
Oleh: Abu Ghazi
Pemerhati Politik
Dalam setiap konflik besar di dunia Islam, ada satu pola yang terus berulang namun jarang benar-benar dibedah secara jernih: sektarianisme. Isu perbedaan Sunni dan Syiah diangkat ke permukaan seolah menjadi penyebab utama konflik. Perbedaan mazhab, perbedaan teologi, dibesar-besarkan. Padahal, realitasnya tidak sesederhana itu.
Ambil contoh Irak atau Suriah, dua wilayah yang kerap dijadikan simbol konflik sektarian. Apakah yang terjadi murni pertentangan keyakinan? Ataukah ada konfigurasi kekuasaan, kepentingan geopolitik, dan intervensi eksternal yang jauh lebih menentukan arah konflik? Mengapa sektarianisme justru menguat di tengah instabilitas politik? Mengapa ia muncul bersamaan dengan perebutan kekuasaan, sumber daya, dan pengaruh kawasan?
Di titik ini, sektarianisme tampak bukan hanya sebagai identitas, melainkan sebagai instrumen. Instrumen untuk mobilisasi massa, instrumen untuk legitimasi kekuasaan, bahkan instrumen untuk membingkai konflik agar terlihat lebih sederhana dari realitasnya. Dan ketika identitas diposisikan sebagai garis pemisah utama, maka kompleksitas konflik perlahan direduksi menjadi "kita" dan "mereka".
Dalam sebuah diskusi yang menghadirkan Kiai Muhyiddin Junaidi dan Ustaz Ismail Yusanto, tabir ini dibuka. Mereka mengupas bagaimana isu sektarian bukanlah akar persoalan, melainkan alat pemecah belah yang sengaja dirancang oleh musuh-musuh Islam. Dan mereka juga mengingatkan bahwa solusi sejati hanya mungkin jika umat Islam kembali pada persatuan di bawah naungan khilafah.
Sektarianisme: Trik Murahan untuk Memecah Umat
Kiai Muhyiddin Junaidi, seorang ulama yang juga aktif di Majelis Ulama Indonesia, menjelaskan dengan lugas. Menurutnya, isu sektarianisme adalah modal paling murah untuk menyulut konflik antarumat Islam. Mengapa murah? Karena ia sangat mudah dipahami oleh khalayak, mudah membangkitkan emosi, dan mudah memicu pembelahan.
Penyebabnya setidaknya ada tiga. Pertama, tingkat pendidikan umat Islam yang relatif masih rendah dalam arti tadabur (perenungan mendalam terhadap agama) masih perlu ditingkatkan. Kedua, ananiah thaifiah, fanatisme golongan yang lebih mengutamakan organisasi atau mazhabnya daripada kebenaran itu sendiri. Ketiga, kecenderungan menjadi muqallidin (pengikut buta) tanpa kritik: right and wrong is my organization, pokoknya apa kata organisasi saya, itulah yang terbaik.
Padahal, Allah ﷻ telah mengingatkan dalam Al-Qur'an. Imam Abu Hanifah sendiri berkata, "Seandainya pendapat saya bertentangan dengan Al-Qur'an dan hadis, maka jangan ikuti saya." Para imam mazhab tidak pernah memaksakan pengikutnya untuk fanatik buta. Namun hari ini, banyak pihak yang justru melestarikan fanatisme sempit demi kepentingan duniawi, termasuk agar tetap mendapatkan visa dan izin dari negara-negara tertentu yang menjadi "pelindung" mereka.
Salah satu fakta paling mencengangkan yang diungkap Kiai Muhyiddin adalah bahwa ISIS yang mengaku sebagai ahlus sunnah wal jamaah justru dibiayai oleh musuh-musuh Islam. Amerika, Inggris, dan Israel, setelah menghadapi resistensi umat Islam, membentuk kelompok ekstremis atas nama Sunni untuk membunuh puluhan ribu muslim. ISIS adalah produk rekayasa untuk memecah belah umat dari dalam.
Pola yang sama kini diulang. Saat perang antara Amerika dan Israel melawan Iran memanas, isu sektarian Sunni-Syiah kembali digoreng. Padahal, seharusnya para ulama dari kedua kelompok tidak usah lagi mengungkit-ungkit perbedaan yang merupakan produk musuh Islam. Umat Islam sedang dizalimi. Iran (apapun keyakinan detailnya) sedang diserang. Al-Qur'an telah jelas dalam Surah Al-Hajj ayat 39: "Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi karena sesungguhnya mereka telah dizalimi." Ayat ini tidak membedakan Sunni atau Syiah. Yang membedakan adalah kezaliman dan perlawanan terhadap kezaliman.
Kiai Muhyiddin juga menyoroti ironi pahit. Banyak kelompok yang mengaku Salafi atau Wahabi di Indonesia sangat berani mengkritik Iran dan mengafirkan Syiah, tetapi tidak berani mengkritik kebijakan Muhammad bin Salman yang deskpotik. Mengapa? Karena mereka adalah pemilik biro perjalanan haji dan umrah. Mereka takut dipersulit mendapatkan visa. Mereka takut kehilangan bisnis. Mereka takut kehilangan keuntungan materi.
Ini fakta kecil yang sangat sederhana, tetapi mencerminkan masalah besar: kepentingan duniawi telah mengalahkan kebenaran. Fatwa tentang Iran dan Syiah tidak lagi murni karena agama, tetapi sudah dicampuri faktor politik dan ekonomi. Padahal, Majelis Ulama Indonesia (MUI) sendiri telah mengeluarkan pernyataan tegas mendukung Iran sebagai pihak yang dizalimi. Namun banyak pihak yang tetap enggan bersikap karena "ada masalah dengan visa".
Islam Menyatukan, Juga Memungkinkan Perbedaan
Ustaz Ismail Yusanto melengkapi analisis ini dari sisi ideologis. Islam, katanya, adalah agama yang memiliki kemampuan luar biasa untuk menyatukan manusia dari berbagai latar belakang, ras, suku, dan bangsa. Tidak ada agama yang melebihi Islam dalam hal ini. Namun di sisi lain, Islam juga sangat memungkinkan terjadinya perbedaan.
Mengapa? Karena ada dua faktor. Pertama, tabiat dalil. Al-Qur'an dan hadis, dengan lafaz dan konteksnya, terbuka untuk dipahami secara berbeda. Perbedaan cara wudu saja (apakah mengusap seluruh kepala atau sebagian) sudah memunculkan perbedaan pendapat di kalangan ulama. Kedua, tabiat manusia. Kemampuan manusia dalam memahami dalil berbeda-beda. Imam Syafi'i sendiri memiliki qaul qadim dan qaul jadid yang berubah seiring perkembangan pemahamannya.
Perbedaan yang bersifat ijtihadi pada masalah furu' (cabang) adalah keniscayaan yang harus disikapi dengan tasamuh (toleransi). Yang qunut, silakan; yang tidak, silakan. Tidak perlu saling mengkafirkan. Yang membedakan adalah inkirof, jika penyimpangan yang terjadi pada masalah ushul (pokok), seperti meyakini adanya nabi setelah Muhammad atau menganggap Al-Qur'an telah berubah tetap harus dibuktikan dengan dalil yang kuat, bukan sekadar tuduhan.
Ustaz Ismail mengingatkan bahwa musuh-musuh Islam sangat paham bahwa menghadapi umat yang bersatu itu sulit. Karena itu mereka berusaha memahami Islam, mencari titik-titik kritis yang bisa dimanfaatkan. Dan mereka menemukannya: potensi perbedaan yang memang faktual, baik dalam pemahaman dalil maupun dalam praktik keberagamaan. Potensi itu kemudian dieksploitasi, dibesar-besarkan, dan dihembuskan terus-menerus melalui media sosial hingga melahirkan sentimen kelompok yang tajam.
Lihatlah bagaimana persoalan qunut, jenggot, atau isbal yang sudah ada sejak lama tiba-tiba "direfresh" di media sosial seolah umat Islam baru menemukan masalah baru. Jika dibahas dengan elegan, ilmiah, dan penuh ukhuwah, itu tidak masalah. Tapi jika dibumbui semangat tafaruq (perpecahan), itu sangat berbahaya.
Ustaz Ismail mengajukan argumentasi yang sangat kuat: jika benar konflik hari ini adalah konflik Sunni versus Syiah, mengapa Syria yang dikuasai Syiah Alawi (Bashar Asad) justru bersekutu dengan Iran yang Syiah? Mengapa Arab Saudi yang Sunni justru menjadi sekutu Amerika yang kafir? Ini bukan soal agama. Ini soal politik dan kepentingan.
Jika seseorang menganggap Syiah kafir, logikanya ia juga tidak boleh bersekutu dengan kafir (Amerika). Tapi faktanya, banyak negara Sunni justru menjadi sekutu setia Amerika, bahkan ikut memblokade Iran. Jadi jelas, yang terjadi adalah politik belah bambu dengan topeng agama. Isu sektarian hanya dipakai untuk memecah solidaritas umat Islam terhadap pihak yang tertindas, yaitu Iran dan sekutunya di Lebanon, Suriah, dan Palestina.
Kembali pada Persatuan di Bawah Khilafah
Langkah pertama yang harus dilakukan adalah mendidik umat tentang cara membedakan kawan dan lawan. Jangan sampai yang seharusnya menjadi lawan (Amerika, Israel, dan antek-anteknya) dijadikan kawan, sementara yang seharusnya menjadi kawan (sesama muslim yang tertindas, meskipun berbeda mazhab detail) dijadikan lawan.
Ustaz Ismail mengibaratkan seperti sepak bola. Jika kiper sendiri memasukkan bola ke gawangnya, itu dinamakan gol bunuh diri. Umat Islam sedang melakukan gol bunuh diri ketika mereka sibuk mengafirkan saudaranya yang sedang diperangi oleh musuh bersama.
Prinsip dasarnya sederhana: siapa yang dianggap muslim secara umum? Iran. Mereka bisa masuk tanah suci, bisa haji, bisa umrah. Mereka juga memiliki sejarah sebagai negeri yang dibebaskan oleh Saad bin Abi Waqqas. Karenanya, serangan Amerika dan Israel terhadap Iran adalah serangan terhadap negeri muslim, serangan terhadap umat Islam. Sikap yang benar adalah mendukung pihak yang dizalimi, bukan bersikap netral atau bahkan ikut mengecam.
Kiai Muhyiddin dan Ustaz Ismail sepakat bahwa penting untuk membedakan antara Syiah in general dan Syiah in detail. Secara umum, Syiah (meskipun memiliki perbedaan dalam fikih dan sebagian akidah) masih dianggap sebagai muslim. Mereka tidak dikafirkan secara mutlak. Namun di dalam Syiah ada kelompok ghulat (ekstrem) seperti Syiah Alawi (Nusairiah) yang diyakini sebagai bastar antara Syiah dan Kristen, mempercayai trinitas Ali, Muhammad, Allah. Kelompok ini, serta Syiah yang mencela sahabat dan mengutuk Abu Bakar serta Umar dengan sebutan finar (neraka), adalah penyimpangan yang jelas.
Namun ketika Amerika dan Israel menyerang Iran, yang menjadi sasaran adalah negara Iran secara umum, bukan kelompok ekstrem tertentu. Maka sikap umat Islam harus didasarkan pada fakta bahwa yang dizalimi adalah negeri muslim. Bukan pada detail perbedaan teologis yang tidak menjadi target serangan.
Puncak solusi, menurut Ustaz Ismail, adalah menegakkan khilafah. Dunia tidak pernah kosong dari the ruling power. Pilihannya hanya dua: ruling power Islam atau selain Islam. Jika ruling power-nya bukan Islam, maka Islam akan menjadi objek—objek politik, ekonomi, militer, budaya. Hari ini kita saksikan sendiri bagaimana umat Islam menjadi korban ketidakadilan sistemik.
Sebaliknya, ketika khilafah berdiri (sebagaimana terbukti selama lebih dari 13 abad) ia menjadi kekuatan yang memimpin dengan syariat untuk menegakkan rahmatan lil 'alamin. Keadilan, kedamaian, dan ketentraman menjadi nyata. Umat bersatu di bawah satu kepemimpinan, tidak tercerai-berai menjadi 57 negara kecil yang lemah dan saling bertentangan. Dan dengan kekuatan yang terpusat, umat Islam tidak akan mudah diadu domba dengan isu sektarian yang murahan.
Rasulullah ﷺ telah memberikan kabar gembira bahwa khilafah 'ala minhaj an-nubuwwah akan kembali tegak. Tugas kita adalah memperjuangkannya. Dan sebelum itu, kita harus mulai dari hal yang paling dekat: berhenti memusuhi saudara sendiri karena perbedaan cabang, dan mulai bersatu melawan musuh bersama yang nyata.
Politik Belah Bambu Hanya Berhasil Jika Kita Mau Terpecah
Politik divide et impera (belah bambu) telah berusia ribuan tahun. Bangsa Romawi menggunakannya. Penjajah Eropa menggunakannya. Amerika dan Israel modern menggunakannya dengan lebih canggih: melalui isu sektarian yang dibungkus dalil, disebarkan media sosial, dan diperkuat oleh para pengikut fanatik buta.
Sektarianisme adalah instrumen. Ia bukan akar masalah. Akar masalah sebenarnya adalah tidak adanya institusi yang menyatukan umat, yaitu khilafah. Dengan khilafah, perbedaan furu' disikapi dengan tasamuh, persatuan dijaga atas dasar usul yang sama, dan kekuatan umat diarahkan untuk melawan kezaliman, bukan untuk memerangi saudara sendiri.
Kiai Muhyiddin mengingatkan: jangan terprovokasi. Jangan mudah terpecah. Tingkatkan kewaspadaan. Dan Ustaz Ismail menegaskan: kita harus mendidik umat, membedakan kawan dan lawan, dan memperjuangkan tegaknya khilafah.
Allah ﷻ berfirman:
وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْا
“Dan berpeganglah kamu semuanya pada tali Allah, dan janganlah bercerai-berai.” (QS. Ali Imran: 103)
Tali Allah itu adalah Islam yang satu. Perbedaan pendapat adalah rahmat jika disikapi dengan adab. Perpecahan adalah laknat jika disengaja oleh musuh. Maka, mari kita wujudkan persatuan. Karena hanya dengan persatuan, kezaliman akan bisa dilawan. Dan hanya dengan khilafah, keadilan sejati akan tegak.
Wallahu’alam bish-shawwab.

0 Komentar