
Oleh: Dzaki Fadil
Pengamat Ekonomi
Pendapatan riil masyarakat semakin tergerus di tengah kenaikan biaya hidup, terutama pada komoditas esensial seperti pangan dan energi. Dampaknya langsung terasa pada daya beli, yang pada gilirannya memberi tekanan pada seluruh perekonomian. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa inflasi Indonesia pada Maret 2026 tercatat 3,48% secara tahunan (year on year/YoY).
Meskipun angka ini lebih rendah dibandingkan Februari yang mencapai 4,76% YoY, jika diperinci, terlihat ada ketidakseimbangan signifikan di komponen inflasi. Inflasi inti (core inflation), yang mencerminkan permintaan masyarakat, hanya berada pada 2,52% YoY. Sementara itu, komponen harga yang diatur pemerintah (administered prices) melonjak hingga 6,08%, dan harga pangan bergejolak (volatile foods) naik 4,24% YoY.
Fakta ini memberi petunjuk jelas: tekanan harga saat ini lebih didorong oleh masalah pasokan daripada lonjakan permintaan. Kenaikan harga energi dan pangan (kebutuhan pokok yang tidak bisa dielakkan) membebani rumah tangga secara langsung. Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M. Rizal Taufikurahman, menjelaskan bahwa dalam kondisi ini, ruang adaptasi masyarakat sangat terbatas. Biasanya, respons yang muncul adalah mengurangi konsumsi atau menurunkan kualitas konsumsi untuk bertahan.
Ketika pendapatan sebagian besar tersedot hanya untuk memenuhi kebutuhan pokok, daya beli untuk kebutuhan lain ikut tergerus. Fenomena ini tercermin dari Survei Konsumen Bank Indonesia pada Februari 2026, yang menunjukkan rata-rata porsi pendapatan masyarakat yang digunakan untuk konsumsi turun menjadi 71,6%. Angka ini adalah yang terendah sejak Desember 2020, ketika konsumsi masyarakat sempat menyentuh 69,0% akibat dampak pandemi Covid-19.
Situasi ini menimbulkan kekhawatiran serius bagi para ekonom. Tim Ekonom PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) pun memperingatkan potensi lonjakan inflasi di masa depan jika tekanan pasokan tidak segera diatasi. Dengan kata lain, masyarakat menghadapi dilema klasik: pendapatan terbatas, kebutuhan pokok terus meningkat, dan kemampuan konsumsi untuk kebutuhan lain makin tergerus. Kondisi ini memerlukan perhatian serius dari pemerintah, bukan sekadar kebijakan jangka pendek, karena efeknya menyentuh seluruh lapisan masyarakat dan stabilitas ekonomi jangka panjang (Bisnis, 11/04/2026).
Mengapa Ekonomi Kita Terpuruk?
Dalam ilmu ekonomi makro, ada dua penyakit utama yang biasanya bersifat trade off. Inflasi (kenaikan harga barang secara umum) biasanya terjadi ketika pengangguran rendah, karena banyak orang bekerja dan punya uang sehingga permintaan tinggi. Sebaliknya, resesi (pengangguran tinggi) biasanya disertai inflasi rendah karena daya beli masyarakat lemah.
Namun saat ini, Indonesia (bahkan banyak negara di dunia) mengalami kondisi ketiga yang paling berbahaya: stagflasi. Inflasi tinggi dan pengangguran tinggi terjadi bersamaan. Harga-harga naik, tetapi orang tidak punya pekerjaan. Ini seperti jatuh tertimpa tangga, sakit di dua sisi sekaligus.
Apa penyebabnya? Salah satu pemicu utama adalah pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika. Indonesia masih sangat tergantung pada impor bahan baku. Ketika dolar naik, harga bahan baku impor melonjak, biaya produksi naik, dan harga barang jadi ikut meroket (inflasi). Di sisi lain, untuk menekan biaya, perusahaan melakukan efisiensi dengan mem-PHK karyawan (pengangguran naik). Rantai sebab-akibat ini menunjukkan betapa rapuhnya struktur ekonomi kita yang bergantung pada impor.
Dalam sistem ekonomi kapitalis yang berbasis pasar bebas, berlaku hukum zero sum game. Artinya, ketika sebagian besar orang menderita, pasti ada segelintir pihak yang justru berpesta pora. Perang di Timur Tengah yang memicu kenaikan harga minyak dunia, misalnya, sangat memberatkan APBN Indonesia, tetapi di sisi lain, produsen minyak dan spekulan energi menikmati keuntungan besar.
Ekonomi pasar bebas diibaratkan sebagai pertandingan tinju tanpa kelas. Kelas berat, kelas ringan, kelas bulu, semua boleh masuk ring. Siapa yang akan menang? Sudah pasti kelas berat. Yang kecil dan lemah akan selalu terinjak. Inilah yang terjadi di Indonesia, 1 persen penduduk menguasai 50 persen kekayaan aset nasional (Tempo, 10/10/2019).
Uang beredar hanya di Jakarta, sementara daerah-daerah lain terpinggirkan. Lulusan SMA, bahkan sarjana, dari berbagai daerah terpaksa hijrah ke Jakarta karena tidak ada pekerjaan di kampung halaman. Akibatnya, Jakarta mengalami kemacetan parah, banjir, dan beban penduduk yang tidak tertahankan.
Ustaz Dwi Condro Triono mengungkapkan bahwa sistem ekonomi kapitalis tidak lahir dari ruang hampa. Ia dibidani oleh pemikiran filosofis yang menolak Tuhan dan aturan-Nya, yang kemudian merujuk pada teori evolusi Charles Darwin. Survival of the fittest, siapa yang kuat, dialah yang menang. Yang lemah harus tersingkir, bahkan punah, dan itu dianggap sebagai hukum alam yang tidak perlu ditangisi.
Inilah karakter pemimpin dunia seperti Donald Trump dan Benjamin Netanyahu. Mereka tidak peduli pada rakyatnya sendiri, apalagi pada musuh. Gelombang demonstrasi besar-besaran di Amerika dan Israel tidak membuat mereka bergeming. Mereka adalah representasi sejati kapitalisme: menang, menang, menang, berapa pun korbannya.
Dolar Amerika bisa menjadi mata uang dunia bukan karena keunggulan ekonomi semata, tetapi karena dikawal dengan kekuatan politik dan militer. Setelah Perang Dunia II, pemenang perang (AS, Inggris, Prancis) berkumpul di Bretton Woods dan menetapkan dolar sebagai mata uang perdagangan dunia. Siapa pun yang berani tidak menggunakan dolar akan disikat. Irak dihancurkan, Saddam Hussein digantung. Venezuela presidennya diculik. Iran terus-menerus ditekan. Ini bukan ekonomi, ini politik dan militer.
Negara Gagal Menjalankan Amanah Distribusi Kekayaan
Allah ï·» berfirman dalam surah Al-Hasyr ayat 7:
ÙƒَÙŠْ Ù„َا ÙŠَÙƒُÙˆْÙ†َ دُÙˆْÙ„َØ©ً ۢ بَÙŠْÙ†َ الْاَغْÙ†ِÙŠَاۤØ¡ِ Ù…ِÙ†ْÙƒُÙ…ْۗ
“Agar harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.”
Ayat ini menegaskan bahwa negara memiliki tanggung jawab untuk mendistribusikan kekayaan secara adil. Jangan sampai uang hanya berputar di kalangan segelintir orang kaya, sementara yang lain kelaparan. Namun hari ini, justru itulah yang terjadi. Kapitalisme membiarkan persaingan bebas. Yang kuat menang, yang lemah terinjak. Negara hadir sebagai penonton, bahkan kadang ikut menindas.
Sementara itu, anggaran negara yang sangat besar (seperti Rp335 triliun untuk program Makan Bergizi Gratis) justru dialokasikan untuk hal yang seharusnya menjadi kewajiban individu (memberi makan anak), bukan kewajiban negara. Ustaz Dwi Condro mengingatkan bahwa kewajiban negara adalah menyelenggarakan pendidikan gratis dan kesehatan gratis. Dengan uang Rp335 triliun, Indonesia bisa menggratiskan biaya pendidikan di seluruh universitas negeri (cukup 1,2 triliun untuk UI yang termahal, sisanya untuk ribuan sekolah dan rumah sakit). Namun prioritas keliru ini membuat negara semakin jauh dari fungsinya.
Umat Islam hari ini aneh. Mereka rajin salat, puasa, dan berdoa, tetapi ekonomi mereka kapitalis, budaya mereka hedonis, dan pemimpin mereka machiavellian. Islam hanya dijadikan seremoni, bukan way of life. Akibatnya, ketika ditanya “mau berjuang untuk apa?”, tidak ada jawaban. “Berjuang untuk Islam?” Mereka sendiri tidak yakin. “Berjuang untuk khilafah?” Mereka malah memusuhi ide itu.
Padahal, Israel yang kecil dan dibenci dunia bisa bangkit karena mereka punya mimpi besar. Theodor Herzl pada 1890-an mencetuskan ide mendirikan negara Yahudi di Palestina. Semua orang mencibir, menganggapnya utopis. Namun mereka gigih, mereka istikamah, dan 48 tahun kemudian mimpi itu terwujud. Umat Islam, sebaliknya, bahkan takut untuk bermimpi. Begitu ada yang menyerukan khilafah, mereka marah, bahkan kitabnya dibakar. Maka jangan heran jika sampai kiamat umat ini tidak akan bangkit.
Dua Agenda, Jangka Pendek dan Jangka Panjang
Dalam kondisi ekonomi yang sulit, seorang Muslim wajib survive. Namun survival dalam Islam tidak boleh dengan cara menghalalkan segala cara. Prinsipnya: survive dalam koridor syariat.
Langkah pertama, pahami skala prioritas (fikih aulawiyat). Kebutuhan asasi (pangan, sandang, papan) adalah prioritas utama. Jangan memaksakan diri untuk hal-hal yang sunah atau mubah jika kebutuhan asasi belum terpenuhi. Kebutuhan yang tadinya bersifat pelengkap (kamaliah) seperti listrik, gas, BBM, bahkan pulsa, kini menjadi kamaliah luzumiah, pelengkap yang wajib karena kondisi zaman. Namun tetap, pangan adalah yang utama. Gizi cukup tidak harus mahal. Tidak perlu MBG.
Kedua, lakukan diversifikasi pendapatan. Jangan hanya mengandalkan satu pekerjaan utama. Cari pekerjaan sampingan yang tidak mengganggu kewajiban utama, tidak memerlukan modal besar, dan bisa dilakukan dari rumah. Era digital membuka peluang bisnis online tanpa modal, cukup dengan pulsa dan gadget. Bergabunglah dengan jaringan bisnis halal dan tetap dalam koridor syariat.
Ketiga, kelola keuangan keluarga dengan bijak. Bagi ibu-ibu yang mengatur keuangan rumah tangga, bedakan antara kebutuhan asasi dan kebutuhan pelengkap. Jangan terpengaruh gaya hidup konsumtif. Ingat, yang akan dihisab oleh Allah bukan hanya pendapatan, tetapi juga pengeluaran.
Tidak cukup hanya bertahan. Seorang Muslim juga wajib berjuang mengubah sistem yang zalim menjadi sistem yang diridhai Allah. Ini adalah agenda perjuangan jangka panjang: menegakkan khilafah, sistem yang pernah membawa kejayaan Islam selama 14 abad.
Janji Allah tegas dalam surah Muhammad ayat 7:
ÙŠٰٓاَÙŠُّÙ‡َا الَّذِÙŠْÙ†َ اٰÙ…َÙ†ُÙˆْٓا اِÙ†ْ تَÙ†ْصُرُوا اللّٰÙ‡َ ÙŠَÙ†ْصُرْÙƒُÙ…ْ ÙˆَÙŠُØ«َبِّتْ اَÙ‚ْدَامَÙƒُÙ…ْ
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”
Syarat untuk mendapatkan pertolongan Allah adalah menolong agama Allah, yaitu memperjuangkan tegaknya syariat Islam secara kaffah dalam naungan khilafah. Tanpa mimpi besar ini, tanpa kesediaan berkorban untuk cita-cita ini, umat Islam akan terus terpuruk. Israel yang kecil saja bisa bangkit karena punya mimpi. Umat Islam yang besar ini, jika punya mimpi, pasti akan lebih dahsyat.
Jangan takut dianggap utopis. Jangan takut dicemooh. Theodor Herzl pun dicemooh, namun 48 tahun kemudian Israel berdiri. Kita memiliki janji Allah yang lebih kuat. Tinggal satu: beranikah kita bermimpi? Beranikah kita berjuang?
Wallahu’alam bish-shawwab.

0 Komentar