PENGHALANG MENJADI ORANG SALEH


Oleh: Abd. Mukti
Pemerhati Kehidupan Beragama

Setiap orang tentu mendambakan menjadi pribadi yang saleh. Namun, bagi sebagian orang, keinginan tersebut sering kali hanya sebatas angan-angan tanpa perwujudan nyata. Terkadang, keinginan menjadi saleh justru kontraproduktif dengan praktik kehidupan sehari-hari. Banyak orang yang justru menciptakan penghalang bagi dirinya sendiri untuk meraih derajat kesalehan.

Terkait hal ini, sahabat Ali karromallahu wajhah pernah berkata:

عَنْ عَلِيّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ لَوْلَا خَمْسَ خِصَالٍ لَصَارَ النَّاسُ كُلُّهُمْ صَالِحِيْنَ اَوَّلُهَا اَلْقَنَاعَة ُبِالجَهْلِ وَالْحِرْصُ عَلَى الدُّنْيَا وَالشُّحُّ بِالْفَضْلِ وَالرِّياَ فِى الْعَمَلِ وَالْإعْجَابُ بِالرّأيِ
"Seandainya tidak ada lima perkara, seluruh manusia tentu menjadi orang-orang saleh. Pertama, merasa puas dengan kebodohan. Kedua, terlalu fokus terhadap dunia. Ketiga, bakhil terhadap harta. Keempat, riya dalam beramal. Dan kelima, membanggakan pendapat sendiri." (Syekh Nawawi al-Bantani, Nashaihul 'Ibad, hlm. 32).

1. Merasa Puas dengan Kebodohan
Sikap ini sangat tercela dalam Islam yang mewajibkan setiap muslim untuk menuntut ilmu. Rasulullah ﷺ bersabda: "Menuntut ilmu itu fardu atas setiap muslim." (HR. Ibnu Majah).

Ilmu adalah cahaya. Dengan ilmu, seseorang dapat mengangkat derajatnya, membedakan yang hak dan yang batil, serta menjadikan ibadahnya lebih bernilai. Allah ﷻ berfirman: "Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat." (QS. Al-Mujadilah: 11).

2. Terlalu Fokus terhadap Dunia
Sikap ini buruk karena membuat seseorang lupa akan tujuan akhirat. Allah ﷻ mengingatkan: "Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (pahala) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia..." (QS. Al-Qashash: 77).

Kondisi saat ini menunjukkan banyak orang berlomba berebut dunia hingga memicu kerusakan moral, seperti kekerasan, korupsi, dan suap. Padahal, kesenangan dunia hanyalah sedikit dibandingkan akhirat yang lebih baik bagi orang yang bertakwa (QS. An-Nisa: 77).

3. Bakhil terhadap Harta
Apa pun yang kita miliki sejatinya adalah titipan Allah ﷻ. Maka, sangatlah rugi jika kita bakhil dan tidak menginfakkan harta di jalan Allah melalui sedekah atau amal jariyah. Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa ketika manusia wafat, amalnya terputus kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya (HR. Muslim).

Pahala amal jariyah akan terus mengalir meskipun kita sudah wafat. Bahkan, dalam Al-Qur'an surah Al-Munafiqun ayat 10, diceritakan bahwa orang yang menghadapi kematian sangat menyesal dan memohon agar kematiannya ditunda sebentar saja agar mereka bisa bersedekah dan menjadi orang saleh.

4. Riya dalam Beramal
Riya adalah pamer atau melakukan amal ibadah dengan maksud mendapatkan pujian manusia. Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa riya termasuk kategori syirik kecil (asy-syirkul asghar). Beliau bersabda: "Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil, yaitu riya." (HR Ahmad). Riya membuat amalan akhirat kehilangan nilai di sisi Allah karena pelakunya mengharapkan imbalan duniawi.

5. Membanggakan Diri Sendiri (Ujub)
Sifat ini adalah merasa diri lebih baik dan lebih hebat dibandingkan orang lain. Ujub sering kali menyeret seseorang pada kesombongan. Nabi ﷺ bersabda: Perkara yang membinasakan: kikir yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan rasa ujub seseorang akan dirinya sendiri. (HR Ath-Thabarani).


Penutup

Semoga kita termasuk orang-orang yang istikamah dalam beramal saleh yang dilandasi iman kokoh. Allah ﷻ telah memberikan kabar gembira bahwa bagi mereka yang beriman dan beramal saleh disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya (QS. Al-Baqarah: 25).

Nashrun minallahi wa fathun qariib.

Posting Komentar

0 Komentar