
Oleh: Mariyam Sundari
Pengamat Kriminal
Gelombang protes bertajuk “No Kings” kini meluas di berbagai wilayah Amerika Serikat pada Sabtu, 28 Maret, di Minnesota sebagai pusat aksi utama. Demo ini dipicu oleh kebijakan imigrasi pemerintahan Trump yang memicu pergolakan politik yang memanas (MetroTV News, 31/03/2026).
Rakyatnya jelas marah hingga turun ke jalan untuk menuntut keadilan dan mengganti pemimpinnya. Kebijakan Trump dinilai merugikan, wajar saja utang nasional Amerika kini menembus US$ 39 triliun (Rp 661.440 triliun) pada Maret 2026. Ditambah lonjakan pengeluaran sejak berlangsungnya konflik antara AS/Israel dan Iran, utang per penduduk Amerika kini mencapai Rp 1,93 miliar (Akurat News, 29/03/2026). AS tampak berada di ambang kebangkrutan.
Sudah jelas kejahatan Amerika (Trump) yang bersekutu dengan Israel, negara-negara Eropa, dan negara Teluk yang kompak memerangi Iran. Kini dunia disadarkan siapa sebenarnya yang menebarkan hegemoni kapitalisme liberal. Rakyat hanya berharap agar kejahatan perpanjangan ini segera berakhir.
Umat saat ini sudah muak dengan tipu muslihat pemerintah Amerika (Trump) dalam politik demokrasinya, yang berupaya menguasai dunia dengan kesombongan dan ketamakannya. Hal ini merusak tatanan dunia, menimbulkan konflik antarbangsa, dan menimbulkan dampak khusus terhadap umat Muslim yang selalu dicari-cela dan diadu domba.
Dengan kesadaran ini, saatnya umat bangkit memperjuangkan yang hak, menyeru keadilan, dan mengganti kepemimpinan dengan pemimpin yang amanah dan takut kepada Allah. Pemimpin yang mampu memperbaiki tatanan aturan yang salah akibat dipimpin oleh orang yang berperangai rusak. Aturan yang murni dan adil, menurut perspektif ini, hanya ada dalam syariat Islam yang mulia.

0 Komentar