HARI TAHANAN PALESTINA, BUKTI DUNIA GAGAL MELINDUNGI YANG TERJAJAH


Oleh: Tri S., S.Si
Penulis Lepas

Setiap 17 April, dunia memperingati Hari Tahanan Palestina. Tanggal ini bukan sekadar seremoni. Ia adalah tamparan keras bagi nurani kemanusiaan. Di balik tembok-tembok penjara Zionis, 9.600 warga Palestina hari ini hidup dalam siksaan yang tak terbayangkan: diperkosa, dipukuli, dilaparkan, bahkan dibunuh perlahan. Sejak 1967, sekitar 1 juta rakyat Palestina (20% dari populasi) pernah merasakan dinginnya sel tahanan penjajah (Antaranews, 17/04/2026).

Ironisnya, penderitaan ini justru makin dilegalkan. Zionis baru saja mengesahkan undang-undang hukuman mati bagi tahanan Palestina (iNews, 31/03/2026). Artinya, membunuh orang Palestina kini tidak perlu lagi sembunyi-sembunyi. Cukup lewat palu hakim.


Di mana hukum internasional?

Kita disuguhi fakta bahwa PBB, Mahkamah Internasional, dan semua lembaga HAM global ternyata ompong saat berhadapan dengan Israel. Resolusi demi resolusi lahir, tetapi tidak satu pun mampu menghentikan satu peluru atau membuka satu pintu sel. Standar ganda Barat sangat telanjang. Ketika satu warga mereka disandera, dunia gempar. Ketika 9.600 warga Palestina disiksa bertahun-tahun, dunia memilih bungkam.

Ini membuktikan bahwa penjajahan Palestina bukan sekadar konflik lokal. Ia adalah proyek imperialisme global yang didukung penuh negara-negara kapitalis Barat. Israel adalah anak emas yang kebal hukum karena menjadi pos penjaga kepentingan Barat di jantung Timur Tengah. Minyak, jalur dagang, dan hegemoni politik membuat Barat rela mengorbankan jutaan nyawa Muslim demi mempertahankan eksistensi Israel.


Mengapa 76 Tahun Tak Kunjung Merdeka?

Ada tiga akar kegagalan yang harus kita bongkar.

Pertama, jebakan solusi dua negara. Sejak 1948, umat Islam digiring percaya bahwa solusi Palestina adalah membagi tanahnya: sebagian untuk Zionis, sebagian untuk Palestina. Padahal tanah itu milik kaum Muslim sejak dibebaskan Umar bin Khattab. Solusi dua negara justru melegitimasi perampokan. Ibarat rumahmu dirampok, lalu perampok mengajak damai dengan syarat kamu ikhlas setengah rumah menjadi miliknya.

Kedua, ilusi nasionalisme. Negeri-negeri Muslim hari ini disekat batas negara bangsa warisan penjajah Sykes-Picot. Akibatnya, pembelaan ke Palestina hanya sebatas donasi dan kecaman. Turki punya tentara kuat tetapi diam, Mesir berbatasan langsung tetapi malah memblokade Rafah, Indonesia jauh dan tidak memiliki komando militer global. Nasionalisme membuat 2 miliar Muslim tak berdaya, padahal jika bersatu, kita adalah kekuatan terbesar dunia.

Ketiga, pengkhianatan penguasa Muslim. Banyak rezim di negeri Muslim justru menjadi mitra dagang dan militer Israel. Normalisasi berjalan, padahal Zionis terus membantai. Penguasa lebih takut pada AS ketimbang pada Allah. Mereka sibuk menjaga kursi kekuasaan, bukan menjaga nyawa saudaranya.


Salah alamat jika berharap pada PBB

Banyak seruan agar masalah Palestina dibawa ke meja diplomasi PBB. Namun sejarah 76 tahun membuktikan: PBB bukan solusi, ia bagian dari masalah. Lembaga ini lahir dari rahim negara penjajah. Bagaimana mungkin kita berharap macan akan melindungi kambing? Veto AS selalu menjadi tameng Israel. Hukum internasional hanya tajam terhadap negara lemah, tumpul terhadap negara kuat.

Akar persoalan Palestina bukan sekadar pelanggaran HAM. Yang hilang dari umat Islam hari ini adalah junnah, perisai pelindung. Sejak Khilafah Islamiyyah runtuh pada 1924, umat Islam seperti anak ayam kehilangan induk. Palestina dijajah, Rohingya dibantai, Uighur dikamp, dan tidak ada satu negara pun yang benar-benar mampu mengerahkan tentara untuk membela.


Palestina adalah masalah akidah, bukan nasionalisme

Karena itu, keliru jika kita memandang Palestina hanya dengan kacamata kemanusiaan atau sentimen kebangsaan. Allah sudah menetapkan bahwa kaum Muslim itu satu tubuh. Rasulullah bersabda: “Perumpamaan kaum Mukmin dalam kasih sayang, kelembutan, dan cinta mereka adalah seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakan demam dan tidak bisa tidur” (HR. Muslim). Jika Al-Aqsa dinistakan, jika darah Muslim Palestina ditumpahkan, maka itu urusan seluruh kaum Muslim. Diam adalah pengkhianatan terhadap akidah.


Solusi Islam Kaffah: Bukan Sekadar Gencatan Senjata

Lalu, apa solusinya? Berdoa penting, donasi mulia, demo perlu. Namun semua itu tidak akan menghentikan laras senjata Zionis. Penjajah hanya paham bahasa kekuatan. Dan kekuatan itu hanya dimiliki institusi negara, bukan ormas atau individu.

Islam kaffah memberi panduan jelas:
  • Satukan umat dalam institusi Khilafah. Allah mewajibkan adanya satu kepemimpinan untuk seluruh kaum Muslim. Khilafah bukan utopia, tetapi ajaran Islam dan fakta sejarah selama 13 abad. Hanya Khilafah yang memiliki wewenang syar’i untuk memaklumatkan jihad fii sabilillah, mengerahkan seluruh tentara negeri-negeri Muslim dari Indonesia, Pakistan, Turki, hingga Mesir dalam satu komando.
  • Putuskan hubungan dengan negara penjajah dan pendukungnya. Khilafah akan menghentikan suplai minyak, menutup jalur dagang, dan mengusir kedutaan negara yang mendukung Israel. Kekuatan ekonomi dan politik umat Islam sangat besar jika disatukan. Barat tidak akan mampu bertahan tanpa minyak Timur Tengah dan pasar 2 miliar Muslim.
  • Terapkan syariat Islam dalam politik luar negeri. Politik Khilafah berbasis dakwah dan jihad, bukan diplomasi kompromi. Wilayah yang dirampas seperti Palestina, statusnya ardhu kharajiyah, wajib dibebaskan. Rasulullah dan khalifah setelahnya tidak pernah berdamai dengan penjajah tanah Muslim. Pilihannya hanya dua: mereka keluar atau diperangi.
  • Bangun kesadaran umat. Solusi ini tidak akan lahir tiba-tiba. Umat harus disadarkan bahwa nasionalisme, demokrasi, dan PBB adalah jalan buntu. Opini umum tentang wajibnya Khilafah dan jihad harus dibangun. Dari sanalah akan lahir dukungan umat dan tentara yang siap membebaskan Palestina.

Sejarah membuktikan, Palestina hanya bebas ketika ada kekuatan militer yang menandingi. Shalahuddin Al-Ayyubi membebaskan Al-Quds bukan dengan kutukan PBB, tetapi dengan pedang dan pasukan. Umar bin Khattab menerima kunci Al-Quds karena wibawa Daulah Islam. Selama umat ini masih terkotak-kotak dalam 50 negara bangsa yang lemah, selama kita masih menggantungkan nasib pada PBB, maka setiap 17 April kita hanya akan memperingati bertambahnya jumlah tahanan, bertambahnya kuburan, dan bertambahnya daftar kekejaman.

Hari Tahanan Palestina seharusnya menjadi alarm: penderitaan ini tidak akan selesai dengan air mata dan donasi. Ia hanya selesai saat umat memiliki kembali perisainya, menerapkan Islam kaffah, dan menggerakkan tentara untuk mengusir penjajah. Sebab tanah Palestina bukan milik PBB, bukan milik dua negara. Ia milik umat Islam, dari sungai hingga laut.

Wallahu a’lam bi shawab.

Posting Komentar

0 Komentar