GAZA TERLUKA, SAATNYA KHILAFAH MENJADI PERISAI UMAT


Oleh: Ummu Anjaly, S.K.M.
Penulis Lepas

Derita Gaza belum juga usai. Di tengah kepungan blokade dan gempuran tanpa henti, bantuan kemanusiaan pun tak luput dari kezaliman. Dunia menyaksikan, namun tak banyak yang benar-benar bertindak. Tragedi ini bukan sekadar konflik regional, melainkan potret nyata rapuhnya perlindungan terhadap kaum Muslimin. Pertanyaannya, di manakah perisai umat saat darah terus tertumpah?


Blokade, Serangan, dan Kezaliman yang Terus Berulang

Entitas Zionis kembali menuai sorotan internasional setelah menyita kapal-kapal pembawa bantuan kemanusiaan menuju Gaza di perairan internasional, dekat wilayah Yunani. Tindakan ini jelas melanggar hukum laut internasional, namun tetap dilakukan tanpa rasa takut akan sanksi global (Kompas, 01/052026).

Dalam insiden tersebut, sebanyak 211 aktivis dilaporkan ditangkap oleh militer Zionis (Kompas, 01/05/2026), sementara 31 lainnya mengalami luka-luka akibat tindakan represif (Minanews, 05/052025). Zionis berupaya membenarkan aksinya dengan menuding bahwa pelayaran tersebut berada di bawah arahan Hamas. Ini adalah narasi lama yang terus diulang untuk melegitimasi agresi.

Di sisi lain, kekejaman di daratan Gaza tak kalah memilukan. Kantor Komisioner Tinggi HAM PBB (OHCHR) telah memverifikasi kematian hampir 300 jurnalis sejak Oktober 2023, menjadikan Gaza sebagai tempat paling mematikan bagi pekerja media. Selama dua tahun agresi, lebih dari 72.000 jiwa melayang dan 172.000 lainnya terluka. Tak hanya itu, sekitar 90 persen infrastruktur sipil hancur akibat serangan brutal. Fakta-fakta ini menegaskan bahwa Gaza sedang mengalami kehancuran sistematis, sementara dunia internasional tampak gagal menghentikannya (Antaranews, 04/05/2026).


Ketika Sistem Dunia Gagal Melindungi Umat

Pelanggaran terhadap hukum laut internasional dalam penyitaan kapal bantuan menunjukkan bahwa pihak Zionis tidak mengenal batas dalam mempertahankan blokade Gaza. Bahkan, narasi “terorisme” terus digunakan untuk membungkam solidaritas global terhadap Palestina. Label ini bukanlah kebenaran, melainkan alat propaganda untuk membenarkan kezaliman.

Lebih menyakitkan lagi, tidak ada satu pun negeri Muslim yang mengirimkan kekuatan militernya untuk melindungi kapal-kapal bantuan tersebut. Ini bukan sekadar kelalaian, tetapi bukti bahwa sistem negara-bangsa (nation-state) saat ini tidak dirancang untuk melindungi umat Islam secara kolektif. Setiap negara sibuk dengan kepentingannya masing-masing, sementara penderitaan Gaza terus berlangsung.

Akar masalahnya terletak pada ketiadaan kepemimpinan global umat Islam yang bersandar pada akidah. Negeri-negeri Muslim terpecah dalam batas-batas nasional yang diwariskan penjajah, sehingga kehilangan kekuatan untuk bertindak sebagai satu kesatuan. Dalam kondisi ini, Palestina, termasuk Gaza, menjadi sasaran empuk penjajahan kapitalis Barat yang didukung oleh kekuatan global.


Solusi Islam

Dalam pandangan Islam, Gaza bukan sekadar wilayah konflik, melainkan bagian dari tanah kaum Muslimin yang wajib dilindungi. Membiarkan kezaliman terus berlangsung tanpa tindakan nyata adalah kemungkaran yang harus diubah dengan kemampuan terbaik yang dimiliki umat.

Islam telah menetapkan bahwa keberadaan pemimpin yang melindungi umat adalah sebuah keniscayaan. Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّمَا الإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ فَإِنْ
Sesungguhnya imam (khalifah) itu adalah perisai (junnah), di belakangnya kaum Muslimin berperang dan berlindung.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis ini menegaskan bahwa Khilafah bukan sekadar konsep politik, melainkan institusi yang berfungsi sebagai pelindung umat. Dalam sistem Khilafah, negara memiliki kewajiban untuk menjaga kehormatan, jiwa, dan harta kaum Muslimin, termasuk membela mereka dari agresi pihak luar.


Penutup

Gaza hari ini adalah cermin luka umat Islam. Setiap bom yang jatuh dan setiap nyawa yang melayang adalah pengingat bahwa umat ini kehilangan perisainya. Selama umat terpecah dan tidak memiliki kepemimpinan yang menyatukan, tragedi seperti ini akan terus berulang.

Khilafah adalah kebutuhan mendesak, bukan sekadar wacana. Dengan tegaknya Khilafah, umat Islam tidak lagi menjadi penonton penderitaan saudaranya, tetapi bangkit sebagai kekuatan yang melindungi dan memuliakan. Gaza membutuhkan lebih dari sekadar simpati; ia membutuhkan perisai, dan perisai itu adalah Khilafah.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Posting Komentar

0 Komentar