
Oleh: Dara Ananda
Muslimah Peduli Umat
Lagi-lagi, kekerasan brutal yang melibatkan remaja kembali terjadi dan merenggut nyawa manusia. Seorang pelajar bernama Ilham Dwi Saputra (16) di Bantul meninggal dunia setelah menjadi korban pengeroyokan sadis oleh sekelompok remaja. Korban dilaporkan mengalami penganiayaan berat, disundut rokok, ditusuk, hingga dilindas menggunakan sepeda motor. Pihak kepolisian telah menangkap beberapa pelaku, sementara sebagian lainnya masih dalam pengejaran. Dugaan sementara, aksi brutal tersebut dipicu oleh motif balas dendam antarkelompok remaja.
Kasus memilukan ini bukan sekadar tindak kriminal biasa, melainkan menjadi cerminan nyata dari krisis moral yang semakin mengkhawatirkan di tengah generasi muda saat ini. Kekerasan kini seolah-olah menjadi jalan pintas untuk melampiaskan emosi, menunjukkan solidaritas kelompok yang keliru, bahkan demi mencari pengakuan eksistensial. Ironisnya, banyak remaja yang telah kehilangan rasa empati dan tidak lagi takut terhadap konsekuensi hukum maupun spiritual dari perbuatan mereka.
Akar Masalah Lingkungan dan Media
Fenomena kelam ini menunjukkan bahwa masalah kenakalan remaja saat ini tidak lahir begitu saja. Lingkungan pergaulan yang keras, budaya geng motor, lemahnya kontrol sosial di tengah masyarakat, minimnya pendidikan akhlak, serta pengaruh konten media sosial yang sering mempertontonkan kekerasan turut menjadi faktor hulu yang memperparah keadaan. Konflik kecil menjadi sangat mudah membesar karena diprovokasi oleh emosi sesaat dan dorongan ego untuk terlihat “kuat” di hadapan kelompoknya.
Oleh karena itu, peran orang tua sangat krusial dalam menanamkan akhlak, adab, serta rasa takut kepada Allah Swt. sejak dini di ranah domestik. Anak perlu dibimbing secara intensif agar mampu mengendalikan emosi, memilih lingkungan pergaulan yang sehat, serta memahami bahwa setiap perbuatan kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Sang Pencipta. Sistem pendidikan tidak boleh hanya berfokus pada capaian akademik dan prestasi duniawi semata, tetapi harus berorientasi pada pembentukan kepribadian peserta didik yang beriman dan berakhlak mulia.
Peran Negara dan Solusi Sistemis Islam
Namun, tanggung jawab besar ini tentu tidak bisa dibebankan kepada institusi keluarga semata. Negara memiliki peran dan kewajiban besar dalam menciptakan sistem pendidikan massal serta lingkungan sosial yang sehat. Negara semestinya tidak hanya mengejar kecerdasan intelektual penyerapan tenaga kerja, tetapi juga wajib memfasilitasi kurikulum pendidikan akhlak dan keimanan secara serius serta menyeluruh. Sebab, kerusakan moral generasi yang dibiarkan tanpa penanganan sistemis hanya akan melahirkan masyarakat yang mudah terjerumus pada kekerasan, kriminalitas, dan hilangnya rasa kemanusiaan.
Dalam perspektif Islam, penjagaan akhlak dan jaminan keamanan masyarakat merupakan tanggung jawab integral yang diatur secara menyeluruh (syamilan). Islam tidak hanya memberikan ketetapan tentang sistem sanksi hukum (uqubat) yang adil dan memberikan efek jera (zawajir) bagi pelaku kejahatan, tetapi juga membangun ketakwaan individu serta kontrol sosial masyarakat melalui aktivitas amar makruf nahi munkar.
Oleh karena itu, penerapan syariat Islam secara menyeluruh (kaffah) di bawah naungan institusi kepemimpinan yang amanah diyakini mampu menjadi solusi mendasar dalam menyelesaikan berbagai persoalan patologi sosial yang terus-menerus berulang di tengah masyarakat.
Wallahua’lam bish-shawab.

0 Komentar