
Oleh: Diaz
Jurnalis Lepas
Dalam panggung sejarah peradaban, strategi divide et impera atau yang kita kenal sebagai politik "belah bambu" (mengangkat satu pihak sembari menginjak pihak lain) adalah warisan kolonial yang paling awet dan mematikan. Hari ini, strategi tersebut tidak lagi menggunakan senapan secara langsung, melainkan menggunakan identitas sebagai amunisi.
Konflik sektarian antara Sunni dan Syiah di Timur Tengah, khususnya dalam ketegangan antara Iran dan aliansi AMIS (Amerika-Israel), sering kali disederhanakan sebagai benturan teologis yang purba. Namun, data menunjukkan realitas yang jauh lebih pragmatis: sektarianisme adalah "instrumen murah" yang sengaja diproduksi untuk menghancurkan solidaritas umat Islam dari dalam. Fenomena kemunculan kelompok ekstremis yang mengatasnamakan mazhab tertentu untuk membantai sesama Muslim adalah bukti nyata bagaimana identitas telah dibajak menjadi senjata pemusnah massal.
Menguliti Mekanisme Perpecahan
Mengapa politik belah bambu ini begitu efektif merusak tubuh umat? Kita perlu membedahnya dalam tiga lapisan analisis yang menyeluruh:
1. Komodifikasi Teologi dan "Pasar" Kebodohan
Sektarianisme menguat bukan di ruang hampa, melainkan di atas lahan subur rendahnya literasi politik dan kedalaman tadabur umat. Strategi ini memanfaatkan ananiah thaifiah (fanatisme golongan) yang akut. Ketika seorang Muslim terjebak dalam attaqlidul a'ma (taklid buta), slogan "benar atau salah adalah kelompokku" menjadi dogma yang melampaui kebenaran Al-Qur'an itu sendiri.Dalam kondisi ini, musuh-musuh Islam tidak perlu mengerahkan pasukan besar; mereka cukup mendanai segelintir "intelektual" atau "ulama" yang haus popularitas untuk mengeluarkan fatwa-fatwa takfiri (saling mengafirkan). Akibatnya, energi umat habis untuk berdebat soal furu’iyah (cabang agama) sementara musuh sibuk mengeruk kekayaan alam di bawah kaki mereka.
2. Geopolitik Ketakutan dan "Virus Al-Wahn"
Di level regional, politik belah bambu ini diperkuat oleh ketergantungan ekonomi dan politik negeri-negeri Muslim terhadap kekuatan global. Ironi yang paling menyakitkan adalah munculnya "ketakutan terhadap Maisyah (penghidupan)". Sebagai contoh, sikap diam atau netralnya beberapa elemen umat terhadap penindasan di suatu wilayah sering kali bukan karena mereka tidak tahu itu salah, melainkan karena takut akan konsekuensi ekonomi, seperti dipersulitnya izin visa atau hubungan dagang.Inilah yang disebut sebagai terpapar "Virus Al-Wahn" (cinta dunia dan takut mati). Nasionalisme sempit membuat negeri-negeri Muslim merasa bahwa membantu saudara seagama yang berbeda mazhab atau berbeda negara adalah ancaman bagi stabilitas domestik mereka. Aliansi AMIS memanfaatkan celah ini dengan memberikan "perlindungan semu" kepada satu kelompok untuk menekan kelompok lain, memastikan bahwa tidak akan pernah ada persatuan yang solid di kawasan Teluk maupun dunia Islam secara luas.
3. Reduksi Konflik: Mengaburkan Kawan dan Lawan
Politik belah bambu bertujuan mengaburkan garis batas antara musuh yang sesungguhnya dan saudara yang berbeda pendapat. Dengan membingkai perang Iran-Israel sebagai "perang Sunni vs Syiah", perhatian dunia Islam dialihkan dari fakta bahwa yang sedang terjadi adalah agresi penjajahan global.Padahal, secara historis dan ideologis, perbedaan mazhab adalah khazanah intelektual yang bisa berjalan beriringan selama berabad-abad di bawah naungan kepemimpinan Islam. Namun, ketika identitas ini dipolitisasi, kompleksitas kepentingan Amerika dalam menjaga hegemoni dolar dan keamanan Israel disederhanakan menjadi masalah "akidah". Ini adalah penyesatan opini yang luar biasa masif.
Menghancurkan Sekat, Membangun Perisai Tunggal
Islam tidak membiarkan umatnya tanpa panduan dalam menghadapi fitnah perpecahan. Solusi yang ditawarkan Islam bersifat fundamental dan melampaui sekadar retorika perdamaian, yaitu:
1. Restorasi Kesadaran Politik (Waiyul Siyasi)
Umat Islam harus mampu membedakan antara perbedaan yang bersifat ijtihadiah (ikhtilaf) dan penyimpangan yang bersifat fundamental (inkhiraf). Kita harus berhenti mengafirkan sesama Ahlul Qiblah selama prinsip-prinsip dasarnya masih sama. Kesadaran untuk menentukan siapa lawan dan siapa kawan harus dikembalikan pada panduan wahyu (seperti surah Al-Maidah ayat 82), bukan pada narasi media Barat atau kepentingan diplomatik yang pragmatis.
2. Menghapus Mentalitas Sekterian dengan Ukhuwah
Persaudaraan Islam bersifat universal, melampaui ras, bahasa, dan mazhab. Strategi untuk melawan politik belah bambu adalah dengan menolak untuk diadu domba. Jika satu bagian tubuh umat diserang (baik itu di Palestina, Libanon, maupun Iran) maka seluruh tubuh harus merasakan sakit. Mendukung pihak yang dizalimi (mazlum) adalah kewajiban yang tidak bisa ditawar dengan alasan perbedaan cara berwudu atau pilihan politik praktis.
3. Mewujudkan Kepemimpinan Pemersatu (Al-Junnah)
Secara sistemis, perpecahan yang diakibatkan oleh politik belah bambu dan nasionalisme sempit hanya bisa diakhiri dengan adanya institusi politik tunggal: Khilafah. Tanpa adanya seorang Khalifah yang bertindak sebagai Junnah (perisai), umat Islam akan terus menjadi mangsa empuk strategi divide et impera. Kita butuh institusi yang mampu mengonsolidasikan militer 57 negara Muslim menjadi satu kekuatan deteren yang ditakuti dunia, sehingga tidak ada lagi kekuatan asing yang berani "bermain-main" di ruang udara maupun daratan kita.
Khatimah
Politik "belah bambu" hanya akan berhasil jika bambunya rapuh. Dan kerapuhan kita bersumber dari kebodohan, ego kelompok, dan ketakutan akan kehilangan dunia. Saatnya umat Islam menyadari bahwa musuh sejati kita bukanlah saudara yang berbeda pendapat, melainkan mereka yang menanamkan benih benci agar kita tetap lemah dan terjajah.
Hanya dengan persatuan yang berbasis pada akidah dan kepemimpinan yang berani, kita dapat meruntuhkan labirin sektarianisme ini. Jangan biarkan memori kita "cepat lupa" akan siapa musuh yang sesungguhnya. Mari rapatkan barisan, karena dalam Islam, persatuan bukan sekadar pilihan politik, melainkan perintah suci yang akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Allah ï·».

0 Komentar