RUPIAH MEROSOT, EKONOMI RAKYAT TERPEROSOK


Oleh: Saliyah
Penulis Lepas

Ketika kurs dolar menyentuh Rp17.600, masyarakat akan menghadapi gejolak ekonomi dan ancaman kenaikan biaya hidup. Kondisi ini berdampak pada naiknya harga bahan baku dan energi, yang membuat kebutuhan sehari-hari masyarakat ikut tertekan (BBC, 16/05/2026).

Melemahnya rupiah yang terus terjadi menunjukkan bahwa perekonomian Indonesia sangat rentan terhadap dinamika politik dan ekonomi global. Memanasnya konstelasi politik internasional, khususnya konflik antara AS dan Iran di kawasan Timur Tengah, memicu ketidakstabilan pasar global dan mendorong penguatan dolar AS. Ketergantungan ekonomi nasional terhadap sistem keuangan global membuat Indonesia mudah terkena imbas setiap kali terjadi gejolak internasional.


Dampak Riil di Tengah Masyarakat

Dampak melemahnya rupiah langsung dirasakan oleh nelayan dengan kenaikan harga solar hingga empat kali lipat, yang memicu aksi demonstrasi nelayan di Pati (Detik, 04/05/2026).

Begitu pula akibat himpitan ekonomi, banyak masyarakat akhirnya bergantung pada pinjaman online (pinjol). Sebagaimana dilaporkan Bisnis.com (03/03/2026), Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat total pinjaman online di Indonesia mencapai Rp98,54 triliun pada Januari 2026.


Respons Pemerintah dan Solusi Tambal Sulam

Di sisi lain, respons pemerintah menunjukkan ketidakpekaan terhadap realitas kehidupan masyarakat. Presiden Prabowo menilai bahwa masyarakat kecil, terutama di desa, tidak terlalu terdampak langsung oleh gejolak kurs dolar (Kompas, 16/05/2026).

Padahal, dampaknya jelas sudah dirasakan masyarakat melalui kenaikan harga kebutuhan pokok, transportasi, dan biaya produksi. Akibatnya, solusi yang diambil bersifat tambal sulam dan tidak menyelesaikan persoalan ekonomi rakyat. Bahkan, sejumlah kebijakan justru berpotensi memperburuk keadaan hingga masyarakat semakin bergantung pada utang untuk bertahan hidup.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Posting Komentar

0 Komentar