sisi kemeriahan, melainkan dari makna yang kerap tertutup oleh tradisi.

Idulfitri, jika ditarik pada makna dasarnya, adalah hari berbuka, hari ketika umat Islam kembali makan di siang hari setelah sebulan penuh menahan diri. Sebuah penanda sederhana bahwa fase latihan telah usai.

Namun, dalam realitas yang kita jalani, khususnya di Indonesia, Idulfitri telah berkembang jauh melampaui itu. Ia menjadi perayaan besar yang sarat dengan simbol kemenangan, bahkan tidak jarang diposisikan sebagai puncak dari perjalanan spiritual Ramadan.

Padahal, jika ditelusuri lebih dalam, Islam justru mengajarkan sesuatu yang lebih halus dan mendalam daripada sekadar perayaan kemenangan.

Sebuah perasaan yang tidak tunggal.

Sebuah keadaan yang oleh sebagian orang disebut sebagai mixed feeling.

Di pagi Idulfitri, seorang Muslim sejatinya berdiri di antara dua rasa. Ia bergembira karena Allah memberinya kesempatan untuk menyelesaikan Ramadan, menjalankan puasa, qiyam, dan berbagai amal yang dijanjikan balasan. Namun, pada saat yang sama, ia juga menyimpan kesedihan karena harus berpisah dengan bulan yang penuh keberkahan itu.

Rasa sedih itu bukan tanpa alasan.

Ramadan bukan sekadar bulan ibadah. Ia adalah ruang pembentukan. Selama tiga puluh hari, manusia dilatih untuk menahan diri, mengendalikan hawa nafsu, memperbaiki hubungan dengan Allah, dan menata kembali kehidupan yang kerap tergerus rutinitas dunia.

Di bulan itu, banyak hal yang biasanya terasa sulit justru menjadi lebih mudah. Bangun malam menjadi kebiasaan. Membaca Al-Qur’an menjadi rutinitas. Menahan amarah menjadi latihan yang dijalani setiap hari.

Lalu Ramadan pergi.

Dan kehidupan kembali berjalan seperti semula.

Di titik inilah, Idulfitri seharusnya tidak dimaknai sebagai garis akhir, melainkan sebagai titik awal. Ia bukan penutup, tetapi pembuka. Bukan sekadar hadiah atas perjuangan, melainkan amanah untuk melanjutkan apa yang telah dilatih.

Namun, tidak semua orang memandangnya demikian.

Di tengah masyarakat, Idulfitri sering kali dipahami sebagai momen “pelepasan”. Setelah sebulan menahan diri, hari itu dianggap sebagai waktu untuk menikmati kembali apa yang sebelumnya ditinggalkan: makan sepuasnya, berkumpul tanpa batas, dan menjalani hari-hari dengan suasana yang sepenuhnya berbeda dari Ramadan.

Tidak ada yang salah dengan kebahagiaan. Islam sendiri menganjurkan umatnya untuk bergembira di hari raya. Namun, yang menjadi persoalan adalah ketika kebahagiaan itu menghapus kesadaran.

Kesadaran bahwa Ramadan telah pergi.

Kesadaran bahwa belum tentu kita akan bertemu lagi dengannya.

Dan yang lebih penting, kesadaran bahwa latihan yang telah dijalani selama sebulan penuh seharusnya meninggalkan jejak dalam kehidupan setelahnya.

Tradisi yang berkembang di tengah masyarakat, seperti mudik, halalbihalal, hingga ucapan “mohon maaf lahir dan batin”, pada dasarnya merupakan bagian dari budaya yang dapat mempererat hubungan sosial. Dalam batas tertentu, ia menjadi jembatan yang menyambungkan kembali relasi yang sempat renggang.

Namun, Islam mengajarkan bahwa makna tidak boleh kalah oleh bentuk.

Meminta maaf bukan sekadar ritual tahunan, melainkan sikap hidup yang seharusnya hadir setiap hari. Begitu pula dengan kebersihan hati yang sering dikaitkan dengan Idulfitri. Ia bukan hasil dari satu ucapan, tetapi buah dari kesungguhan dalam beribadah selama Ramadan.

Jika Ramadan dijalani dengan sungguh-sungguh, maka perubahan itu seharusnya terasa, bukan hanya di hari raya, tetapi juga dalam hari-hari setelahnya.

Di sebuah rumah, seorang ayah mungkin merasakan sesuatu yang berbeda ketika Ramadan berakhir. Selama sebulan penuh, ia terbiasa duduk bersama keluarganya di meja makan saat berbuka. Ia memimpin doa, berbincang dengan anak-anaknya, dan mengajak mereka beribadah bersama.

Momen itu terasa hangat. Dekat. Hidup.

Namun setelah Ramadan, kebiasaan itu perlahan memudar. Meja makan kembali sepi. Waktu bersama menjadi langka. Kehidupan kembali terpecah oleh kesibukan masing-masing.

Di situlah letak kehilangan yang sebenarnya.

Bukan sekadar kehilangan suasana, tetapi kehilangan nilai yang seharusnya dapat dipertahankan.

Menyambut Idulfitri yang akan segera datang, barangkali kita perlu berhenti sejenak dari segala rencana dan persiapan. Bukan untuk mengurangi kebahagiaan, melainkan untuk menata kembali niat dan pemahaman.

Bahwa hari raya ini bukan sekadar tentang kembali ke kampung halaman, tetapi tentang kembali kepada Allah.

Bukan sekadar tentang berkumpul dengan keluarga, tetapi tentang memperbaiki diri sebagai hamba.

Bukan sekadar tentang merayakan kemenangan, tetapi tentang memastikan bahwa kemenangan itu benar-benar hadir dalam diri kita.

Apakah kita benar-benar lebih sabar daripada sebelumnya?

Apakah kita lebih dekat dengan Al-Qur’an?

Apakah kita lebih mampu menjaga lisan dan perbuatan?

Jika jawabannya belum, maka Idulfitri bukanlah akhir dari perjalanan. Ia adalah pengingat bahwa perjalanan itu baru saja dimulai.

Takbir akan kembali bergema. Orang-orang akan saling berpelukan. Tawa dan air mata akan bertemu dalam satu momen yang sama.

Namun, di balik semua itu, ada satu harapan yang seharusnya kita bawa pulang:
  • Agar Ramadan tidak benar-benar pergi.
  • Agar ia tetap hidup dalam kebiasaan kita, dalam ibadah kita, dan dalam cara kita memperlakukan sesama.

Sebab pada akhirnya, Idulfitri bukan hanya tentang satu hari yang kita rayakan.

Ia adalah tentang sebelas bulan yang akan kita jalani setelahnya.

Dan di sanalah makna kemenangan yang sesungguhnya akan benar-benar terlihat.

Posting Komentar

0 Komentar