
Oleh: Dede Masitoh
Mahasiswi Universitas Terbuka
Setiap tahun Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) diperingati secara serentak, namun nyatanya dunia pendidikan saat ini kian buram dan memprihatinkan. Kerusakan ini tidak hanya terjadi pada sistem pembelajaran akademik, tetapi juga pada pendidikan karakter. Berbagai kasus memilukan kian marak terjadi di lingkungan akademik, mulai dari pelecehan seksual, pengeroyokan, hingga tawuran antar-pelajar. Media massa terus dipenuhi kabar duka yang menunjukkan ketiadaan ruang aman di sekolah maupun kampus.
Baru-baru ini, publik kembali dihebohkan dengan kasus kecurangan dalam ujian masuk perguruan tinggi negeri. Tempat yang seharusnya menjadi ajang persaingan setara justru dinodai oleh maraknya praktik joki UTBK-SNBT. Mengutip laman kompas.id (22/04/2026), dua joki UTBK ditangkap di Surabaya dengan nilai bayaran yang fantastis jika berhasil meloloskan kliennya. Selain itu, budaya plagiarisme pun menjamur di hampir semua tingkatan akademik, dari sekolah dasar hingga jenjang strata 3.
Lebih parah lagi, narkoba kini merambah kalangan pelajar dan mahasiswa, baik sebagai pengguna maupun pengedar. Ditambah lagi perilaku pelajar yang kian berani menghina guru, bahkan mengancam dengan jalur hukum saat sang pendidik berupaya mendisiplinkan mereka. Rentetan kejadian ini tidak dapat disimpulkan sebagai kasus perorangan belaka, melainkan dampak dari sebuah sistem yang merusak tatanan moral hingga dunia pendidikan menyandang status darurat moral.
Hardiknas seharusnya menjadi momen renungan dan alarm keras bagi semua pihak untuk memperbaiki kondisi ini. Kita harus memahami akar permasalahannya. Berikut adalah beberapa poin krusial yang harus menjadi fokus evaluasi:
- Kegagalan Implementasi Peta Jalan Pendidikan: Hal ini menghasilkan pelajar yang mengalami krisis kepribadian (cenderung sekuler, liberal, dan pragmatis) sehingga jauh dari predikat kaum intelektual yang beradab.
- Sistem Pendidikan Sekuler-Kapitalistik: Sistem ini menghasilkan output individu yang menginginkan kesuksesan instan tanpa usaha serius, sehingga menghalalkan segala cara demi nilai atau materi.
- Lemahnya Sanksi Hukum: Sanksi bagi pelaku kriminal di kalangan pelajar sering kali terlalu longgar dengan alasan pelaku masih di bawah umur, sehingga tindakan kriminal hanya dianggap sebagai kenakalan remaja biasa.
- Minimnya Pendidikan Nilai Agama: Dalam sistem sekuler, agama dianggap kurang penting, sehingga memperlebar ruang kebebasan yang mengikis moral dan memudahkan individu terseret pada tindak kejahatan.
Perspektif Islam sebagai Solusi Dalam Islam, pendidikan adalah kebutuhan mendasar yang wajib dijamin pemenuhannya oleh negara. Hal ini selaras dengan hadis:
كُلُّكُمْ رَاعٍ فَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالأَمِيرُ الَّذِي عَلَى
"Seorang imam (pemimpin) adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyat dan ia akan diminta pertanggungjawaban atas rakyatnya" (HR. Bukhari dan Muslim).
Sejarah mencatat pada masa kejayaannya, Islam mampu melahirkan kemajuan teknologi dan sains yang dibarengi dengan adab yang mulia. Asas akidah dalam pendidikan Islam bertujuan menghasilkan insan kamil yang cerdas sekaligus bertakwa, sehingga tidak akan melakukan kecurangan demi meraih kesuksesan instan.
Dalam Daulah Islam, pendidikan fokus pada pembentukan karakter (syakhshiyah Islamiyah) agar pelajar memiliki keselarasan antara pola pikir dan pola sikap. Islam juga menerapkan sistem sanksi yang tegas bagi pelaku kejahatan tanpa memandang remeh sebagai "kenakalan remaja". Beban hukum (mukallaf) dilandaskan pada masa akil balig. Hal ini dijelaskan dalam hadis:
رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثَةٍ عَنْ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ وَعَنْ الصَّغِيرِ حَتَّى يَحْتَلِمَ وَعَنْ الْمَجْنُونِ حَتَّى يَعْقِلَ
"Diangkat pena (beban hukum) dari tiga golongan: orang yang tidur hingga ia bangun, anak kecil hingga ia bermimpi (balig), dan orang gila hingga ia berakal" (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan An-Nasa'i).
Negara berkewajiban membangun suasana hidup yang penuh ketakwaan dan mendorong individu berlomba dalam kebaikan. Sinergi pendidikan ini harus dibangun mulai dari komponen terkecil yaitu keluarga, didukung oleh lingkungan masyarakat, dan dipayungi oleh sistem pendidikan negara yang berpijak pada akidah serta syariat Islam.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Refrensi:
- https://kumparan.com/kumparannews/pelajar-di-bantul-tewas-dikeroyok-lalu-dilindas-2-pelaku-ditangkap-5-buron-27Fe4oMyXkD
- https://www.tvonenews.com/channel/news/380521-dua-pelaku-kasus-penganiayaan-pelajar-di-bantul-berhasil-ditangkap
- https://www.kompas.id/artikel/tewasnya-pelajar-sma-di-bandung-enam-tersangka-juga-pelajar
- https://news.detik.com/berita/d-8456179/kronologi-2-pelajar-sma-bogor-disiram-air-keras-hingga-alami-luka-di-wajah
- https://www.kompas.id/artikel/darurat-kekerasan-di-dunia-pendidikan-ada-233-kasus-dalam-tiga-bulan
- https://www.kompas.id/artikel/dua-joki-utbk-snbt-di-surabaya-ditangkap-mengaku-dibayar-rp-100-juta-jika-berhasil?utm_source=link&utm_medium=shared&utm_campaign=tpd_-_android_traffic
- https://www.tempo.co/politik/temuan-kecurangan-utbk-snbt-joki-hingga-alat-bantu-dengar-2130586
- https://www.medcom.id/pendidikan/news-pendidikan/0KvZMeYK-kecurangan-di-utbk-snbt-ada-terus-tiap-tahun-apa-sih-pemicunya
- https://surabaya.kompas.com/read/2026/04/24/131456178/praktik-joki-utbk-2026-terungkap-pengamat-beber-akar-masalah-dan-dampaknya
- https://surabaya.kompas.com/read/2026/04/24/120514978/pengamat-soroti-kasus-joki-utbk-2026-kampus-berisiko-luluskan-mahasiswa-tak
- https://news.detik.com/berita/d-8455689/terungkap-praktik-joki-utbk-di-2-kampus-surabaya-modus-palsukan-dokumen

0 Komentar