
Oleh: Khusnul H.
Penulis Lepas
Polisi menangkap dua dari lima pelaku pengeroyokan terhadap seorang pelajar bernama Ilham Dwi Saputra (16) di Jalan Banyu Urip, Caturharjo, Pandak, Kabupaten Bantul. Ilham sempat dirawat sebelum akhirnya dinyatakan meninggal dunia di rumah sakit akibat luka yang dideritanya. Kasi Humas Polres Bantul, Iptu Rita Hidayanto, mengonfirmasi bahwa dua pelaku, yakni BLP (laki-laki, 18) asal Kretek dan YP (laki-laki, 21) asal Bambanglipuro, Kabupaten Bantul, telah diamankan (Kumparan, 21/04/2026).
Kekerasan serupa juga mewarnai wilayah lain. Polisi tengah mendalami kronologi penyiraman air keras terhadap dua pelajar SMA di Parung Panjang, Bogor, Jawa Barat. Peristiwa tersebut terjadi saat kedua korban dalam perjalanan pulang sekolah pada Senin (20/4/2026). Kasatres PPA & PPO Polres Bogor, AKP Silfi Adi Putri, menjelaskan bahwa korban disiram air keras oleh orang tidak dikenal saat tengah berada di jalan usai berkumpul bersama teman-temannya (Detik, 22/04/2026).
Di sisi lain, Panitia Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) 2026 menemukan sejumlah praktik kecurangan pada hari pertama pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer-Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK-SNBT), Selasa (21/4/2026). Ketua Umum Tim Penanggung Jawab SNPMB 2026, Eduart Wolok, menjelaskan bahwa praktik perjokian masih ditemukan dalam tes masuk perguruan tinggi tahun ini, termasuk di lokasi tes Universitas Negeri Surabaya. Temuan tersebut bahkan mencakup adanya peserta yang mendaftar di dua tahun berturut-turut namun menggunakan nama yang berbeda (Tempo, 21/04/2026).
Potret Buram Pendidikan
Setiap tahun, Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) dirayakan, namun kenyataannya dunia pendidikan kita justru semakin buram dan memprihatinkan. Rentetan kasus kekerasan, pelecehan seksual, hingga kecurangan akademik menunjukkan bahwa ruang aman di sekolah dan kampus kian tidak terjamin. Pendidikan saat ini seolah belum mampu mencetak generasi yang bermoral baik. Budaya plagiarisme dan joki UTBK yang merata di berbagai lembaga pendidikan menunjukkan krisis kejujuran yang akut.
Belum lagi tren penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar dan mahasiswa yang kian meningkat, yang sering kali didorong oleh beban ekonomi dan paradigma menghalalkan segala cara. Fenomena siswa yang menghina hingga memenjarakan guru karena ditegur menunjukkan hilangnya nilai penghormatan terhadap pendidik. Ini adalah puncak gunung es dari darurat moral pendidikan di negeri kita. Perayaan tahunan terasa tidak relevan ketika pelayanan pendidikan belum menyentuh akar masalah, ditambah kesenjangan kesejahteraan guru serta pelajar di pelosok yang seolah terlupakan.
Kegagalan Paradigma Sekuler
Peringatan Hardiknas seharusnya menjadi alarm keras bagi semua pihak untuk mengevaluasi kembali tujuan dan metode pendidikan yang diterapkan. Kegagalan implementasi peta jalan pendidikan telah melahirkan generasi yang mengalami krisis kepribadian (cenderung sekuler, liberal, dan pragmatis) sehingga jauh dari predikat kaum intelektual yang beradab.
Sistem pendidikan sekuler-kapitalistik cenderung mencetak individu yang mengejar kesuksesan instan tanpa mau berproses secara jujur. Ditambah lagi, longgarnya sanksi hukum bagi pelaku kriminal usia pelajar (dengan dalih di bawah umur) membuat tindakan kejahatan sering kali hanya dianggap sebagai kenakalan remaja biasa tanpa efek jera. Minimnya internalisasi nilai-nilai agama dalam kurikulum sekuler kian memperlebar ruang kebebasan yang mengikis moral dan kepribadian generasi.
Solusi Pendidikan Islam
Sebaliknya, dalam Islam, pendidikan merupakan kebutuhan mendasar yang wajib dijamin sepenuhnya oleh negara. Negara bertanggung jawab penuh atas pembentukan karakter generasi, bukan sekadar bertindak sebagai penjual jasa pendidikan. Asas akidah dalam sistem pendidikan Islam bertujuan menghasilkan insan kamil yang cerdas sekaligus bertakwa, sehingga mereka tidak akan menempuh jalan curang demi kesuksesan.
Motivasi pendidikan dalam Islam adalah meraih rida Allah ï·», yang membawa keberkahan dunia hingga akhirat. Oleh karena itu, fokus utamanya adalah pembentukan karakter (syakhshiyah Islamiyah), di mana pelajar memiliki keselarasan antara pola pikir dan pola sikap yang mulia.
Sinergi ini diperkuat dengan penerapan sistem sanksi (uqubat) yang tegas dan adil bagi pelaku kejahatan tanpa memandang status sosial. Negara akan membangun suasana hidup penuh ketakwaan yang mendorong setiap individu berlomba dalam amal kebaikan. Sinergi antara pendidikan keluarga, lingkungan, dan sistem negara yang berpijak pada syariat Islam adalah solusi nyata untuk mengatasi persoalan yang meresahkan ini, guna mewujudkan masyarakat yang harmonis dan bermartabat.
Wallahu a’lam bish-shawab.

0 Komentar