
Oleh: Aisyah
Muslimah Peduli Umat
Sejak Oktober 2023, pasukan militer Israel dilaporkan telah membunuh lebih dari 20.000 anak-anak di Gaza. Anak-anak yang selamat kini terpaksa hidup dalam trauma parah di bawah kondisi yang penuh dengan ketidakpastian dalam jangka waktu yang lama. Mereka terus mengkhawatirkan keselamatan nyawa sendiri, keluarga, teman-teman, serta orang-orang yang mereka kasihi. Rentetan faktor destruktif tersebut membuat tingkat stres melonjak tajam dan memberikan dampak luar biasa buruk bagi sistem saraf anak-anak.
Tidak ada satu pun anak di Gaza yang luput dari trauma. Saat ini, ada satu juta lebih anak yang telah mengalami trauma psikologis tingkat parah. Setiap anak merasakan kehilangan yang mendalam, mulai dari kehilangan anggota keluarga, teman sekolah, guru, hingga tetangga terdekat.
Selain itu, mereka juga kehilangan rasa aman sepenuhnya akibat skala kehancuran masif yang berdampak pada semua orang. Tidak ada satu pun anak di Gaza yang bisa tidur dengan kepastian bahwa mereka masih bisa terbangun dalam keadaan bernyawa keesokan harinya. Perang ini tidak hanya menyebabkan trauma psikis, melainkan juga merusak seluruh cara mereka memandang dunia. Salah satu dampak klinis dari trauma ekstrem ini adalah hilangnya kemampuan berbicara pada sebagian anak-anak Gaza.
Cerita sunyi yang dialami oleh anak-anak Gaza merupakan dampak langsung dari kejahatan entitas zionis yang terus menyerang, membunuh, dan menghancurkan bangunan kehidupan di sana. Skenario genosida terhadap rakyat Gaza sengaja dilakukan untuk menghancurkan ketahanan fisik dan mental generasi muda Palestina, yang sejatinya merupakan generasi pejuang masa depan.
Menghadirkan Perisai yang Hilang
Penderitaan anak-anak Gaza harus segera diakhiri. Mereka tidak sekadar membutuhkan terapi psikologis temporer, melainkan tanah air mereka harus dibebaskan secara total dari penjajahan zionis Israel. Hal yang paling dibutuhkan oleh anak-anak Gaza saat ini adalah pengerahan seluruh upaya dan kemampuan global untuk memberikan mereka sebuah kedamaian sejati, mengembalikan hak hidup mereka, serta memberikan ruang tinggal yang aman agar mereka memiliki masa depan yang layak.
Namun sayang, saat ini dunia internasional tampak tidak mampu menghentikan kejahatan entitas zionis. Para penguasa di negeri-negeri Muslim pun sebagian justru melakukan pengkhianatan politik terhadap urat nadi perjuangan muslim Palestina dengan memilih diam dan bermain aman. Realitas kelam ini terjadi karena umat Islam telah kehilangan perisai politiknya di dunia.
Oleh karena itu, kejahatan zionis yang berbasis militer harus dilawan dengan kekuatan yang sepadan, yaitu melalui syariat jihad fii sabilillah. Umat membutuhkan kehadiran sebuah institusi global yang memiliki otoritas untuk mengirimkan bala tentaranya guna membebaskan seluruh bumi Palestina. Institusi tersebut tidak lain adalah Khilafah Islamiyah.
Membangun kesadaran politik untuk memperjuangkan penegakan Khilafah Islamiyah menjadi agenda yang sangat mendesak bagi seluruh kaum muslim saat ini. Hanya melalui institusi kepemimpinan Islam inilah, umat muslim di seluruh dunia dapat dipersatukan kembali di bawah satu komando untuk menyudahi derita sunyi anak-anak Gaza secara tuntas.
Wallahua’lam bish-shawab.

0 Komentar