
Oleh: Sadawa
Aktivis Dakwah
Global Sumud Flotilla merupakan koalisi aktivis kemanusiaan internasional yang membawa bantuan untuk menembus blokade Israel di Gaza. Tahun sebelumnya upaya serupa juga dilakukan, namun kembali dicegat. Kamis (30/04/2026), Global Sumud Flotilla menyebut, militer Israel telah menculik 211 aktivis dalam operasi di perairan internasional dekat Pulau Kreta, Yunani, 600 mil laut dari Gaza.
Sebanyak 31 aktivis terluka dari berbagai negara. Para aktivis yang ditahan selama pencegatan mengalami perlakuan buruk di atas kapal angkatan laut Israel selama hampir 40 jam. Mereka sengaja tidak diberi air dan makanan yang cukup dan dipaksa tidur di lantai yang basah; tentara Israel menendang, memukul, dan menyeret di tanah, bahkan melepaskan tembakan ke arah orang-orang.
Insiden terbaru ini memicu kecaman internasional, terutama karena lokasi pencegatan yang dinilai sangat jauh dari zona blokade Gaza (Kompas, 30/04/2026).
Sementara itu, Kantor Komisi Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR) menyebutkan bahwa Jalur Gaza merupakan tempat paling mematikan di dunia bagi para jurnalis dan telah memverifikasi kematian hampir 300 jurnalis sejak Oktober 2023 ketika Zionis Israel mulai meluncurkan agresi ke Gaza (Antara, 04/05/2026).
Bahkan dengan tidak merasa bersalahnya, Zionis Israel menuduh organisasi GSF beroperasi di bawah arahan kelompok Hamas. Namun, narasi sepihak itu hanya klaim omong kosong yang tidak bisa dipertanggungjawabkan secara hukum. Sebab, Israel tidak pernah menunjukkan bukti apa pun terkait hubungannya dengan Hamas.
Kasus ini kembali menyoroti kebiasaan Israel yang kerap mengabaikan hukum laut internasional dan menggunakan label teroris untuk memberangus gerakan solidaritas global internasional di Palestina. Tindakan Israel mencerminkan ketakutan besar mereka terhadap solidaritas sipil global. Meski 22 kapal telah disita, tetapi 31 kapal lainnya masih terus berlayar dan didukung oleh lebih dari 200 aksi solidaritas di daratan seluruh dunia.
Kondisi ini, sejatinya adalah protes nyata kegagalan dunia internasional. PBB, lembaga kemanusiaan, dan negara-negara adidaya sibuk mengutuk, namun tak ada langkah konkret yang menyelamatkan Gaza. Ironis dan miris, di abad modern dengan kemajuan teknologi, informasi, dan diplomasi, umat manusia justru gagal memberikan hak dasar berupa hak hidup bagi warga negara Palestina. Reaksi dunia kembali terbatas pada kutukan diplomatik.
Dewan Keamanan PBB memang mengecam, tetapi tak ada solusi berarti. Amerika Serikat bahkan tetap berdiri kokoh di belakang Israel, memberikan dukungan militer dan politik tanpa henti. “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin(mu); sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (TQS. Al-Ma'idah [5]: 51).
Umat Islam yang berharap pada kekuatan Barat akan terus dikecewakan, sebab sistem internasional yang ada hari ini dibangun atas kepentingan politik global, bukan atas dasar kemanusiaan, apalagi iman.
Dari sisi syar'i, Palestina adalah tanah umat Islam yang diberkahi Allah Ta'ala. “Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya...” (TQS. Al-Isra' [17]: 1).
Karena itu, membebaskan Palestina bukan hanya isu kemanusiaan, tetapi kewajiban akidah. “Seorang mukmin terhadap mukmin lainnya bagaikan satu tubuh, bila salah satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh turut merasakannya dengan tidak bisa tidur dan demam.” (HR. Muslim).
Maka, penderitaan Gaza adalah penderitaan umat Islam seluruh dunia. Solusi yang ditawarkan oleh dunia sekuler berupa negosiasi, konferensi damai, dan bantuan kemanusiaan terbatas hanya mengulur waktu, tidak pernah menyelesaikan masalah. Sejarah membuktikan bahwa penjajah tidak akan pernah rela melepaskan Palestina secara sukarela.
Karena itu, jihad fisabilillah menjadi jalan yang syar'i untuk membebaskan Palestina. Jihad dengan perlawanan terorganisasi dari kekuatan militer umat Islam yang bersatu. “Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) agama itu hanya bagi Allah semata.” (TQS. Al-Baqarah [2]: 193).
Meski umat Islam di berbagai belahan dunia belum bisa terjun langsung ke medan jihad, ada peran besar yang tidak kalah penting: membentuk opini publik dan menyuarakan kebenaran. Ini bagian dari amar makruf nahi mungkar. “Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubah dengan tangannya. Jika tak mampu maka dengan lisannya dan jika tak mampu, maka dengan hatinya, itulah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim).
Menyebarkan informasi yang benar tentang kejahatan Israel, membantah narasi media Barat yang bias, serta menggalang solidaritas umat adalah bentuk nyata amar makruf nahi mungkar. Media sosial, forum publik, masjid, dan ruang akademik harus dijadikan sarana untuk menghidupkan empati umat.
Sayangnya, hingga hari ini kesadaran umat belum menjadi opini umum. Banyak kaum muslimin masih memandang Palestina hanya sebagai konflik regional, bukan sebagai kewajiban akidah. Padahal, jika umat bersatu, jumlah mereka mencapai dua miliar jiwa, suatu kekuatan yang akan mampu melumpuhkan Israel sekalipun di belakangnya ada Amerika Serikat.
Wallahu a'lam.

0 Komentar